Anak perempuan itu kerap melamun. Semenjak kejadian di gereja itu, dia terus memikirkan cibiran anak anak Netherland terhadap keluarganya. "Apa salahnya membaur dengan inlander? Kenapa mereka harus berpikir sejahat itu?".
Namun sikap orangtuanya berhasil menenangkan ivanna. Mereka tampak tak terganggu oleh sikap orang itu, sebaliknya mereka malah bersikap semakin baik terhadap pribumi yang ada di sekeliling mereka.
Keluarga van dijk dicintai oleh kaum inlander, tapi semakin dibenci oleh bangsanya sendiri.
Walau orang tuanya bersikap santai, ivanna berbeda. Anak itu berpikir sangat kritis. Dia takut orang tuanya terluka,takut adiknya terluka. Dia sendiri sama sekali tidak takut. Dia hanya menghawatirkan orang-oramg yang dia sayangi.
Rasa ingin melindungi adik laki-laki nya semakin besar. Di bertekad akan terus menjaga dimas sekuat tenaga.
Meski menjadi cibiran banyak pihak, persahabatan keluarga van dijk dan keluarga goen tak terputus. Peter van dijk semakin terasing dari bangsanya sendiri, bahkan Charles sahabatnya tak lagi dekat dengannya. Sebetulnya, Peter tetap melakukan tugas di kantor pemerintahan dengan baik, hanya saja tak ada lagi kaumnya yang mengajak berteman diluar jam kantor.
Meskipun begitu, Peter van dijk bukan orang yang suka mengambil pusing. Dia(Peter) mengabaikan semua orang yang memandang keluarganya, dengan sebelah mata. Tak ada ubahnya dengan Peter, suzie juga tak memusingkan bagaimana nyonya-nyonya belanda di sekitar memandangnya.
Dimata mereka, suzie terlalu aneh untuk diajak bergaul, tak bisa menempatkan diri, dan mengabaikan adat istiadat bangsa Belanda. Meskipun begitu,suzie tetap ramah terhadap mereka semua, tanpa terkecuali.
Hanya anak perempuan mereka yang terpengaruh. Sedikit² dia(ivanna) merasa tersinggung, sedikit² dia mulai memupuk dendam yang entah kapan akan meledak bagaikan bom waktu.
"Ivanna, mulai depan, kau sudah bisa bersekolah, ya!" ujar suzie mengecup kening anaknya sambil tersenyum.
Namun ivanna cemberut. "Untuk apa? Mama? Lebih baik aku tetap belajar di rumah saja, sambil menjaga dimas!".
"Kau harus bergaul, sayang. Kau harus punya teman, agar tak melulu dirumah bermain dengan adik laki-lakimu".
Ivanna mendelik ketus. " ada saiful, mama. Aku juga bergaul dengan ishak dan titi. Tak cukupkah itu?".
Suzie tertawa geli. "Kau bahkan tak menyebutkan satu pun nama anak belanda yang berteman denganmu. Bergaulah dengan mereka, agar pengetahuanmu semakin luas. Dengan mengenal banyak orang, dari berbagai kalangan dan suku bangsa, kau akan semakin bijak untuk menentukan seperti apa kau bersikap kelak".
Tak pikir panjang, dia langsung mengangguk. " baik, mama, bila itu yang memang mama dan papa mau".
Ivanna mengiyakan keinginan kedua orang tuanya bukan karena dia benar² mau bersekolah di sana. Dia menerima karena, kelak dia harus menjaga dimas, adiknya, dari anak-anak lain yang mungkin akan mencelakai anak itu di sekolah.
Berita kurang menyenangkan baru saja sampai ke telinga. Berita tentang kepindahan keluarga goenawan ke Batavia. Meski Batavia tak jauh dari tempat mereka tinggal, tetap saja hal itu akan membuat dia keluarga itu kesulitan sering bertemu.
Peter dan suzie pun bingung, bagaimana menyampaikan berita ini ke pada ivanna dan dimas. Karena kedua anak mereka sudah sangat akrab dengan anak-anak keluarga goenawan.
Sebenarnya, keluarga goenawan juga dijauhi oleh kaumnya karena bersahabat dengan keluarga van dijk. Padahal, kenyataannya goen dan keluarganya begitu mencintai tanah kelahiran mereka.
Sarinah sang istri juga sama gundahnya dengan goenawan. Belakangan ini dia merasa sangat dekat dengan suzie dan anaknya.
"Peter sepertinya kau harus cerita pada anak² soal kepindahan goen dan keluarganya. Aku tak tega menyatakannya, aku takut mereka kecewa".
Tapi Peter tetap tak setuju. Sama takutnya seperti suzie, dia tak mau menyampaikan berita ini terhadap anak anak.
Nyatanya keluarga goen sendiri yang akhirnya berpamitan pada keluarga van dijk.
Dimas yang masih kecil saja menangis, memeluk ishak dan titi. Sementara, ivanna memilih untuk berlari meninggalkan mereka semua, menangis di balik pohon belakang rumah.
Saiful sahabatnya lantas menyusul, lantas memeluk ivanna. Anak itu juga ikut menangis seperti ivanna, tapi dia masih mencoba menguatkan sang sahabat(ivanna) dengan mengucapkan sebuah janji.
" IVANNA, pegang janji saya. Suatu saat saya akan mencari kamu, dan menjaga kamu seperti saya menjaga adik saya sendiri. Kita tetap saudara sampai kapan pun. Jangan lupa kirimi saya kabar melalui surat, saya tidak akan pernah melupakan kamu, dan persahabatan kita..."
KAMU SEDANG MEMBACA
IVANNA VAN DIJK
Randomkisah hidup noni belanda IVANNA . Tapi aku bakal ceritain secara singkat biar ga terlalu panjang. Hantu belanda berambut pirang itu terlihat marah, gusar, dan mengusir siapapun yang datang ke rumah. Dia benci orang-orang berwajah melayu, dia benci...
