"Ya?" Tangan Renjun yang tengah membereskan kumpulan buku ke dalam rak, menoleh saat mendengar sang kakak memanggilnya.
Winwin yang sejak tadi mencari keberadaan adik satu-satunya itu langsung bergegas memasuki kamar Renjun. "Harusnya aku tak aneh mendapatimu di kamar dengan buku-buku ini, rasanya sia-sia aku mengelilingi estat untuk mencarimu." Gerutu sang kakak sambil duduk di kursi belajar Renjun.
Renjun tersenyum geli. "Mau memintaku mengantar kemana lagi?" Ia sudah tau kebiasaan sang kakak.
"Ke toko keramik." Jawab Winwin. "Ayo, kita sudah dapat izin dari mama." Ajaknya semangat.
"Apa lagi yang kau bilang pada mama, kak?" Tanya Renjun penasaran, tapi mungkin tak akan aneh juga saat tau jawaban yang sering Winwin ucap ini.
"Tentu saja mengantarmu membeli buku." Cengir Winwin.
Renjun menghela napas. "Kadang kau bersikap seolah muak melihatku bersama buku-buku, kak. Tapi kau justru sering menyeretku keluar untuk mengumpulkan lebih banyak buku."
"Ya tidak apa yang penting aku juga bisa mencari barang yang aku inginkan. Bulan lalu kan belum ada, siapa tau sekarang sudah ada." Winwin meraih bahu Renjun untuk ia bawa keluar dari kamar dan segera menuju toko yang ingin ia kunjungi.
"Aku yakin kalau ayah tau kau masih mengumpulkan barang-barang seperti itu, ayah tak akan membiarkan kita keluar lagi seperti ini." Ujar Renjun saat mereka telah keluar dari estat.
Orangtua mereka memang jelas melarang Winwin melanjutkan kesenangannya mengumpulkan barang langka yang menurut si sulung bagus dan sesuai seleranya. Alasan orangtua mereka tak suka, adalah selain harganya yang mahal juga mereka pikir tak ada gunanya Winwin menumpuk terus barang kurang berguna tersebut.
Maka Winwin melanjutkan hobbynya itu dengan tanpa sepengetahuan orangtua, dan hanya adiknya saja yang tau. Juga Renjun memang kerap dijadikan korban setiap Winwin ditanya alasan kepergiannya untuk apa. Entah mengantar Renjun membeli buku, menemani Renjun membeli buah—yang memang Winwin sengaja mencari tau buah apa yang tak tersedia di dapur. Pernah juga mengatakan ingin membawa Renjun jalan-jalan, alasannya kasihan karena terus berkutat dengan bukunya.
Dan semua alasan itu tentu diterima Tuan dan Nyonya Huang, tanpa kecurigaan.
"Tidak akan ketahuan, aku jamin. Tinggal kau saja yang harus jaga rahasia." Seru Winwin sambil tersenyum lebar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ini apa lagi kak?" Tanya Renjun tak habis pikir saat melihat sang kakak mengambil sebuah benda semacam bola kristal berwarna bening dengan ukiran bentuk kupu-kupu diatasnya. Memang cantik sih, bagus. Tapi Renjun juga kadang dibuat meringis bingung, juga menghela napas lelah melihat barang yang kakaknya bawa itu.
Benda yang kini dibawa kakaknya, bisa Renjun jadikan gambaran sebuah bola kristal milik penyihir yang pernah ia baca di salah satu buku miliknya. "Kak, kau hafal mantranya?" Tanya Renjun usil.