HappyReading 💌
Mia berdiri di tengah ruangan dengan walkie-talkie di tangannya sedari tadi Ia sibuk mondar-mandir untuk memastikan segalanya sudah sesuai rencana, "Lighting gimana?"
"Aman bu Mia," jawab kru cepat.
Mia melirik ruang model yang masih terkumpul sebelas orang, "Indri? Model yang lain mana? Harusnya udah di fitting jam delapan tadi!"
"Masih berusaha saya hubungin," Indri juga terlihat sibuk setengah panik.
Di belakangnya, salah satu kru nyaris tersandung kabel. Seorang model mengeluh karena heels-nya terlalu sempit, sementara yang lain sibuk memeriksa makeup yang sudah mulai luntur akibat panas ruangan.
"Ini AC kenapa nggak dingin?" Mia berusaha menurunkan suhu tapi udara tetap panas, "make up di ruang tiga aja, disana AC nya dingin. Biar yang ini di benerin dulu."
Bersamaan dengan para model yang keluar, masuk seseorang berseragam oranye dengan perlengkapan di tangannya, "maaf bu. Saya baru dibilangi kalau AC nya nggak dingin. Kayaknya cuma perlu bersihin penyaringnya aja. "
Mia menghela nafas berusaha sabar, "makasih ya, pak. Tapi tolong kalau bisa jangan terlalu lama. Kami butuh ruangan ini."
"Baik, bu."
Walkie talkie berbunyi tiba-tiba, "bu Mia, aksesoris untuk model nomor lima kurang."
"Astaga," Mia memijat pelipisnya segera beralih ke ruang model.
Melihat suasana yang riuh membuat Mia menghela napas panjang, menahan keinginan untuk melempar walkie-talkie itu ke lantai, "tolong dong, semua fokus. Kita cuma punya dua jam lagi!"
Suasana menjadi hening, "bisa kan tanggung jawab sama tugas masing-masing? Tiap model udah saya kasih lima orang buat baju, aksesoris sama make up. Masih kurang kah?"
Mereka saling tatap, beberapa menggelengkan kepala.
"Tolong jangan kecewakan saya. Ini moment yang saya tunggu selama ini," Mia melirik Indri, "saya akan cek yang lain. Kamu handle mereka. Buat aksesoris yang kurang kalian bisa cari di tas model lain, mungkin ke tukar atau salah masuk."
Mia meletakkan walkie talkie di meja dan beranjak pergi.
Gadis itu melangkah ke arah dapur, para grup dari restoran yang sudah Mia pesan berkumpul dan melaksanakan tugasnya di sana. Beberapa orang sibuk menyiapkan dessert dingin, sebagian yang lain menyiapkan garnish dan ada beberapa waiters yang sudah siap dengan baju mereka dengan napkin yang tersampir di tangan.
Mia memutar melihat kinerja mereka yang baginya sangat profesional, nyaris tidak ada keluhan disana.
Manik Mia tertuju pada seorang gadis yang berdiri di sudut sambil mengeringkan piring, "Hazel?" Sapa nya setengah menebak.
Gadis itu menoleh tersenyum mendapati Mia menyapanya, "kak Mia."
"Kamu disini?" Mia tidak percaya bisa bertemu ponakan Tristan di acaranya.
"Aku sebenernya house keeping di hotel yang kak Mia pesen. Cuma bagian cuci piring lagi sakit, jadi aku gantiin," ujarnya dengan senyum.
Mia sempat terpaku. Cucu dari pemilik Lasut Corp menjadi house keeping di hotel orang? Tapi Mia mengangguk sambil menarik kedua bibirnya menghargai kerja keras gadis cantik ini, "saya malah seneng loh ketemu kamu disini."
Hazel terkekeh singkat.
"Om kamu gimana? Ada kabarnya?"
Hazel menggeleng, "aku nggak tau om Tristan kemana, masih belum bisa di hubungi juga. Dia ada pulang ke rumah kah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Cousin Zone
Teen Fiction#KeynanMia Dulu, Mia hanya gadis 13 tahun yang naif, jatuh cinta pada sepupunya, Keynan. Tapi perasaannya ditolak mentah-mentah, dan Keynan membuatnya yakin cinta itu hanya sebatas hubungan keluarga. "You're my cousin, Mia," katanya tegas, memisahka...
