~ 4 ~

804 72 9
                                        

Selamat membaca dan kasih vote komen ya

Arya termenung di dalam mobil yang tengah melaju mengarah ke kantornya. Fery yang sedang menyetir, sesekali melirik ke arah spion tengah dan melihat atasannya yang tampak bingung. Setelah atasannya itu berpamitan dengan pemilik perusahaan Sadhana Medicine, bosnya itu tidak berkata sepatah katapun. Hanya anggukan dan gelengan yang dilakukan untuk merespon pertanyaan dari Fery.

Semenjak ayahnya meninggal dunia, Arya sudah memutuskan untuk tidak mewarisi perusahaan ayahnya. Arya membiarkan adik angkat dari ayahnya untuk mengambil alih. Ia tidak tertarik untuk mengambil alih kembali perusahaan itu.

"Pak Arya. Kita sudah sampai." ucapan Fery membuyarkan lamunan Arya. Ia menoleh dan melihat Fery yang sudah berdiri di sisi mobil untuk membukakan pintu.

Arya menatap gedung kantornya dari bawah hingga ke atas. Gedung 30 tingkat yang ia beli untuk kantornya ini adalah hasil jerih payahnya sendiri. Arya berjalan memasuki kantornya sambil mengingat usaha keras yang ia lakukan bersama dengan adiknya. 

Arya tersenyum saat mengingat tentang adiknya, Sita. Ya mungkin Sita yang bisa ia minta bantuan untuk mengambil alih perusahaan ayah mereka.

Arya meraih handphonenya dan hendak menghubungi nomor Sita, namun ia urungkan mengingat adiknya itu sedang menikmati masa bulan madunya. Arya kembali memasukkan telponnya ke dalam saku jas. Bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Arya melenggang dengan santai masuk ke dalam lift dan menuju ke ruang kerjanya.

Martin berdiri dari tempat duduknya saat melihat Arya yang sudah kembali. Ia mengikuti Arya, sambil membawa beberapa dokumen. Kemudian meletakkannya di meja Arya.

"Hari ini ulang tahun Aisyah putrimu kan? Pulanglah lebih awal." ucap Arya sambil menandatangani dokumen.

"Terima kasih pak. Tapi dokumen ini belum selesai untuk ditandatangani oleh Bapak." ucap Martin.

"Biar mereka ambil sendiri kesini. Dah sana pergi, udah sore, tar kemalaman."

"Baik pak Arya terima kasih banyak." ucap Martin sambil tersenyum. Arya mengangguk kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.

Arya menghela napas dan melihat ke arah luar jendela. Langit telah berwarna jingga. Arya meraih ponselnya dan kembali menghubungi Marina, dan hasilnya masih sama, nomornya tidak aktif.

Kembali meletakkan ponselnya dan kembali berusaha fokus pada pekerjaan yang harus segera ia selesaikan.

Arya berdecak sebal kala menemukan beberapa anggaran yang tidak sesuai. Arya lantas mulai mencorat coret angka angka dibeberapa bagian pengeluaran dan menuliskan beberapa catatan.

Arya meraih telepon di meja dan mulai memencet nomor divisi desain software.

"Avila. Keruangan saya. Oya sekalian panggil Hafiz dan Ruli. Kalian bertiga keruangan saya sekarang." ucap Arya. Mereka yang dipanggil oleh Arya adalah orang orang yang menjabat sebagai kepala divisi.

Saat ketiganya masuk ke dalam ruangan Arya, Arya langsung memberi kode kepada mereka untuk duduk di sofa.

Arya meraih 3 dokumen proposal yang ada di mejanya. Dan duduk pada salah satu sofa. Ia menatap tajam ketiga orang dihadapannya yang saling bertatapan dengan salah tingkah.

"Hafiz dan Ruli, ini proposal divisi kalian sudah aku cek semua dan sudah sesuai. Kalian berdua bisa kembali ke ruangan."

"Baik pak Arya, terima kasih. Kami akan kembali ke ruangan." ucap Ruli. Arya hanya mengangguk.

"Avila. Tim anda bisa dapat biaya sebesar ini tuh survei dimana? Anda coba cek proposal kemarin. Kan sudah saya minta revisi, kenapa anda ulang lagi? Anda kira saya gak bakal ingat? Sebelum sampai kepada saya, seharusnya anda sebagai ketua tim Divisi sudah melakukan koreksi."

Never Let Go [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang