Selamat membaca
"Terima kasih pak atas restunya. Saya akan memenuhi permintaan Pak Baratha. Namun saya akan melakukannya ketika bayi itu sudah lahir. Saat ini saya tidak ingin membebani Marina dan saya mohon pak Baratha tidak menekan atau memaksa Marina." ucap Arya dengan tersenyum.
"Aku setuju denganmu. Kita harus menjaga kondisi Marina jangan sampai stress. Dan satu lagi yang harus kamu lakukan."
"Ada lagi pak?"
"Mulai sekarang panggil aku papa." ucap Baratha dengan tegas.
"Baik pa. Terima kasih." ucap Arya dengan tersenyum lega. Baratha tersenyum dan menepuk pundak calon menantunya itu.
"Selamat Arya. Atas keberhasilanmu mengambil alih kembali Sadhana Farma. Papamu pasti bangga padamu." ucap Baratha.
"Terima kasih pa." ucap Arya dengan senyum hangatnya.
Baratha menghembuskan napas beratnya.
"Arya. Kamu pastinya juga sudah tahu kan jika Marina memiliki kekuatan supranatural."
"Iya pa. Marina sudah menceritakan semuanya pada saya belum lama ini." sahut Arya.
"Kemampuan yang dimiliki oleh beberapa keturunan Wiratha merupakan perantara bagi manusia dan alam. Kekuatan itu akan terus menjadi berkat bagi keluarga Wiratha jika berada pada tangan yang benar." ucap Baratha yang tampak tidak ragu mengatakan asal kekuatan yang dimiliki leluhurnya.
"Selama ini secara turun temurun kekuatan itu hampir tidak pernah digunakan. Namun ayahku yang menjadi salah satu penerima kekuatan itu sudah menyalahgunakannya. Ia menyerahkan kekuatannya pada iblis sebagai ganti nyawanya. Sejak kecelakaan yang ia alami 20 tahun yang lalu, ayahku yang pulang dalam keadaan selamat setelah kecelakaan itu, menjadi berubah, seolah bukan dirinya sendiri. Dari situlah aku mengetahui ada yang salah dan kemudian aku tau penyebabnya." kemarahan tampak jelas di raut wajah calon mertuanya itu. Arya mendengarkan dengan seksama.
"Namun kami anak anaknya tidak memiliki kekuatan itu untuk menghentikan perilaku ayahku. Hingga akhirnya ayahku menunjukkan kebengisannya ketika istriku hamil anak yang ketujuh. Aku marah pada diriku sendiri karena tidak bisa melindungi istriku. Aku kehilangan hatiku setelah kepergian wanita yang aku cintai. Marina menjadi pelampiasan amarahku. Aku telah memperlakukan Marina dengan kejam, seakan dia bukan darah dagingku." Arya memperhatikan Baratha yang meremas tangan dengan rasa kesal. Arya juga merasa sakit mendengar perlakuan Baratha kepada Marina. Namun Arya terus mendengarkan tanpa memotong pembicaraan. Walaupun dalam hatinya, ia ingin sekali memarahi calon mertuanya ini.
"Ibuku yang penuh perhatian selalu melindungi Marina, ia memberikan batu sihir yang tadinya milik ayahku untuk menekan kekuatan Marina agar tidak menjadi ancaman bagi jin yang berada di dalam tubuh ayahku. Hanya ibuku yang bisa membuat roh ayahku tetap kuat dan bisa mengendalikan jin yang setiap saat bertarung di dalam tubuh renta itu. Untuk keselamatan Marina, ibuku kemudian menitipkan Marina pada Wicak." ucap Baratha dengan tatapan terluka
Kini Arya telah mengetahui cerita sebenarnya. Arya menepuk bahu dan sesekali mengusap punggung calon papa mertuanya itu untuk menenangkannya. Arya tidak mau jika papanya Marina kembali terkena serangan jantung karena tekanan rasa bersalah.
"Papa jangan kuatir. Saya akan berusaha membuat Marina aman dan nyaman seumur hidup disisi saya." ucap Arya.
"Iya aku rasa aku kini bisa lega karena yang akan mendampingi Marina adalah kamu."
"Terima kasih atas kepercayaan papa pada saya."
"Pulanglah, Marina pasti sudah menantimu."
"Iya pa. jaga kesehatan papa baik - baik dan segeralah pulang ke rumah berkumpul dengan anak dan cucu papa. Pasti mereka merindukan kehadiran papa ditengah tengah mereka." ucap Arya.
"Oke. hati - hati djalan Arya." Baratha memeluk Arya dan menepuk punggung calon menantunya itu.
.....
Marina memandang Arya yang sedang menyetir, dengan tenang. Alunan musik klasik karya Mozart turut mengiringi perjalanan mereka kembali ke rumah. Marina penasaran dengan sikap Arya yang terlalu santai sebagai seseorang yang baru saja bertemu calon mertua. Saat tadi menjemput Marina di ruangan Christie, Arya tampak hanya tersenyum penuh misteri. Tentu saja Marina juga penasaran dengan apa yang mereka berdua bicarakan. Arya hanya mengatakan kondisi papa sudah semakin membaik dan kemungkinan dua hari lagi akan pulang.
"Papa bilang apa aja mas?" tanya Marina.
"Ga ada sesuatu hal yang perlu kamu kuatirkan. Yang jelas papamu udah merestui hubungan kita dan secepatnya kita akan melangsungkan pernikahan." ucap Arya sambil mengelus punggung tangan Marina kemudian menggenggamnya.
"Beneran mas hanya itu aja? Gak pake perdebatan gitu? Papaku kan galak mas." ucap Marina
"Engga ada apa - apa sayang. Semuanya berjalan lancar dan kami berbincang akrab kok. Percaya deh sama mas." ucap Arya kemudian mencium punggung Marina dan sekilas membalas tatapan Marina, kemudian Arya kembali fokus menyetir.
"Okelah kalo mas udah yakin gitu. Kita mampir butiknya Nala ya mas. Katanya dia udah selesai bikinin gaun pengantinku ama tuksedomu." ucap Marina.
"Siapa madam." ucap Arya dengan tersenyum lebar.
Arya menepikan mobilnya ketika sudah tiba di butik milik Nala. Ia kemudian merangkul pinggang Nala dengan posesif saat memasuki gedung berlantai 3 tersebut. Suasana butik tampak ramai seperti biasa. Arya dan Marina langsung masuk ke dalam ruangan Nala.
"Akhirnya datang juga nih. udah aku tunggu dari kemarin." ucap Nala yang kemudian berdiri dari kursinya dan menyambut Marina dengan pelukan hangat.
"Maaf La, aku baru bisa datang." ucap Marina.
"Its okey Rin. Mas Arya, selamat ya. Maaf aku kemarin gak bisa datang di gala dinner, aku meeting sampe malam dan mesti urus persiapan buat fashion week sabtu ini." ucap Nala mempersilakan mereka berdua duduk.
Nala kemudian membuka sebuah tirai seperti penyekat untuk ruangannya. Dan dari balik tirai tersebut tampaklah gaun pengantin berwarna putih keperakan dengan list berlian yang tampak kerlap kerlip terkena pantulan sinar matahari. Di samping gaun cantik itu juga telah dipajang set tuxedo berwarna perak dengan list hitam keabuan, dan juga dihiasi dengan kancing manset yang diberi berlian yang sama dengan yang terjahit di gaun pengantin Marina.
"Apa konsep gaun ini? The Swan kah?" tanya Marina dengan takjub.
"Iyap bener banget. Wah Marina kamu sangat pandai menebak." ucap Nala sambil bertepuk tangan
"Kenapa The Swan?" tanya Arya.
"Marina hanya mengatakan kalo dia ingin memakai gaun yang bisa mendeskripsikan dirinya. Dan aku langsung terbayang konsep ini. Itik buruk rupa yang ternyata adalah angsa" ucap Nala sambil terkekeh.
"Nala!" hardik Arya seolah memperingatkan.
"Hei jangan salah paham. Maksudku dia adalah penyamar yang ulung. Siapa sangka dia adalah seorang keturunan Wiratha." ucap Nala dan Arya kemudian mengangguk setuju.
"Ayo Nala, bantu aku untuk memakainya." ucap Marina dengan tidak sabar.
"Nala, jangan membuat kancing atau risliting yang susah dilepas ya." ujar Arya sambil terkekeh.
"Apa perlu aku kirimkan tutorialnya kak?" ucap Nala dengan meledek, sebelum ia menutup tirai.
Arya duduk dengan santai disofa, sambil menunggu Marina mencoba gaun.
..... BERSAMBUNG .....
PUBLISH : 03 10 22
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Let Go [Completed]
RomanceArya menjalin hubungan asmara dengan Marina personal asistennya. Namun ada hal yang tidak ia ketahui dari kekasihnya. Arya mengira selama ini Marina berasal dari keluarga biasa saja. Namun saat Marina menghilang, Arya mulai mengetahui latar bekakang...
![Never Let Go [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/302266050-64-k715388.jpg)