HappyReading 💌
Malam itu, langit seolah memantulkan kekalutan yang dirasakan. Awan hitam bergulung di atas cakrawala, menutupi sinar bulan yang biasanya menawarkan sedikit kehangatan. Hujan gerimis turun perlahan, menyerap ke dalam tanah seperti beban yang menekan dada. Jalanan sepi, diterangi lampu-lampu berpendar redup, terasa seperti lorong panjang tanpa akhir yang menggiringnya pulang ke rumah yang tak lagi ia anggap sebagai tempat bernaung.
Langkah Lee terasa berat, seakan-akan setiap pijakan kakinya membawa ribuan kepingan rasa letih. Jas kerja yang basah oleh rintik hujan semakin memperparah keadaan, menambah dingin yang sudah merasuk ke tulangnya sejak pagi.
Kepalanya terasa penuh, seakan siap meledak kapan saja. Pekerjaan yang menumpuk, tuntutan dari keluarga, dan bayangan masa lalu yang terus menghantuinya-semuanya berputar seperti film buruk yang tak pernah selesai.
Ketika Lee akhirnya mencapai rumah, alih-alih menemukan kedamaian, ia malah disambut oleh pemandangan yang justru menambah berat di dadanya.
Di ruang tamu, duduklah papa dan mama, seperti raja dan ratu dalam kerajaan kecil mereka yang selalu mengontrol setiap langkah hidup Lee. Di samping mereka, seorang wanita cantik dengan senyum anggun menghiasi wajahnya-Thalita, model yang sering ia lihat di berbagai acara. Senyum itu, yang bagi orang lain mungkin menawan, hanya terasa seperti bagian dari rencana besar orang tuanya yang kembali membelenggu hidup Lee.
Lee berdiri di ambang pintu, tubuhnya membeku sejenak. Suara tawa ringan dari ayah menyusup ke telinga, tetapi ia tak mendengar isi pembicaraan mereka. Fokusnya hanya pada tekanan di dalam kepala yang semakin menumpuk, seperti ombak menghantam karang tanpa henti.
Nafasnya keluar seperti desis, berat dan penuh muatan emosi yang ia tekan sepanjang hari.
Dalam hati, Lee hanya ingin menutup pintu itu, melangkah pergi, dan menghilang ke dalam malam yang gelap-jauh dari semua tuntutan, rencana, dan wajah-wajah penuh ekspektasi. Tetapi seperti biasa, kakinya terlalu kaku untuk melangkah menjauh, seperti ada rantai yang tak terlihat menahannya tetap di tempat.
Dengan suara serak yang hampir tak terdengar, Lee akhirnya berkata, "Ada apa lagi kali ini?"
"Lee," ayah mulai bicara dengan nada tegas namun santai, "masuk, sini duduk. Ada yang perlu kami bicarakan."
Lee berdiri di ambang pintu, "kalau tentang kerjaan, bicara di kantor besok."
"Bukan," ujar ibunya dengan suara lembut, namun nadanya penuh dengan manipulasi halus, "ini tentang masa depanmu dan keluarga kita."
Lee diam sejenak, menatap mereka satu per satu, lalu melangkah masuk. Tetapi dia tidak duduk, "kalau soal masa depanku, aku rasa aku cukup tau apa yang baik untuk diriku sendiri."
Ayahnya melirik Thalita, memberi isyarat. Gadis itu tersenyum dan mulai bicara dengan suara yang lembut, "Lee, aku tahu ini mungkin terlalu tiba-tiba, tapi aku harap kamu mau mendengarkan. Aku bersedia mencoba hubungan ini. Aku percaya kita bisa saling mengenal dan mungkin... sesuatu yang baik bisa muncul dari sini."
Lee tertawa pendek, penuh sarkasme. "Sesuatu yang baik? Dua minggu yang lalu, wanita yang kalian paksa jalin hubungan denganku meninggal dunia. Dan sekarang, kalian punya pengganti seperti mengganti barang rusak? Apakah aku juga harus pura-pura jatuh cinta lagi, seperti yang kalian minta waktu itu?"
Ibunya berusaha tersenyum tenang, meskipun wajahnya terlihat sedikit tegang, "Lee, kepergian Olivia itu takdir, tapi hidup harus terus berjalan. Kami hanya ingin yang terbaik buat kamu."
Lee memandang ibunya dengan tatapan tidak percaya, "yang terbaik untukku? Kalau kalian benar-benar ingin yang terbaik, kalian tidak akan memaksakan perjodohan ini lagi, apalagi setelah yang terjadi pada Olivia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cousin Zone
Novela Juvenil#KeynanMia Dulu, Mia hanya gadis 13 tahun yang naif, jatuh cinta pada sepupunya, Keynan. Tapi perasaannya ditolak mentah-mentah, dan Keynan membuatnya yakin cinta itu hanya sebatas hubungan keluarga. "You're my cousin, Mia," katanya tegas, memisahka...
