Nyonya Lee turun dari kereta kudanya tepat di depan gerbang estat Marquess Huang, putranya sudah membuatkan janji dengan sang Nyonya pemilik estat cantik ini. Ia kagum melihat bagaimana interior dinding juga penempatan semua barang di dalamnya yang begitu pas, dan nyaman untuk dilihat. Semua yang ia temukan di estat ini begitu mencerminkan keluarga bangsawan yang penuh ketelitian dan penuh keanggunan.
Termasuk sang Nyonya sendiri yang terlihat anggun menyambutnya dengan ketatakramaan yang begitu baik, tidak berlebihan tapi Nyonya Lee merasa dihargai selayaknya seorang tamu.
Tepat di belakangnya ada seorang pemuda yang ikut menyambutnya, ia yakin itu adalah Renjun—orang yang Jeno maksud. Karena memang Jeno juga membuatkan janji bertemu dengan keluarga Huang terutama putra bungsu mereka. Pemuda itu menampilkan senyum lembut yang begitu cantik, benar kata Jeno walaupun bukan perempuan tapi Renjun memiliki kecantikan dalam rupanya. Wajahnya tak menampilkan raut berarti selain senyum tersebut, tapi Nyonya Lee malah terpaku di tempatnya.
Mata Renjun seolah menyorot lucu padanya, Jaemin benar akan kesulitan menolak bungsu Huang ini. Karena Nyonya Lee saja rasanya ingin menangkup pipi bulat Renjun dan mencubitnya karena gemas.
Dan Nyonya Lee sadar, meskipun bukan anak kecil tapi Renjun pun memiliki wajah lucu yang menambah kesempurnaan dalam rupanya.
Selain itu, setelah ia berbincang dengan ibu dari Renjun dan sesekali anak itu ikut dalam obrolan. Ia benar tak menangkap sebuah cacat dalam diri Renjun. Anak itu pandai saat berbicara, ditambah suaranya begitu manis. Membuatnya ketagihan untuk mendengarkan. Ah, Nyonya Lee sekarang membatin iri pada Nyonya Huang. Ia juga ingin memiliki anak seperti Renjun.
Ada satu yang Nyonya Lee tunggu sejak tadi, sikap manja anak itu. Jika biasanya ia muak melihat beberapa anak bangsawan yang begitu manja, kali ini ia ingin melihat itu pada diri Renjun. Karena sepertinya itu akan lucu untuk ia lihat, sifat manja pada diri Renjun akan ia maafkan mengingat bagaimana wajah mungil itu akan sangat cocok bersikap manja. Ia ingin lihat!
"Maaf? Maksud Nyonya, pangeran Jaemin?" Tanya Renjun setelah ia barusan mendengar ucapan Nyonya Lee yang mengatakan maksud tujuannya.
Renjun jelas terkejut mendengar niat kedatangan wanita cantik khas keluarga bangsawan yang mengaku sebagai ibu dari Lee Jeno tersebut. Ngomong-ngomong soal Nyonya Lee, Renjun agaknya tak heran mendapati wajah Jeno begitu tampan. Karena ibunya saja begitu cantik dan penuh pesona. Dan ternyata Jeno masih keluarga kerajaan. Pantas saja ia sering mengatakan baru kembali atau hendak pergi ke istana.
Sementara itu Nyonya Lee kini menatap Renjun, biasanya ia melihat respon orang saat tau akan dijodohkan dengan Jaemin akan tersenyum malu-malu dan merendah berlebihan namun berujung mengiyakan. Sekarang Nyonya Lee sangat menunggu respon Renjun.
Mata berbinar Renjun membesar, menatapnya seolah baru saja mengatakan sebuah kabar peperangan yang akan terjadi. Tak percaya, dan kaget. Apa anak itu tak pernah mendengar sedikit saja kabar soal ia yang sering mencoba menjodohkan Jaemin pada anak bangsawan? Anak itu seolah benar-benar tak menyangka hal ini.
"Renjun." Tegur Nyonya Huang pelan pada bungsunya yang masih diam belum menjawab apapun.
Nyonya Lee justru menikmati raut lucu Renjun barusan, yang kini segera berganti. Matanya mengerjap, kemudian sedikit menunduk. "Maaf, Nyonya. Saya begitu terkejut mendengar semua ini."
"Tidak apa, tapi apa kau tak pernah mendengar dari orang lain kalau aku memang begitu berambisi menjodohkan keponakanku itu dengan anak bangsawan?" Nyonya Lee coba bertanya karena penasaran.
"Ia sangat jarang bergaul dengan teman sebayanya, ia banyak menghabiskan waktunya dengan tumpukan kertas bertuliskan banyak catatan." Nyonya Huang berujar tanpa ada nada sombong akan hobby putranya yang gemar bermain dengan buku.
