16

767 45 8
                                        

HappyReading 💌


Pagi itu, matahari baru saja naik, menyelimuti kota dengan sinar keemasannya. Udara sejuk masih menggantung, namun di dalam mobil Keynan, kehangatan terasa berbeda.

Mia duduk di sebelahnya, mengenakan blazer krem dan rok yang menjuntai manis di atas lututnya. Rambutnya yang panjang tergerai, dan aroma parfum lembutnya mengisi ruang di antara mereka.

Keynan meliriknya sesaat sebelum menyalakan mesin mobil, "sarapan tadi cukup kan? Kalau kurang bilang, besok gue bawain bekal."

Mia tersenyum kecil, menatap keluar jendela, "cukup kok. Makasih ya."

Mobil melaju pelan melewati jalanan kota yang mulai ramai. Sesekali, Keynan melirik Mia, menikmati betapa tenangnya gadis itu di pagi hari. Namun, sesampainya di dekat butik, Mia memecah keheningan.

"Nan, nggak usah nganter-jemput gue terus..." Mia berkata pelan, sambil memainkan jari-jarinya, "lo juga punya kerjaan. Gue bisa sendiri kok."

Keynan mengerem perlahan di depan butik, menoleh pada Mia. Mata hitam gelapnya menatap dalam, penuh ketenangan namun tegas.

"Mia," suaranya berat namun lembut, "nganter lo itu bukan soal perlu atau nggaknya. Gue ngelakuin ini karena gue mau."

"Tapi—" Mia mencoba membantah, tapi Keynan langsung menyela.

"Gue tau lo bisa sendiri. Lo mandiri, kuat, dan nggak butuh orang lain buat ngelindungin lo." Keynan terdiam sebentar, lalu menarik napas panjang, "tapi sekarang kita ada di hubungan ini, dan gue mau jadi orang yang ada buat lo. Nganter jemput lo, itu cuma salah satu caranya."

Mia terdiam, tak mampu membalas tatapan Keynan yang dalam dan jujur itu.

Keynan mengulurkan tangan menyapu lembut pipi Mia, "buat gue, ini soal tanggung jawab. Gue nggak cuma pacar lo. Gue cowok yang bakal selalu ada buat lo. Dan gue nggak bisa tenang kalau nggak tau lo aman."

Mia merasakan kehangatan merayapi hatinya. Ia mengerti maksud Keynan, dan cara pria itu mengungkapkan perasaannya membuatnya tersentuh.

"I know," gadis itu tersenyum tipis, "tapi janji, kalau capek atau sibuk, bilang, ya. Gue nggak mau nyusahin."

Keynan menyentil hidung runcing Mia, "lo udah biasa nyusahin gue dari dulu. Kenapa sekarang tiba-tiba manis gini?"

Mia mengusap hidungnya sambil menggerutu kesal, "apasih!"

"Mia..."

"Iya?"

"Boleh minta sesuatu?"

"Nggak," sela Mia, "gue dulu."

Keynan terkekeh, "apa?"

"Tapi janji harus nepatin."

"Semampu gue dong."

"Yaudah," Mia bersidekap dada.

"Iya, iya janji," lebih baik ngalah daripada Mia ngambek, "apa?"

Mia menatap Keynan ragu sambil memilin jari, "itu... Jangan..."

"Jangan apa?" Keynan mengernyit bingung.

"Jangan lo gue, aku kamu kan bisa."

Tawa Keynan lepas begitu saja membuat Mia kesal mendengarnya.

"Kalu lagi manja gini lucu ya?" Keynan mencubit pipi Mia.

"Yaudah, nggak usah," Mia menarik pintu bersiap turun.

Keynan menahan tangannya, "iya, sayang iya. Apa aja yang kamu mau aku iya in."

MIA MAU KOPROL. Namun mengulum senyum agar tetap terlihat elegan.

Cousin ZoneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang