malam itu adel jujur dan mulai terbuka pada ashel, tentang barang apa saja pemberian dari muthe yang masih dia simpan.
di hari minggu dia menghabiskan waktunya untuk mengobrak - abrik closet room miliknya, pria itu terlihat kelelahan saat menghadapi jejeran pakaian mahal miliknya
adel mengambil sebuah jaket, kemeja dan jas miliknya, lalu menoleh kearah ashel yang wajahnya sudah sangat datar dan hilang ekspresi
beberapa pakaian itu dia taruh begitu saja di atas meja. adel menghentikan aktivitasnya dan menghampiri istrinya yang terduduk dengan melipat kedua tangannya
adel mengusap pelan kepala ashel setelah itu dia memegang tangannya kemudian mengatakan sesuatu
"kamu kan udah janji sama aku kalau aku jujur, kamu ga akan marah" ucap adel
ashel diam, tidak menggubris sepatah kata pun perkataan adel
"kamu emang gak keliatan marah shel, tapi jangan kaya gini" sambung adel
"kenapa baru jujur sekarang? kenapa ga dari dulu?" balas ashel
"aku emang males ngebahas hal - hal kaya gini sbenernya, karena aku tau pasti ujung - ujungnya bakalan runyam kaya gini" ucap adel
"lebih runyam lagi kalo kamu nge rahasiain ini sama aku sampai kita punya anak nanti del, kalo aku gak nemu foto itu mungkin kamu akan tetep diem" ucap ashel
"siapa bilang? aku bakal tetep kasiu tau kamu yany sebenernya tapi aku nunggu waktu yang tepat" ucap adel enggan mau kalah
"waktu yang tepat gimana? nunggu perasaan aku ke kamu makin besar? gitu?" ucap ashel
adel mengusap kasar wajahnya
"dengerin aku dulu, sebenernya aku nyimpen barang - barang itu karna cuma menghargai pemberiannya aja" jelas adel
"kamu menghargai pemberian orang lain, tapi kamu gak menghargai perasaan istri kamu sendiri del" tegas ashel
"bukan, bukan gitu maksud aku"
"ashel aku hargain perasaan kamu, aku nyimpen barang itu karna aku tau perjuangan buat beli itu barang gak mudah" sambungnya
"sekarang aku minta kamu buang barang - barang itu!" tegas ashel
"oke, karna kamu istri aku kamu punya hak untuk minta aku lakuin hal itu, aku akan buang semuanya" ucap adel pasrah
adel membawa dua dus besar lalu membanting semua barang pemberian muthe ke dalam dus itu.
adel melirik ashel sebentar lalu keluar dari ruangan itu sambil menyeret dus tersebut
sedangkan ashel dia diam seribu bahasa lalu pergi dari sana
•••
adel sedang menelpon petugas kebersihan untuk mengangkut semua barang itu keluar dari unit miliknya, sedangkan ashel terlihat berjalan keluar kamar sambil membawa tas miliknya.
adel kaget, tangan kanannya sibuk memegang ponsel sementara tangan kirinya menarik tangan ashel mencegahnya pergi.
"kamu mau kemana?" tanya adel
"pulang" jawab ashel singkat
"pulang kemana? ini kan tempat tinggal kamu" bingung adel
"aku mau pulang kerumah mommy" lirih ashel
"aku minta maaf... tolong maafin aku, kamu bebas marahin aku tapi tolong jangan gini" ucap adel memohon
"buat apa bertahan sama orang yang belum slesai sama masalalunya" ucap ashel
adel dengan tenaganya mencegah ashel yang tengah memberontak. dia tidak mengizinkan ashel meninggalkan tempar tinggal mereka.
"EGOIS! KAMU EGOIS DEL" teriaknya
"ashel semua masalah bisa di slesaikan secara baik - baik"
"kalo kamu pulang malem malem gini, mommy pasti bakal tau kalo kita berantem" sambungnya
"gapapa biar mommy tau gimana kelakuan mantu kesayangannya ini" ucap ashel
"selama ini kan dimata mommy kamu baik gak terlihat jahat sama sekali" sambungnya
ashel hendak kabur lagi dari hadapan adel, tapi lagi lagi adel berhasil mencegahnya.
"kamu ngapain kabur? aku masih mampu anterin kamu kerumah mommy. lagi pula laki - laki mana yang ngizinin istrinya berkeliaran sendirian" ucap adel
ashel diam, dari tadi dia enggan menatap wajah suaminya itu.
adel menghela nafasnya lalu menelpon kembali petugas kebersihan
"maaf sepertinya saya gak jadi menggunakan jasa petugas kebersihan malam ini, silahkan datang besok pagi" singkatnya
adel mengambil kunci mobil lalu menarik ashel keluar dari apart miliknya.
tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Husband Is A Doctor
Novela Juvenilsiap gak siap kamu harus menikah sama saya. -A gak gue gak mau. -A
