"ngga gue gamau, lo kan punya pacar! lagi pula ngpain nikah sama orang yang gak dicintai" jawab ashel
"loh, kamu pikir saya gak mikirin hal itu? kamu mau kan lihat papi kamu sembuh dari penyakitnya. gausah bantah! ikuti apa kata saya" tegas adel
"masalahnya gue gak siap nikah. mau secara mental ataupun fisik gue belum siap" ucap ashel
"lagi pula apa yang lu harapin dari anak umur 18 taun ini?" sambungnya
"gak siap secara fisik? kamu udh lewat masa puber kan? ashel.. kamu itu cuma perlu nikah sama saya, saya gak akan bebani urusan rumah tangga sama kamu. lagi pula di rumah saya udah ada ART." jelas adel panjang
"ya tapi pak dokter... gue kan masih muda, masih punya cita - cita, temen temen gue semuanya masuk universitas, masa gue nikah? enggak enggak pokoknya itu ga akan pernah terjadi" bantah ashel dengan menekan kata pak dokter.
"kamu mau membantah sekeras apapun hasilnya tetap sama, saya bakal nikahin kamu titik! ga ada penolakan lagi" ucap adel
ashel menghela nafasnya kasar, berdebat dengan pria yang baru dia kenal tadi pagi itu memang tidak akan ada ujungnya.
adel menatap datar gadis cantik yang ada di hadapannya itu.
"bibir kamu kelihatannya kering, kamu mau-" ucap adel terpotong
"gue gak mau, lo jangan macem - macem ya sama gue" potong ashel
"kamu kenapa? macem - macem gimana? orang saya mau nawarin kamu makan di luar" ucap adel
"wah saya tau apa yang ada di pikiran kamu" sambungnya tersenyum jahil
"ohh mau ngajak makan, gue kira lo..." ucap ashel malu karna salah paham
"saya tadi di kasih tau sama mami kamu, kalau seharian ini kamu gak mau makan. pantas aja kamu pucat begitu" ucap adel
"sekarang mau makan di luar atau saya pesen makan yang bisa delivery order?" lanjutnya
"gue baru kenal sama lo, apa gak aneh kalau tiba tiba makan berdua di luar?" tanya ashel
"ya udah kalau gamau" ucap adel lalu dia merogoh saku celana nya dan mengeluarkan sesuatu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
cr: pinterset
"ini kartu kredit buat kamu, kamu boleh pake buat apa aja" sambungnya.
"kenapa buat gue?" tanya ashel.
"ya pake aja, itu fasilitas dari saya karna kmu sekrang calon istri saya" ucap adel
"syaratnya cuman satu, kamu jangan kencan sama orang lain. inget itu" sambung adel
semua terjadi begitu saja, ashel hingung menghadapi pria itu. ia merasa kehidupannya berubah seketika menjadi seperi melo drama.
adel menarik tangan ashel lalu memberikan black card itu
"ingat kan syaratnya apa? saya pamit pulang ya, besok saya kesini lagi" ucap adel lalu berjalan pergi
"tapi gue gak bisa nerima ini" ucap ashel sedikit berteriak.
namun adel mengacuhkanny, dia tidak perduli dengan teriakan gadis itu.
malam harinya....
sedan hitam mewah milik Rava Adelio Hapsari melesat dengan gagah, membelah udara malam yang dingin. pria dingin itu sepertinya baru saja menelpon seseorang.
"kamu dimana sekarang? kita harus ketemu. ada yang mau aku bicarain. penting!" ucapnya pada seseorang melalui telepon.
"..........."
"oke aku kesana sekarang. tunggu jangan kemana mana" ucap nya
adel memarkirkan mobilny di pinggir jalan, ia menghampiri seorang wanita cantik berambut panjang.
wanita cantik itu tersenyum dan langsung memeluk adel saat adel menghampirinya.
namun berbeda dengan adel dia tak membalas pelukan hangat wanita itu.
"kamu tumben ngajak aku ketemu? kangen ya sama aku?" tanya muthe yang tak lain pacar adel saat ini.
"iya aku kangen sama kamu, tapi muth aku minta maaf. hubungan kita cukup sampai sini aja." ucap adel.
"jangan bilang ini karena perjodohan itu? karena kamu di jodohin sama anak perempuan yang umurnya belasan tahun. adel kamu gila ya?!" tanya muthe meninggikan suaranya.
"iya, aku cuma mau nurutin wasiat mendiang papah. aku tau ini sakit buat kamu, tapi tolong muth ikhlasin aku untuk menikah sama dia" ucap adel mohon adel
"del, aku beneran gak ngerti sama pola pikir kamu. dulu kita pernah bhas ini dan kamu bilang kamu bakal berontak kalo mamah kamu maksa buat nepatin wasiat itu. tapi mana buktinya rava?" ucap muthe pelan
"muth, percuma. kalo pun kita mau pertahanin hubungan kita, kita ga akan pernah bisa sampe ke jenjang pernikahan" ucap adel
"oke, fine. kalo itu mau kamu, tapi stelah ninggalin aku jangan pernah ksmu muncul lagi di hadapan aku! brengsek!" makinya terus menampar pipi adel.
"iya aku janji" ucap adel berlalu dari hadapan wanita yang kini menjadi mantan kekasihnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
cr: pinterest
adel sudah pulang kerumahnya, pria itu duduk di tepi ranjang miliknya sambil membaca ulang surat wasiat peninggalan papahnya.
"Rava Adelio Hapsari anak semata wayang papah, jika papah sudah tiada. tolong laksanakan janji ini nak, dahulu sebelum kamu lahir papah sama mamah janji akan membalas budi keluarga besar Khaulah.
kamu mau tau alasannya apa? alasannya karena dulu sewaktu mamah kamu susah untuk mendapat keturunan, keluarga kaulah bersedia membiayai mamah kamu untuk melakukan prosedur bayi tabung. setelah itu mamah kamu mengandung nak
gak berhenti sampai situ, keluarga mereka juga membantu ayah dalam mendirikan rumah sakit yang mungkin saat ini menjadi tempat kamu bekerja. suatu saat jika mereka tertimpa masalah kamu harus menolong mereka
dan nikahilah putri bungsu keluarga khaulah saat usiamu telah mencapai 25 tahun. mungkin ini memberatkan mu, tetapi ini lah janji yang harus di ptepati. jika kamu belum mencintai gadis itu, maka mulailah membuka hati untuknya"
isi surat wasiat peninggalan papah adel yaitu tuan Jinan Hapsari.
adel menghela nafasnya, kemudian meletakan surat wasiat itu ke tempat semula. ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit langit kamarnya.
"pah, sbenernya ini berat buat Rava. tapi karena ini permintaan papah rava akan berusaha melakukannya sebaik mungkin. tapi kalo nanti rava gak sanggup menghadapi gadis muda itu, rava minta maaf." monolognya
"rava akan berusaha semampu rava, walaupun terkesan memaksakan kehendak rava cuma pengen gadis itu dan keluarganya hidup dengan baik" sambungnya