HappyReading💌
Mia masuk restoran mendapati Lee tengah menatap rintik hujan dari balik jendela dengan secangkir kopi di depannya. Wanita itu menarik kursi dan duduk menatap wajah Lee yang tampak tak baik-baik saja namun ia sembunyikan dengan baik.
"Saya dengar butik kamu mau adain fashion show bulan depan?" Ujar Lee tanpa basa-basi.
Mia mengangguk, "iya."
"Brand saya mau jadi salah satu event partner nya. Bisa?"
"Maaf, tapi semua sudah berlangsung. Minggu lalu kami mengadakan rapat terakhir dengan para event partner," jawab Mia halus.
"Tidak ada kesempatan lagi?"
Mia menggeleng kecil lalu merogoh tasnya, "sepertinya nggak bisa. Tapi saya undang kamu untuk hadir jadi tamu VIP," ia menyerahkan undangan khusus bewarna Nude.
Lee menerimanya dengan senyum tipis, "terimakasih. Maaf mengganggu di hari libur." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Lee.
Sejujurnya dia ingin Mia kesini bukan hanya membahas soal pekerjaan tapi juga perasaannya yang sangat kacau setelah Olivia pergi.
Mia mengangguk ragu lalu berdiri pamit.
"Mia," Lee mencegah pergerakan gadis itu, "i'm a mess."
Mia mengulum bibir dan duduk kembali. Ia tau Lee butuh seseorang tapi Mia tidak ingin memaksa Lee bercerita.
"Do you have time?" Lirih Lee.
Mia tersenyum tipis, "plenty of it."
"Saya nggak tau harus mulai darimana," Lee selalu kesulitan mengungkapkan perasaanya, "semenjak kejadian Olivia seminggu lalu, saya sangat merasa bersalah."
Mia diam mendengarkan.
"Benar kata Tristan. Saya yang menjadi alasan Olivia bunuh diri. Harusnya saya batalkan ini dari awal. Harusnya saya yang menolak keras. Bukan menerima perjodohan ini dan mencoba jatuh cinta pada Olivia."
Pertama kali Mia melihat mata tegas milik Lee berkaca-kaca.
"Awalnya, saya mengira saya bisa cinta dengan Olivia. Dia membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama namun sikapnya yang jelas menolak bahkan membenci saya membuat saya mundur dan tidak berharap apapun..."
"... Seminggu sebelum Olivia bunuh diri, saya dan dia sempat ke rumah orang tua kami untuk membatalkan perjodohan ini. Namun yang kami dapat justru ancaman. Setelah itu Olivia tidak mengirimi saya pesan atau menghubungi saya sama sekali. Dia hilang.. saya kira Olivia mau menenangkan diri sejenak. Ternyata dia pergi dan tidak pernah kembali."
Lee menekan ujung matanya, "saya juga tertekan disini, saya juga benci dengan perjodohan ini bahkan saya benci diri saya sendiri. Dan setelah semua ini, tetap saya yang di salahkan..."
"I'm really tired," ujar Lee dengan suara lirihnya.
Mia menghela napas panjang, menatap Lee dengan penuh empati, "Lee... kamu nggak harus benci diri kamu sendiri. Kadang, situasi yang kita hadapi memang terlalu rumit, terlalu berat untuk ditangani sendirian. Tapi itu nggak berarti semua ini salah kamu."
Lee menatap Mia dengan mata yang mulai memerah, "Tapi kenyataannya... kalau saja saya lebih tegas, kalau saya nggak mencoba mengikuti aturan mereka, Olivia mungkin masih di sini."
Mia menggeleng pelan, nada suaranya lembut tapi tegas, "Kamu nggak tahu itu, Lee. Kita nggak pernah tahu apa yang benar-benar ada di pikiran orang lain, apa yang mereka alami, apa yang mereka rasakan. Olivia mungkin juga berjuang dengan banyak hal yang nggak pernah dia ceritain."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cousin Zone
Teen Fiction#KeynanMia Dulu, Mia hanya gadis 13 tahun yang naif, jatuh cinta pada sepupunya, Keynan. Tapi perasaannya ditolak mentah-mentah, dan Keynan membuatnya yakin cinta itu hanya sebatas hubungan keluarga. "You're my cousin, Mia," katanya tegas, memisahka...
