#. 08 [ S1 ]

2.7K 383 15
                                        

"Roxana, apakah mainan itu jadi patuh?"

Roxana menelan kekesalannya saat melihat Lant di hadapannya duduk bersila di kursi besar. Dia memegang gelas berisi anggur di sebelah tangannya dan tangan yang lain memegang dagu.

"Lebih menurut dari sebelumnya." Roxana membuka mulut sambil tersenyum. "Tapi aku mempunyai banyak hal yang perlu diajarkan"

"Itu bagus. Darah bajingan seperti itu harus diberi pelajaran dan tidak boleh kemana-mana."

Lant mendengus seolah hal ini perlu ia ketahui.

"Tapi itu menyenangkan dari pada menyerah. Aku akan kecewa jika aku diam saja terhadap mainan itu."

Roxana mengeluarkan kata-kata menyenangkan untuk didengar ditelinga Lant.

"Aku lebih menyukainya karena karena itu adalah mainan yang diberikan ayah sebagai hadiah. Jadi aku akan memperbaiki bagian yang rusak sedikit, mungkin aku bisa memainkannya."

Roxana memiliki paras cantik yang membuat siapapun akan terjerat. Siapapun akan mengatakan bahwa dia adalah bidadari dengan senyuman menawannya. Semua itu seperti anugerah yang diturunkan oleh tuhan.

Namun, kecantikan yang dimiliki Roxana adalah sebuah lubang hitam yang akan menarik siapapun yang melihatnya. Kamu tidak akan bisa melarikan diri jika sekali saja terjerat. Itu seperti lubang hitam dengan racun yang mengelilinginya.

Lant menarik sudut bibirnya keatas.

"Semakin lama aku melihatmu, semakin mirip kamu denganku."

Roxana mengatakan dalam hati bahwa apa yang di ucapkan oleh Lant itu adalah sebuah omong kosong besar.

'aisss, omong kosong yang dia ucapkan semakin hari semakin parah.'

"Padahal saat masih kecil, kau terlihat lemah dan tidak berarti."

Lant berucap sambil mengingat masa lalu Roxana yang masih terlihat lemah dan tidak berarti.

"Kalau di ingat-ingat, namanya Arles bukan? Kakakmu yang sudah mati itu, yang selalu bersembunyi dipojokan dan menghindari tatapan orang lain."

Tangan Roxana bergetar, dia menahan diri untuk tidak marah.

"Aku kira dia akan berguna nanti, karena dia memiliki kemiripan dengan Sierra. Tapi aku harus mentolerir bocah lemah itu. Si Arles itu, benar-benar membawa pengaruh buruk di dalam Agriche."

"Kalau ayah membicarakan kakakku yang sudah mati dalam pemusnahan, itu bukan arles, tapi Achilles."

Roxana mengambil senyum lebar, yang jelas dia harus menyembunyikan kemarahannya dihadapan Lant.

"Tentu saja, karena dia mati dengan cara yang memalukan, ayah tidak perlu mengingat namanya. Aku dan ibu selalu merasa malu karena itu."

Masih sama dengan senyum diberikan sama seperti sebelumnya.

Roxana kemudian berdiri.

"Ayah tahu, dia tidak berarti apa-apa bagiku. Mau dia hidup ataupun mati, aku masih akan berdiri di tempat ini. Karena aku adalah seorang Agriche yang hebat. Lebih dari siapapun, aku mencerminkan ayahku yang hebat."

Lant tersenyum miring. Dia puas mendengar kata-kata Roxana.

Lant tidak mengetahui bahwa Roxana tertawa dalam hati ketika mengatakan omong kosong itu.

Yah, setidaknya Roxana harus membuat Lant bangga padanya. Sebelum semua permainan dimulai.

*****

"Kamu boleh pergi!"

"Baiklah, nona muda."

Setelah kembali ke kamar, Roxana kembali meminum racun yang di bawakan oleh Emily seperti biasanya.

"Hah.. aku lelah."

Roxana berbaring di tempat tidur karena merasa bahwa tubuhnya melemah.

Ini sudah dua hari sejak kepergian Cale, seharusnya Roxana sudah diberikan paksa oleh cale penawar untuk racun yang setiap hari dia minum.

Roxana tertawa mengingat ketika Cale memaksakan meminum semua penawar racun yang dia bawa setelah dia ditemukan pingsan hari itu.

"Apa yang sedang kamu lakukan, kak?"

Dia rindu Cale.

Dia merindukan sentuhan hangat yang selalu Cale berikan padanya.

Dia rindu ucapan penenang yang selalu di lontarkan Cale padanya. Kata-kata yang mengatakan bahwa dia akan melindunginya dan akan membuatnya selalu berdiri dengan kekuatannya sendiri.

Dia rindu.

Sangat rindu.

Kepak kepak.

Dua kupu-kupu terbang menghampiri Roxana. Mereka adalah kupu-kupu yang di kiri ke perbatasan dan juga kupu-kupu pembawa pesan untuk Cale dari nya.

"Apa yang kamu temukan?"

Seekor kupu-kupu berbagi penglihatan dengan Roxana. Mereka berbagi apa yang di lihat di perbatasan dan juga Cale.

Hutan gelap dan sunyi, serta bulan merah yang baru muncul.

Pekikan burung gagak yang baru terbangun.

Darah yang berceceran di rerumputan.

Tubuh orang tewas dan terpotong-potong.

Seorang pria berambut hitam berdiri sendirian ditengah.

"Gaps..."

Roxana bangkit dari tempatnya dengan nafas terengah-engah.

Karena gerakan yang tiba-tiba, dua kupu-kupu itu terbang ke udara dan juga terputus hubungan penglihatan mereka.

Didalam benak Roxana, pemandangan yang dilihat beberapa saat laluㅡ

Jelas bahwa pria berambut hitam yang berdiri di tengah-tengah orang yang tewas itu adalah Dion Agriche.

Anak laki-laki paling di cintai Lant Agriche, yang memiliki temperamen buruk.

Setiap evaluasi bulanan, dia selalu menjadi peringatan pertama, yang selalu menghindari makan malam.

Dion Agriche.

Dia sudah kembali.

"Ada perbedaan waktu saat kupu-kupu melihatnya diperbatasan. Dan saat aku mendapatkan kabar ini, mungkin dia sudah berada di sini dua atau tiga hari yang lalu. Itu juga waktu yang sama ketika kak Cale pergi."

Brakk.

"Sial, kenapa aku baru mendapatkan informasi nya sekarang?!"

Roxana berpendapat bahwa orang-orang yang tewas dihadapan Deon kemungkinan besar adalah orang Padelian.

"Apakah Lant menyuruh Deon untuk membersihkan perbatasan?!"

Karena mendapat kabar buruk itu, Roxana melupakan kupu-kupu lainnya.

Kupu-kupu itu terbang di sekitar Roxana dan hinggap di hidungnya.

"Ah, aku melupakanmu."

Roxana mulai menyentuh kupu-kupu lain yang dikirimkan oleh Cale.

'Adikku tersayang. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja setelah aku kembali.'

Sebuah senyuman perlahan muncul.

Roxana bisa bernafas lega untuk hal ini.

Karena semua masalah akan cepat terselesaikan jika Cale segera kembali.

*****

"Kak, apa kau yakin ini tempatnya?"

"Aku tidak tahu. Tapi, aku yakin bahwa ini adalah di tempatnya."

Saat ini, Cale tengah bersama seorang pria berambut pirang keemasan tengah berdiri di sebuah menara tinggi dipusat kota di wilayah Timur. Mereka berdua memakai jubah hitam yang menutupi tubuh mereka, dan tidak lupa dua ekor kucing digendong pria berambut keemasan, juga seekor naga yang bersembunyi di balik punggung yang tersembunyi oleh jubah Cale.

"Ayo, kita harus cepat dan menyelesaikan semuanya."

To be continued

8 Oktober 2022

Want To Run Away Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang