Kisah Akala: Pelukkan Hangat.

49 5 24
                                        

Malam itu, langit seperti menyembunyikan sesuatu. Awan-awan menggumpal tanpa bintang, seolah takut ketahuan sedang menangis. Angin pun bergerak pelan, menyelinap lewat celah jendela dan menggigilkan kulit siapa pun yang disentuhnya. Namun dingin itu bukan hanya milik cuaca—Dia ikut menyusup ke dalam hati Akala, merambat melalui pori-pori, lalu bersarang di dada.

Rumah Alvero terasa begitu sunyi. Padahal ada tiga jiwa di dalamnya. Tapi entah kenapa, keheningan itu lebih keras dari teriakan. Seperti ada sesuatu yang tak kasat mata menekan ruang, menciptakan kesunyian yang nyaris menyakitkan. Jam berdetik, namun waktu seakan berjalan lambat, memaksa mereka duduk bersama dalam ketegangan yang tak bernama.

Akala duduk diam, membisu lebih dari satu jam. Jaket hitam kesayangannya tak banyak membantu. Tangannya dingin, seperti tidak dialiri darah. Wajahnya pucat, matanya kosong, dan senyumnya... menghilang entah ke mana. Dia terjebak dalam pikirannya sendiri, terkurung oleh ketakutan yang belum sempat diberi nama.

Sementara itu, Radian dan Alvero terus menunggu. Ada batas dalam kesabaran, tapi tidak dalam kepedulian. Maka meski waktu sudah terlalu lama berjalan tanpa kata, mereka tetap di situ. Menemani, meski tak tahu bagaimana caranya.

Hingga akhirnya, keheningan itu pecah saat sebuah suara mengalun.

"Mau sampai kapan kita diem terus?" tanya Radian, suaranya terdengar seperti tanya yang sudah dipendam sejak tadi.

Dia sebenarnya bisa langsung bertanya, tapi sejak pulang sekolah tadi, Akala lebih memilih memejamkan mata dan 'kabur' ke dunia mimpinya. Maka Radian dan Alvero pun membiarkannya, memilih melakukan hal lain agar Akala tak merasa terganggu.

Kalimat itu tak seberapa penting, tapi berat bagi Akala. Dia tahu, waktunya tak bisa lagi ditunda. Tapi dari mana harus memulai?

Akala menghela napas berat. "Bukannya kalian yang mau ngomong sama gue?" gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan yang takut didengar.

Alvero, yang sejak tadi hanya menatap, langsung menanggapinya dengan nada sengit. Amarah dan kepedulian bersatu, menyamar sebagai kekesalan. "Ngomong juga akhirnya. Gue kira bisu," sindirnya, berusaha menutupi kekhawatiran dengan nada tajam. Dia masih kesal karena sudah satu jam menunggu Akala bicara. Bahkan kakinya sampai keram karena terlalu lama duduk bersila. Dia meluruskan kedua kakinya dengan geram.

Akala memutar bola matanya, lelah dengan energi yang harus dihabiskan hanya untuk bicara. Namun, Dia tahu, kedua sahabatnya tidak akan berhenti sampai mereka mendengar kebenaran. padahal tadi katanya mereka yang mau 'interogasi', tapi sekarang malah dia yang disalahkan. Nggak jelas memang, pikirnya.

Radian akhirnya berdiri. Dia merasa harus mengambil alih sebelum emosi Alvero meledak lebih dulu. "Gue to the point aja. Jelasin. Lo kenapa, Kal?"

Akala memejamkan mata. pertanyaan itu sederhana. Tapi bagi Akala, pertanyaan itu seperti membuka luka lama yang belum sempat mengering. Dia menghela napas, mencoba mengurai perasaannya sendiri, tapi yang keluar hanya diam.

"Lo masih nggak mau cerita?" tanya Alvero, menangkap perubahan ekspresi Akala.

Radian duduk di sebelah Akala, lalu menepuk punggungnya dengan pelan.

"Kalau lo nggak cerita, gimana kita tahu?" lanjut Radian, kali ini lebih lembut. "Mungkin sekarang kita bisa kasih pertolongan pertama, tapi selanjutnya gimana?"

Akala menoleh, namun tatapannya kosong. Jauh. Matanya tampak seperti menyimpan laut yang siap pasang.

"Kalau gue cerita... apa kalian masih mau temenan sama gue?" tanyanya lirih.

Alvero dan Radian terdiam. Ada luka dalam pertanyaan itu. Bukan luka yang ditimbulkan, tapi luka yang disimpan Akala selama ini. Bagaimana mungkin dia mempertanyakan hal itu.

Kisah AkalaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang