~ 15 ~

634 52 10
                                        

Selamat membaca

Arya tertegun menatap ponselnya. Berusaha mencerna pembicaraan singkatnya dengan ayah mertua. Terselip firasat aneh karena ucapan ayah mertuanya itu.

Tatapan Arya beralih ke pintu kamar mandi saat ada suara pintu terbuka. Arya memandang Marina istrinya, kebimbangan meliputi hatinya.

"Ada apa mas? Are you fine?" tanya Marina sambil menangkup wajah suaminya yang nampak sedikit pucat.

Arya tersenyum dan memeluk Marina.

"Nothing."

"Apa yang kamu sembunyiin mas?"

"I dont know how to tell you. Just listen to me and dont be mad, ok?" ucap Arya kemudian melepaskan pelukannya. Arya menarik Marina hingga terduduk dalam pangkuannya. Arya kemudian memeluk perut Marina dan meletakkan dagunga di bahu Marina.

"Hem.. I'll try." ucap Marina mengangguk.

"Ada keinginan dari papa untuk memberikan nama keluarga Wiratha pada anak kita. Dia merasa bersalah selama ini karena tidak bisa melindungimu, dia ingin menebusnya melalui anak kita. Dan aku hanya menjawab, akan mencoba membicarakan denganmu setelah anak kita lahir."

"Itu sebabnya kamu tampak mencurigakan. Rupanya selama ini ada yang kamu sembunyikan. Lalu apa lagi?" tanya Marina dengan ekspresi datarnya. Arya mulai ragu untuk melanjutkan ceritanya tetapi ia harus menyelesaikannya jika tidak ingin Marina membencinya.

"Marina. Lebih baik kamu menelpon papamu. Aku merasa ada yang aneh dengan beliau." ucap Arya.

"Kenapa mas?"

"Barusan papa telpon tapi cara bicaranya aneh. Dia seolah panik." ucap Arya.

"Dia bilang apa?"

"Dia membatalkan keinginannya itu dan mengembalikannya padaku." ucap Arya.

"Apa alasannya?"

"Aku belum sempat menjawab, tetapi papa sudah menutup telepon. Itu yang membuat aku bingung."

Marina meraih ponsel dan menghubungi nomor papanya. Tetapi tidak ada jawaban. Marina memutuskan untuk menghubungi Wilmar. Namun juga tidak ada jawaban.

.....

Suasana duka meliputi kediaman Baratha Dana Wiratha, di komplek perumahan keluarga Wiratha. Hanya suara langkah kaki berlalu lalang dan bisik bisik dari mereka yang terkadang terdengar.

Marina berada dalam dekapan Arya, duduk termenung menatap sebuah foto yang dibingkai demgan hiasan kuntum mawar disisinya. Di depannya terdapat sebuah peti mati. Di dalam peti itu terbaring jasad Baratha yang telah tiada.

Belum ada 24 jam Marina berpisah dengan papanya, saat ia mendengar telepon dari kakaknya jika papa mereka telah tiada. Baru empat bulan yang lalu kakeknya tiada, kini kediaman Wiratha kembali berduka.

"Marina. Kamu istirahat saja ya. Ada calon bayi yang harus kamu perhatikan." ucap Kartika dengan lembut pada adiknya itu.

"Gak apa kak sebentar lagi. Aku pengen antar papa ke makam."

"Iya kamu istirahat di dalam. Kalau sudah waktunya, aku akan kasih tau. Arya, bawa Marina ke kamar." ucap Kartika yang mulai sedikit memaksa.

"Iya kak." sahut Arya kemudian merangkul bahu Marina.

Marina akhirnya mengalah dan mengikuti Arya masuk ke kamar.

"Aku istirahat disini, mas bisa tetap di luar untuk menerima pelayat." ucap Marina.

"Aku akan segera kembali." ucap Arya kemudian mencium puncak kepala Marina dan juga mengelus perut Marina.

.....

Never Let Go [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang