Kisah Akala: Dia, Heleza.

39 5 35
                                        

Langit pagi ini tampak cerah, secerah wajah para siswa yang baru saja menapaki hari Senin dengan semangat yang masih setengah hati. Bagi sebagian orang, Senin adalah musuh alami. Tapi bagi Akala, hari ini sedikit lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dia berhasil melewati akhir pekan tanpa bentakan, tanpa makian, dan yang paling penting—tanpa luka baru.

Langkahnya menyusuri gerbang SMA Garuda terasa lebih ringan meski tubuhnya masih menyimpan sisa-sisa trauma dari kejadian Jumat lalu. Luka di lengannya memang belum sepenuhnya sembuh, rasa sakit di perutnya belum benar-benar hilang, dan lebam di sudut matanya masih samar terlihat. Tapi Akala punya rencana. Dia mengenakan seragam lengan panjang meski cuaca cukup terik, dan menutupi sebagian wajahnya dengan masker. Setidaknya, itu cukup membuat orang-orang tak terlalu memperhatikan.

Beruntung, kejadian mengenaskan itu terjadi di hari Jumat, membuatnya bisa beristirahat di akhir pekan tanpa takut dimarahi karena tidak masuk sekolah. Dua hari tanpa teriakan, dua hari tanpa tekanan. Dua hari yang terasa seperti oksigen murni di paru-parunya. Dia menghabiskan waktu dengan membaca, menyendiri, dan memikirkan ulang segala hal yang terjadi. Pikirannya terus kembali ke mimpi aneh malam itu—dan wajah gadis di dalamnya.

Saat bel jam pertama nyaris berdentang, Akala melangkah santai ke arah perpustakaan. Tak ada yang istimewa dari pagi ini, pikirnya. Hanya deretan jam pelajaran yang menumpuk dan guru matematika yang entah kenapa selalu menganggap rumus sebagai candaan ringan.

Tiba-tiba— BRAK!

Tubuhnya sedikit terdorong ke belakang. Sesosok perempuan dengan tumpukan buku yang hampir setinggi dagunya menabraknya tanpa sengaja. Buku-buku itu pun berserakan di lantai, menyebar seperti puzzle yang meminta untuk disusun kembali.

"Maaf! Maaf banget! Aku nggak lihat," suara itu lembut, terburu-buru, namun menenangkan.

Akala segera jongkok, membantu memungut buku-buku yang terjatuh. Tangannya bersentuhan dengan tangan gadis itu. Hangat. seperti tangan yang mengusap kepalanya dalam mimpi tempo hari.

Mata mereka bertemu sesaat. Dan di detik itu, dunia seolah berhenti berputar.

Tatapan itu...

"Kamu... pernah ke toko aksesoris di Galaxy Mall, kan?" tanya Akala pelan, nyaris ragu.

Gadis itu terdiam sejenak, lalu tersenyum samar. "Kamu yang... waktu itu nanya soal liontin bentuk kepala unicorn?"

Akala tersenyum di balik maskernya. "Ternyata kita satu sekolah. Dunia kecil banget, ya. Waktu itu saya lagi cari hadiah untuk adik sahabat saya." Dia ragu sejenak, mematung sesaat membuat gadis itu ikut menunggu. tapi, kemudian mengulurkan tangan. "Ngomong-ngomong, saya Akala."

Gadis itu menatap tangan Akala, lalu menyambutnya. Sentuhan itu ringan tapi terasa penuh makna.

"Heleza. Namaku Heleza."

Akala mengulang namanya pelan. "Heleza... nama yang indah. Kayak suara hujan pas malam. Atau seperti... nama yang menenangkan badai."

Heleza tersenyum. Tawa kecilnya keluar tanpa disadari, suaranya seperti gemericik air di musim panas. Meneduhkan. Tapi ada keraguan samar dalam matanya, seolah Dia tidak terbiasa diperlakukan selembut itu.

"Kamu sering ngomong kayak gitu ke semua orang?" tanyanya setengah menggoda.

"Nggak. Cuma ke orang yang pernah muncul di mimpi aneh saya," jawab Akala cepat. Kemudian Dia tersipu. "Eh, maksudnya... lupakan. Itu cuma hal aneh." Heleza mengangguk di iringi senyum manis.

Mereka mulai berjalan beriringan. Tapi tatapan Heleza menelisik wajah Akala yang separuh tertutup masker.

"Kalau boleh tahu... kenapa pakai masker? Dan—maaf ya—di ujung mata kamu, itu lebam?"tanya nya sedikit berhati-hati. khawatir menyinggung perasaan Akala.

Kisah AkalaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang