Arkana and His Problem
Karya: REi
🌱🌱🌱
Aina dan Dania sudah mempunyai skuter masing-masing, jadi mereka jarang pergi ke sekolah bersamaan. Seringnya, Dania yang lebih dulu berangkat.
Pagi ini, tatkala Aina mengendarai skuternya, dia melihat sosok laki-laki yang mendorong motornya. Laki-laki itu adalah Arkana, teman sekelasnya.
"Kana! Motor kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa? Itu bannya kempes." Aina terkejut dengan jawaban Kana. Bagaimana bisa dia mengatakan tidak apa-apa?
"Sudah tahu jawabannya, kenapa harus bertanya?" sungutnya.
Mendapat jawaban yang menyebalkan, Aina mencoba menggoda Kana, "Aina duluan, ya! Bye-bye!"
Kana yang sudah kesal karena ban motornya kempes, ditambah lagi, godaan dari Aina itu membuat emosinya memuncak. "Astaga! Kamu tidak berniat membantuku, Aina?!"
"Habisnya, kamu jawabnya ketus begitu!" Aina juga ikut berseru, seperti tak mau kalah.
"Depan ada bengkel Paman G, Aina tunggu di sana, terus nanti kamu pergi ke sekolah bareng Aina naik skuter ini," usul Aina kepada Kana.
"Paman G!" Aina menyapa Paman G. Dia sudah sampai di bengkel milik Paman G-Ayah Ahessa.
"E-eh, Aina? Kenapa mampir di bengkel? Skuternya ada yang bermasalah?" tanya Paman G. Matanya melirik Aina. Namun, tangannya tidak.
"Tidak, Paman. Aina sedang menunggu Kana, ban motornya kempes."
"Oh, seperti itu. Aina mau teh?" tawar Paman G.
Bengkel G memang selalu menyuguhkan teh herbal untuk pelanggannya.
"Aina tidak suka teh herbal, Paman," balasnya malu-malu.
"Yah, maaf, di sini Paman tidak menyediakan selain teh."
"Tidak apa-apa, Paman. Aina sudah bawa minum sendiri."
Bel masuk telah berbunyi sepuluh menit yang lalu, tetapi Aina dan Kana baru terlihat batang hidungnya. Dania pun lega, karena meskipun mereka terlambat masuk kelas, belum ada pengajar yang datang sehingga hukuman mereka tidak akan _double._
Kana menyapa Dania sembari ia meletakkan ransel di bangkunya, _"Annyeong, Dania!"_
Dania merespon dengan gerakan tangannya. Kemudian ia mulai bertanya, "Kana, tumben kamu terlambat. Ada apa?"
_"It's fine, Dania._ Hanya ada sedikit penghambat," balas Kana dengan tidak menceritakan secara detail.
Lalu, sewaktu pulang sekolah, di tempat parkir Juki merasa penasaran. Dia menyipitkan matanya saat melihat seseorang yang tidak asing duduk di skuter milik Aina.
"Aina, kenapa kamu bisa bersama Kana?" tanyanya setelah menghampiri mereka.
Aina menjawab rasa penasaran Juki, "Motor Kana sedang bermasalah."
"Kana biar pulang sama aku saja!" Juki mengusulkan agar Kana pulang bersamanya. Juki tidak rela jika Kana berduaan dengan Aina. Dia cemburu.
"Dengan Aina saja. Tujuan kita juga searah."
"Aku dan Kana suka muter-muter, Aina."
_"Okay then!"_ Ucapan final dari Aina.
_"Let's go!"_ ajak Juki kepada keduanya.
"Kalian pergi dulu saja, Aina masih ada titipan dari _appa."_
Juki melajukan motornya dengan gas _full_ dan Kana yang belum siap itu hampir saja terjungkal karena kecerobohan Juki.
"Kamu kalau menyetir yang benar, Juki!" tegur Kana dengan menggeplak kepala yang tertutupi helm itu.
Jika biasanya orang berpegangan di pinggang atau sejenisnya. Maka tidak dengan Kana, dia berpegangan pada leher Juki.
"Ini kamu mau menyekik aku?" sindir Juki yang merasa tidak nyaman.
Kana juga takut karena Juki mengendarai motornya dengan ugal-ugalan, sampai-sampai banyak bunyi klakson yang ditujukan pada mereka.
Makanya, ia berpegangan pada leher Juki, apabila terjadi apa-apa, keduanya bisa merasakan bersama-sama. Itulah yang ada di pikiran Kana.
Lesehan, 25 September 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Renjana dalam Aksara
Fiksi Remaja"Hanya secangkir frasa dalam asa yang kian meredup." -JEJAK AKSARA SENJA- *** Hallo, hai. MinJAS bawa karya anak-anaknya, nih. Buat kamu yang suka dengan puisi, cerpen, quotes kamu bisa nih baca ini. Bisa juga dijadiin referensi, loh, buat yang la...
