Kisah Akala: Sunyi yang tak bisa di peluk.

39 5 9
                                        

Langit pagi belum sepenuhnya terang ketika Akala membuka matanya. Kabut tipis menyelip di antara celah-celah tirai krem yang menutupi jendela kamarnya, membiarkan sinar matahari menyusup samar-samar. Di luar, burung-burung belum sempat bernyanyi. Suasana masih lengang, nyaris beku. Tapi, ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Dada Akala terasa tidak seberat biasanya.

Bukan karena segalanya membaik. Bukan karena luka-luka itu sembuh. Tapi sejak pertemuannya dengan Heleza, tidurnya tak lagi dihantui mimpi-mimpi tentang Raden yang berdiri dengan sabuk di tangan, atau suara Aiyana yang menusuk seperti pisau dapur yang diasah setiap pagi. Entah bagaimana, ada sedikit ruang dalam pikirannya yang mulai diisi oleh sesuatu atau seseorang yang tidak membuatnya ingin bersembunyi di balik lemari setiap kali alarm berbunyi.

Dia menatap langit-langit kamarnya beberapa detik, mengatur napas. Biasanya, Dia bangun dengan perasaan ditarik oleh tangan tak kasat mata, dicengkram rasa bersalah, takut, dan... muak. Tapi pagi ini... ada sedikit kehangatan. Tipis. Hampir tak terasa. Tapi nyata. Kehadiran Heleza di hidupnya—meski sebentar, meski masih terasa asing—telah mengubah ritme yang selama ini hanya diisi teriakan dan tuntutan.

Tapi kehangatan itu segera pupus.

Begitu duduk, matanya menangkap sebuah berkas cokelat yang tergeletak di meja belajarnya. Dengan langkah pelan namun penuh waspada, Dia meraih amplop itu. Jari-jarinya sedikit gemetar saat menyobek sisi atasnya. Dia tahu isinya. Dia bahkan bisa menebaknya tanpa perlu membuka. Tapi tetap saja, sesuatu dalam dirinya memaksa untuk melihat.

Kertas demi kertas ditarik keluar. Di dalamnya: daftar kegiatan tambahan. Les privat, les bahasa asing, pelatihan debat, bimbingan alumni kampus ternama. Jadwal padat seperti labirin tanpa pintu keluar. Tak ada ruang untuk bernapas.

"Sialan," gumamnya pelan.

Kepalan tangan Akala menegang. Nafasnya mulai tidak beraturan. Dia memejamkan mata, menahan gejolak yang mulai membuncah. Urat-urat di pelipisnya berdenyut keras, seperti ingin keluar dari kulitnya.

Sudah cukup.

Kepalanya menunduk. Tangan gemetar memegang kertas yang mencantumkan agenda hidupnya, seolah dia bukan manusia, tapi proyek yang harus segera disempurnakan. Dia merasa jantungnya berdetak terlalu cepat, bukan karena gugup, tapi karena marah lebih tepatnya muak. Dia melempar berkas itu ke atas meja, hampir mengenai sebuah pot kecil di sudut.

Dengan napas terburu, Dia langsung masuk kamar mandi. Air dingin menyiram tubuhnya, tapi tak cukup untuk menenangkan kepala yang panas. Dengan tangan yang masih basah, Dia mengenakan seragam. Gerakannya cepat, terlatih oleh tahun-tahun penuh tekanan. menyisir rambut dengan acak, lalu mengambil berkas yang tadi sempat dibuang.

Kakinya melangkah cepat. Tangga besar yang memisahkan lantai dua dengan ruang makan tampak seperti panggung eksekusi. Setiap langkah menuruni tangga terasa berat, seperti mendekat ke medan perang. Tapi Akala tak lagi takut. Hari ini, dia bukan Akala yang diam. Bukan Akala yang tunduk. Bukan Akala yang membungkam luka.

Sesampainya di ruang makan, suasana sunyi menyambutnya seperti biasa. Meja panjang dengan taplak putih bersih dan vas berisi bunga palsu yang sama sejak tiga bulan lalu. tak ada sapa, hanya berselimuti sunyi.

Aiyana duduk di ujung meja, mengenakan blouse satin berwarna abu pucat. Rambutnya tersisir rapi, seperti biasa. Tangannya menggenggam cangkir teh putih dengan gerakan yang hampir teatrikal. Wajahnya datar. Matanya tidak bergerak sedikit pun meski anaknya sudah berdiri beberapa meter darinya.

Dengan keras, amplop itu Dia lempar ke atas meja, nyaris membuat cangkir teh berguncang.

"Apa maksud Mama ngasih ini?" tanya Akala, suaranya serak tapi tegas.

Kisah AkalaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang