Nyonya Huang menatap putra bungsunya yang kini sudah rapih hendak pergi ke istana, setelah mendapat izin dari Tuan Huang. Ibu dua anak itu menatap dengan penuh tanda tanya sosok paling muda di estatenya itu, kenapa anak itu tak juga berangkat dan masih berdiri di ambang pintu?
"Renjun? Kau tak jadi pergi?" Nyonya Huang berjalan mendekat, menyentuh bahu Renjun yang langsung menoleh padanya dengan wajah yang memerah? Ada apa sebenarnya dengan anak itu?
Bahkan sejak semalam, setelah mengantar pangeran Jaemin sampai depan anak itu kembali dengan wajah memerah seperti sekarang. Saat ditanya pun Renjun hanya menjawab kalau ia ingin tidur lebih cepat dari biasanya.
"Aku akan pergi." Jawab Renjun. Ia memang belum berbicara pada kedua orangtuanya soal perkataan Jaemin yang mau melanjutkan perjodohan mereka.
Kedua orangtuanya hanya sebatas tau kalau ia sedang berusaha dijodohkan dengan pangeran Na itu, Renjun belum sempat mengatakan soal persetujuan dari Jaemin. Karena semalam saja ia diserang keterkejutan hingga tak memiliki suara untuk banyak berbicara pada mamanya.
"Mama, sebenarnya ada yang belum aku sampaikan." Renjun tadinya hendak meninggalkan estate tapi kembali untuk berbicara lagi dengan mamanya.
"Apa soal kau dan kakakmu lagi?" Nyonya Huang balik bertanya.
Renjun menggeleng. "Bukan, ini soal pangeran Jaemin." Ia menelan salivanya susah payah, rasanya gugup untuk mengatakan ini pada mamanya.
"Iya, ada apa? Ia mengatakan sesuatu kemarin?" Tebak sang ibu.
"Ya." Jawab Renjun. "Ia bilang mau menerima perjodohannya." Rasanya Renjun ingin memekik setelah berhasil mengatakan itu.
Nyonya Huang tersenyum geli melihat wajah Renjun yang makin mirip tomat masak. Ia meraih pipi anak bungsunya itu kemudian mengusapnya. "Jadi ini alasan kau tersipu sejak semalam?" Tanyanya.
Renjun mengerang pelan karena malu, tambah malu yang tak jelas sebabnya. "Mama, sekarang pergi ke istana rasanya seperti aku akan bertemu orang baru dan bukannya pangeran yang beberapa waktu terakhir akrab denganku." Renjun bahkan tak mengerti akan ucapannya sendiri, ia hanya mengatakan apa yang ia rasakan sekarang.
Nyonya Huang reflek tertawa pelan melihat Renjun yang sangat menunjukkan sisi bungsunya, khas sekala anak yang baru jatuh cinta. Penuh kesalah tingkahan yang menyenangkan. "Mama paham maksudmu, kau jelas akan merasakan itu."
Iya, anak itu tiba-tiba saja merasa salah tingkah untuk sekedar akan menemui pangeran Jaemin. Padahal biasanya tak separah ini.
"Tapi kalau tidak pergi, nanti pangeran Jaemin berpikir kau tak suka akan keputusannya itu." Wanita itu tak bisa melepas senyum lebarnya setelah tau alasan Renjun dari tadi bertingkah tak karuan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sementara itu, Jaemin kini diam-diam merutuk akan beberapa tugas yang diberikan ayahnya tiba-tiba. Baru saja ia hendak menebus kesalahannya soal tak menemui Renjun, sekarang ia malah dibebankan oleh tugas yang sebelumnya tak ia dengar akan diberikan padanya. Atau mungkin ini justru hukuman secara tak langsung untuknya karena kemarin-kemarin sempat berbohong pada Renjun soal kesibukan, dan sekarang ia benar-benar akan sibuk. Padahal ia ingin bertemu dengan submisif cantik itu.
"Lusa kau harus mulai memeriksanya sendiri, hari ini lihat dulu laporan lanjutan soal berapa banyak orang yang tak dapat bahan makanan itu sementara dari istana sudah mengirimkan itu." Suara sang Raja terdengar, memang sejak kemarin pihak istana mendapat laporan soal beberapa rakyat yang tak kebagian bahan pokok yang sudah dijanjikan istana akan dibagikan saat mendekati musim dingin.
Raja menduga adanya orang yang tak menjalankan tugasnya dengan benar, dan ia harap Jaemin akan menyelidiki itu. Sementara itu untuk tugas lusa, raja ingin putranya itu memastikan kalau memang laporan itu benar adanya. Atau hanya rakyat yang ingin dapat lebih saja yang iseng mengirim laporannya.
Jaemin hanya mengangguk pasrah, dengan suara pelan yang mengiyakan titah dari sang ayah. Hingga tiba-tiba, ucapan selanjutnya membuat Jaemin mendongak cepat.
"Hari ini sekalian hadiri undangan dari Earl Kim, aku tak bisa menghadiri undangannya."
"Tapi, aku memiliki janji." Jaemin berujar, mana mungkin ia akan pergi hari ini sementara Renjun sudah menunggunya?!
Raja menaikan sebelah halisnya, ia sebenarnya sudah dengar dari adiknya soal anak seorang bangsawan yang sedang coba dijodohkan dengan putranya. Tapi ia tak berani menanyakan ataupun ikut campur disana, sebelum putranya sendiri yang mengatakannya. Apalagi setelah tau kalau Jaemin sempat menolak perjodohan kali ini juga dengan begitu cepat, dan alasannya cukup membuat sang raja bungkam.
Jaemin masih begitu kesakitan akan kepergian ibunya sendiri, sampai merasa takut jika harus memiliki seseorang yang dicintai sebanyak ia mencintai ibunya.
"Ia menolak perjodohannya, padahal jelas ia sudah jatuh hati pada anak yang aku kenalkan. Ia takut kalau orang yang ia cintai berakhir sama seperti ibunya. Apalagi dengan keberadaan Lady Rianna di istana ini." Nyonya Lee bahkan tak sudi menyebut istri kakaknya sebagai ratu.
"Jadi tolong kak, jauhkan tangan wanita itu dari Jaemin dan orang yang sekarang anak itu cintai. Jangan biarkan Jaemin mendapati ketakutannya terwujud. Cukup ibunya saja yang jadi korban, sekarang biarkan ia memiliki bahagianya yang utuh." Selain mengancam ibu tiri Jaemin, Nyonya Lee juga menghadap sang raja yang adalah kakaknya sendiri. Meminta bantuannya agar melindungi apa yang ingin Jaemin lindungi juga.
Nyonya Lee pun tak mau sampai Jaemin terus larut dalam kehilangannya, dan sampai bersikap denial akan perasaannya pada Renjun. Ia ingin turut melindungi apa yang Jaemin cintai, apalagi anak itu Renjun jelas Nyonya Lee harus memastikan anak lucu itu baik-baik saja.
"Aku harus bertemu Renjun hari ini." Jaemin baru kali ini menyebut nama Renjun di hadapan ayahnya.
Dan Raja pun baru kali ini mendengar nama itu. "Siapa Renjun?" Ia sebenarnya menebak kalau itulah nama anak yang hendak dijodohkan dengan Jaemin, tapi ia tetap bertanya.
"Ia adalah orang yang harus aku sembunyikan dari tangan-tangan yang pernah menyakiti mama. Orang yang harus aku lindungi dari jahatnya orang-orang disekitarmu." Jawab Jaemin.
Raja pun hanya diam, jadi benar kan nama itu adalah milik orang yang berhasil membuat putranya memiliki lagi cinta selain dari mendiang mamanya sendiri. Jadi memang benar ya, sebesar itu perasaan Jaemin untuk Renjun. Pantas adiknya pun ikut menyembunyikan nama dari calon Jaemin ini, bahkan Jaemin pun tak menyebutkan dari keluarga mana Renjun berasal.
Hal itu membuktikan seberapa ingin mereka menahan informasi Renjun agar tak masuk padanya, itu adalah kode bahwa ia jangan mencoba mencari tau soal Renjun. Karena ia pun tau kalau sampai ia mendapat informasi soal Renjun, otomatis istrinya saat ini pun akan tau soal Renjun.
"Aku akan ikuti maumu, tapi perhatikan setiap gerak orang disekitarmu. Jangan sampai mereka mencoba menyentuh Renjun." Isyarat dari Jaemin bahwa ia ingin ayahnya memastikan istrinya tak mencoba mencari tau soal Renjun.
Raja mencintai mendiang ratu dan Jaemin begitu besar, dan ia pun tau banyak kecurigaan yang mengarah pada istri keduanya. Tapi ia pun tak bisa membeti hukuman semudah itu pada istri keduanya, mengingat ia pun memiliki kasih sayang untuknya.
Tapi untuk sekarang, ia akan berada di pihak Jaemin. Mencoba memberi apa yang putranya itu inginkan, ikut menjaga apa yang ingin putranya itu amankan.
"Kalau aku mendengar ada satu langkah kecil saja untuk mendekati Renjun, aku yang akan memberi hukum pada orang yang menyakiti orang yang aku cintai. Walaupun orang itu istrimu sekalipun." Nada bicara Jaemin terdengar biasa, namun terselip ancaman tak langsung pada ayahnya itu.