Jaemin tak menganggap pertemuan yang dibuat bibinya ini membuat perasaannya berdebar atau apapun, karena ini sudah kesekian kalinya Jaemin turuti kemauan wanita yang mengganti peran ibu di hidupnya itu. Karena walaupun ia merasa sia-sia akan semua usaha bibinya itu, tapi tetap ia turuti sebisanya mengingat bagaimana besarnya rasa sayang Jaemin padanya.
Jeno tak pernah membuat temu pertama Jaemin dengan orang-orang yang ia bawa sampai di istana. Paling bagus pun itu di bangunan milik keluarganya yang berada tak begitu jauh dari istana. Dan itu adalah tempat yang kini Jaemin kunjungi untuk bertemu orang bernama Renjun itu.
"Maaf, apa aku terlambat?" Jaemin melihat punggung sempit yang terlihat tersentak begitu mendengar suaranya.
Dan saat sosok itu menoleh pada Jaemin, ganti Jaemin yang sedikit terkejut melihat wajah itu. Bukankah Jeno mengatakan kalau yang akan ia temui adalah seorang lelaki? Lalu, kenapa—
"Tidak sama sekali, aku memang datang lebih cepat." Ah, suara itu menjawab pertanyaan Jaemin. Orang di depannya itu adalah seorang laki-laki, walaupun untuk ukuran suara laki-laki itu terdengar begitu halus. Jaemin suka mendengarnya.
"Kau Huang Renjun, benar?"
"Ya, yang mulia. Saya Huang Renjun." Renjun menggenggam tangannya sendiri di depan tubuhnya, menunjukkan gestur gugupnya berhadapan dengan pangeran Jaemin untuk pertama kalinya.
Jaemin mengangguk sekilas, kemudian mengambil tempat duduk dan segera menyuruh Renjun pun untuk duduk. "Duduklah."
Renjun menurut, kemudian tangannya dengan cepat mengambil teko untuk menuangkan minum Jaemin. Karena memang di pertemuan ini, Jeno tak menyertakan pelayan ada di sekeliling mereka. Maka Renjun pun dengan semua tata krama, dan ilmu yang ia miliki langsung melayani pangeran dengan baik.
Ya, Renjun belum menganggap kalau orang di hadapannya adalah sosok yang hendak dijodohkan dengannya. Ia masih menganggap kalau ia sedang berhadapan dengan seorang pangeran yang bahkan auranya cukup membuat Renjun merasakan lemas dan ingin pulang karena takut salah bersikap.
"Kau teman Jeno?" Tanya Jaemin tiba-tiba, bertepatan dengan tangan mungil Renjun yang sudah menyimpan kembali teko minum tadi.
Renjun mengangguk. "Kami sering bertemu di toko buku, jadi kami cukup akrab." Jawab Renjun tanpa mau menatap langsung mata Jaemin, ia belum berani. Matanya hanya melihat sekilas wajah Jaemin.
"Kau memiliki ketertarikan pada buku?" Tanya Jaemin lagi. Berbeda dengan Renjun, Jaemin justru menatap lekat wajah yang membuatnya bertanya-tanya karena begitu cantik. Itulah alasan Jaemin tadi nyaris mengira bahwa Renjun ini seorang gadis.
"Banyak." Jawab Renjun. "Maksud saya, benar saya memiliki banyak ketertarikan pada buku." Ralat Renjun cepat-cepat saat sadar ia tadi menjawab tak jelas.
"Apa pangeran Jaemin juga menyukai buku?" Renjun mencoba membuat sebuah obrolan yang bisa menghilangkan suasana yang menurutnya terasa sesak, karena gugupnya. Tapi ia bingung untuk membuat topik obrolan apa yang cocok dengan seorang pangeran. Jadilah ia hanya bisa membalik pertanyaan Jaemin padanya tadi.
Jaemin menggeleng pelan. "Tidak terlalu." Jawabnya singkat.
Renjun mengatupkan bibirnya, sambil mengangguk pelan. Bingung hendak berbicara apa lagi. Hingga ia teringat hadiah yang dibuat mamanya untuk sang pangeran.
"Mama saya tadi menitip ini untuk pangeran Jaemin, kalau tak keberatan, yang mulia bisa menerimanya.
"Boleh aku lihat?" Jaemin menatap penasaran kotak yang dibawa Renjun.
Tangan Renjun menggeser kotak yang ia letakkan di atas meja itu agar lebih dekat dengan Jaemin. "Tentu saja." Jawab Renjun.
Jaemin membuka kotak itu, dan menemukan biskuit berwarna kecoklatan yang mengeluarkan aroma gurih khas. "Kau membuatnya?" Tanya Jaemin, mengira Renjun hanya sedang membuatnya agar mau menerima itu jadi mengatakan itu dari mamanya.
