15

535 31 3
                                        

HappyReading 💌














Pagi itu, Mia memutuskan untuk putar balik dari perusahaan Keynan ke rumah cowok itu setelah tau jika ia tidak masuk kantor karena sakit.

Mia khawatir terjadi sesuatu yang buruk karena Keynan bukan tipe orang yang tahan jika terkena demam.

Demam dikit aja langsung bikin surat wasiat.

Semoga pria itu hanya sakit ringan dan suhu tubuhnya tidak tinggi.

Mia memarkirkan mobilnya lalu mendorong gerbang yang tidak terkunci.

Ia mengetuk pintu, "Keynan?" Mia mencoba memutar gagang pintu tapi tidak terbuka.

Pandangannya teralih pada motor yang terparkir di halaman rumah, "punya siapa?"

Ketukan Mia kini lebih keras, "Keynan. Lo di da— Nadia?"

"Hai, Mia."

Mia menelisik dari atas sampai bawah. Gadis itu memakai kaos milik Keynan dengan rambut yang acak-acakan membuat Mia berpikir negatif, "ngapain di sini pagi-pagi?" Mia masuk tanpa persetujuan Nadia lebih dulu.

Nadia menutup pintu, "nemenin Keynan."

Mia mematung seketika lalu berbalik, "oh. Good," ujarnya dengan senyum lalu melangkah ke kamar Keynan. Mia tidak ingin membuang energi terlalu banyak pagi ini.

Gadis itu membuka pintu menemukan Keynan yang masih terlelap.

"Jangan di ganggu, dia baru aja tidur," ujar Nadia dari belakang.

Mia kembali menutup pintu lalu menatap Nadia, "dia sakit."

Nadia mengangguk, "aku yang urus dia semalaman."

Mia kecewa dengan dirinya sendiri.

"Semalem Keynan nelfon aku minta di temenin karena lagi nggak enak badan," Nadia mengarang cerita, "pas aku kesini ternyata demamnya tinggi banget."

Mia hampir percaya namun dia ingat jika Keynan bukan tipe pria yang mudah mengeluh. Se parah apapun sakitnya, Keynan akan tetap diam tanpa meminta siapapun mengurusnya.

Dari fakta yang Mia tau, ucapan Nadia sangat janggal. Ditambah dengan kaos yang Nadia pakai.

Mia tau betul Keynan tidak suka bajunya di pakai siapapun, bahkan Rio yang sepupunya akan Keynan larang untuk memakai kaosnya, jika Rio tengah darurat membutuhkan kaos, Keynan dengan senang hati akan membelikan yang baru ketimbang memakai miliknya.

"Untung ada kamu. Coba enggak dia bakal sendirian," jawab Mia tanpa merasa tersakiti.

Nadia tersenyum, "mau duduk dulu?"

Mia terkejut. Nadia udah berasa kayak dirumah sendiri.

"Boleh," Mia meletakkan tasnya di meja lalu duduk depan Nadia, "Keynan udah makan kan?"

"Udah. Semalam aku suapin sup ayam."

"Kalau dia demam jangan di kasih sup ayam. Dia lebih suka sup labu kuning," Mia merentangkan satu tangannya di atas sofa, "lagian dia punya maagh. Bakal cepet sembuh kalau dikasih itu."

Nadia menatap Mia kesal, "Keynan sendiri yang minta sup ayam."

"Pasti tiga suapan doang," Mia menahan tawa, "hafal banget aku sama Keynan. Kita dari kecil bareng terus."

Kini ganti Nadia yang terbakar cemburu namun Ia simpan dalam-dalam.

Apa yang kurang dari hidup Mia? Gadis itu nyaris sempurna. Pekerjaan yang baik, rumah yang nyaman, mobil mewah, nama baik yang dikenal banyak orang, keluarga yang bahagia. Sedangkan Nadia? Tanpa kebaikan Keynan mungkin gadis itu akan menjadi gelandangan. Nadia rasa Mia sudah memiliki lebih dari cukup untuk kehidupannya. Kali ini, Nadia tidak akan menyerahkan Keynan pada siapa pun. Mia bisa mencari lelaki lain dengan mudah jika dia mau.

Cousin ZoneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang