HappyReading 💌
Mia mulai menjauh, Ia tau ini sedikit berlebihan tapi Mia lelah atas Keynan yang terus ikut campur dalam setiap langkahnya.
Mia tau kalau Keynan peduli, ingin melindungi Mia sepenuhnya tapi bukan begini cara yang tepat.
Apa tidak bisa Keynan percaya sedikit saja kepada Mia dan membiarkan gadis itu menerima konsekuensi atas keputusannya sendiri? Lagipula Mia main crushify bukan untuk cari pasangan, Ia hanya ingin memperluas sirkel pertemanan dan tidak merasa sendiri.
Mia mencoba mengalihkan pikirannya dengan melakukan hal-hal yang ia sukai. Ia kembali sibuk dengan desain-desainnya, menghabiskan waktu di kafe favorit, dan beberapa kali pergi bersama Tristan yang juga tampak butuh pengalihan dari rasa sakitnya. Tapi dalam hati Mia, ada rasa kosong yang tak bisa ia abaikan.
Malam itu, Mia duduk di balkon sambil menyesap teh hangat. Ia menggulir layar ponselnya, membaca pesan-pesan dari orang-orang baru yang ia kenal. Salah satu pesan dari Rendi membuatnya tersenyum kecil.
Rendi: Kapan kita bisa ngopi bareng? Santai aja, gue bukan orang asing yang serem.
Mia tertawa kecil. Rendi memang pandai mencairkan suasana. Tapi ada sesuatu yang mengganjal mengingat hubungannya dengan Keynan yang memburuk.
Mia menghela napas panjang, memutuskan untuk membalas pesan Rendi seadanya. Namun sebelum ia mengetik, suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya.
"Mia, buka pintunya," suara berat Keynan terdengar dari luar.
Mia diam sejenak, ragu apakah ia harus membukanya atau tidak. Tapi akhirnya ia bangkit dan berjalan menuju pintu.
Saat pintu terbuka, Keynan berdiri dengan raut wajah yang sulit ditebak. Matanya menyiratkan kelelahan.
"Ada apa?" tanya Mia dingin.
Keynan terdiam beberapa saat sebelum berkata, "Kita perlu bicara."
Mia melipat tangan di depan dada, "Gue udah bilang, gue nggak mau lo ikut campur dalam hidup gue."
"Gue nggak akan ikut campur," jawab Keynan serius, "Tapi gue cuma mau minta satu hal."
"Apa?"
"Jangan pake Crushify lagi."
Mia mengerutkan kening, "Lo masih bahas ini? Gue udah bilang gue nggak pake buat hal aneh-aneh. Lo nggak percaya sama gue?"
"Bukan masalah percaya atau nggak, Mia," kata Keynan, nadanya lebih lembut, "Gue cuma takut ada orang yang manfaatin lo."
Mia menggeleng sambil terkekeh kecil, "Lagi-lagi lo mikir gue nggak bisa jaga diri sendiri."
Keynan terdiam, tapi akhirnya ia berkata dengan suara rendah, "Karena gue nggak mau lo terluka lagi, Mi."
Mia menatap Keynan, mencoba membaca maksud dari kata-katanya. Tapi ia tetap merasa Keynan tak sepenuhnya mengerti.
"Lo nggak perlu khawatir sama gue, Nan. Gue udah dewasa. Kalau gue salah langkah, biarin gue belajar dari kesalahan gue sendiri," kata Mia tegas.
Keynan mendekat, suaranya pelan tapi penuh emosi, "Tapi gue nggak mau liat lo nangis lagi. Lo nggak tau gimana rasanya liat lo terluka."
Mia terpaku. Ada sesuatu dalam nada suara Keynan yang menyentuh hatinya, tapi ia terlalu marah dan bingung untuk membalas.
"Kalau lo peduli, lo harus percaya sama gue," kata Mia akhirnya. "Dan kalau lo nggak bisa, lebih baik lo berhenti ngatur hidup gue."
Keynan menatap Mia lama, kemudian mengangguk kecil, "Oke. As you say. I'm sorry."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cousin Zone
Jugendliteratur#KeynanMia Dulu, Mia hanya gadis 13 tahun yang naif, jatuh cinta pada sepupunya, Keynan. Tapi perasaannya ditolak mentah-mentah, dan Keynan membuatnya yakin cinta itu hanya sebatas hubungan keluarga. "You're my cousin, Mia," katanya tegas, memisahka...
