Kisah Akala: Langit tak pernah adil.

40 3 0
                                        

Langit hari itu tak benar-benar biru. Ia menggantung seperti beban, menatap bumi dengan mata yang letih dan kejam. Di sebuah toilet yang sunyi, seorang anak lelaki berdiri di depan cermin, memandangi dirinya sendiri. Seragamnya rapi. Rambutnya sedikit berantakan. Namun, bukan penampilan itu yang membuat tangannya gemetar hebat, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari ketakutan yang membeku di dada.

Akala menatap refleksi dirinya. Matanya merah. Bukan karena kurang tidur, tapi karena berjuta kekhawatiran yang membanjiri batinnya semalaman. Hari ini adalah hari pengumuman Olimpiade nasional. seleksi yang selama ini menjadi ladang penuh duri yang harus dia lintasi dengan darah, air mata, dan luka yang tak pernah sempat mengering.

Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berhenti bergetar. Sebuah pesan baru masuk.

"Jangan berani pulang dengan dosa baru. saya tunggu hasil seleksi kamu"

Akala membaca pesan itu berulang-ulang, seperti sedang dihantam oleh palu ke tempat yang sama, berkali-kali, tanpa jeda. Dia tahu, kalimat itu bukan sekadar ancaman. Itu adalah ultimatum. oh bukan, itu merupakan sebuah hukuman. Atau lebih buruknya kutukan dari seorang ibu yang melihat anaknya sebagai beban, bukan anugerah.

Dengan tangan gemetar, Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menarik napas panjang. Kilas balik melintas seperti cuplikan film dalam kepalanya. saat Dia belajar di balik lampu yang remang, saat dia menahan lapar demi menyelesaikan latihan soal, saat dia memaksakan senyum di depan guru-guru dan teman-temannya. Semua itu... masa depannya... tak mungkin kan, kalau semua berakhir hari ini?

Langkahnya berat saat memasuki aula. Tapi dia menahan semua itu. Setidaknya untuk sekarang.

Suasana aula siang itu seperti medan perang sebelum peluru pertama ditembakkan. Suara berbisik-bisik, napas yang tertahan, tatapan penuh harap, dan jantung yang berdetak seperti gendang perang. Semua calon kandidat telah duduk di kursi masing-masing. Beberapa terlihat optimis. Beberapa lainnya seperti Akala, menyimpan guncangan dalam diam.

Pintu aula terbuka. Seorang guru melangkah masuk. Di tangannya, map biru yang tampak biasa saja, tapi bagi semua siswa, isinya lebih tajam dari sebilah pisau.

"Baik," kata sang guru sambil berdiri di podium. "Saya akan bacakan daftar nama siswa yang lolos seleksi tahap akhir olimpiade nasional."

Detik-detik berlalu. Nama-nama mulai dipanggil satu per satu. Beberapa siswa menjerit kecil kegirangan. Beberapa langsung berdoa. Akala mendengar semuanya dengan jantung yang semakin menghimpit.

Namun...

Satu... dua... lima... hingga sepuluh nama. Tidak ada nama Akala. Bahkan ketika daftar itu sudah habis dibacakan, namanya tak juga disebutkan.

Hening.

Seluruh isi aula seperti membeku.

Beberapa pasang mata menoleh ke arah Akala. Beberapa menatap iba. Beberapa lainnya, terutama satu wajah yang duduk di barisan depan menatapnya dengan senyum tipis yang menyebalkan. Tatapan itu seolah berbicara: Kamu bukan siapa-siapa, Akala.

Akala berdiri perlahan. Suaranya keluar serak, namun tegas.

"Maaf, Bu. Tadi sepertinya nama saya belum disebut. Apakah ada kesalahan?"

Sang guru menatapnya dengan raut bingung sejenak, lalu membuka kembali mapnya. "Tidak ada, Akala. Ini sudah sesuai hasil akhir dari panitia pusat."

"Tapi... saya memenuhi seluruh syarat. Bahkan saya termasuk yang tertinggi dalam seleksi internal sebelumnya," suara Akala mulai meninggi, diselimuti emosi dan kekecewaan yang menumpuk.

"Akala..." sahut guru itu lebih lembut, mencoba menenangkan, "Kami tahu kamu bekerja keras. Tapi hasil seleksi pusat tidak bisa diganggu gugat."

"Tidak bisa diganggu gugat? Apa saya tidak berhak tahu alasannya? Atau ini memang sudah diskenariokan sejak awal."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 27, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kisah AkalaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang