Bandoeng.
Benar kata orang-orang, kota ini sejuk dan ritmenya terasa lebih tenang ketimbang kota-kita lain yang pernah keluarga Van Dijk datangi.
Mereka memulai lembaran baru, menyusun langkah² yang diharapkan bisa memperbaiki kesalahan mereka di kota sebelumnya. Namun, yang mereka perhatikan hanya kinerja dan kerahmatamahan. Suami istri Van Dijk tidak pernah mau mengakui bahwa nama anak mereka yang sangat Inlander adalah masalah besar yang harus mereka atasi. Bisa saja, mereka mengganti nama depan putranya demi kelangsungan hidup anak itu. Tapi mereka tak melakukan hal itu.
Rumah tinggal mereka di Bandoeng terbilang cukup besar. Halamannya luas, para pekerja pun lebih banyak daripada di Buitenzorg. Semua ini gratis, karena Peter dianggap penting dan berjasa bagi pemerintah, khususnya bidang militer di Hindia Belanda.
Ivanna Van Dijk dan adiknya mendapat kamar bersebelahan, menghadap ke halaman belakang rumah. Di halaman belakang ada sebuah pintu-jika keluarga Van Dijk ingin keluar rumah tanpa diketahui orang lain, mereka bisa menggunakan pintu itu.
Ivanna sangat lega, jauh lebih ceria daripada biasanya. Setelah pindah ke Bandoeng, remaja yang beranjak dewasa itu menjadi semangat melakukan segala hal. Dengan sigap dia membantu orang tuanya membereskan barang-barang bawaan.
Lain halnya dengan Dimas. Anak itu tampak tak berminat membantu orang tua dan kakaknya. Dia lebih suka berdiam diri di kamar saja.
Ivanna menyadari gelagat itu, tapi tak sedikit pun terpikir olehnya bahwa Dimas enggan pindah karena hatinya tertambat di Buitenzorg.
Diam-diam ivanna masuk ke kamar sang adik. Dinas tengah duduk di depan meja belajar, asyik menulis sesuatu.rupanya Dimas tidak sadar kakaknya masuk ke dalam kamar. Ivanna berdiri di dekat adiknya, ingin tahu, apa yang sedang Dimas tulis.
𝘽𝙖𝙣𝙙𝙤𝙚𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙤𝙨𝙖𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖𝙢𝙪
𝙆𝙪𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙜𝙚𝙧𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪
𝘼𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙧𝙞𝙣𝙙𝙪 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝙠𝙞𝙩𝙖.
"Ivanna!"
Belum sempat membaca sampai habis, Tiba-tiba suaravSuzie Van Dijk mengejutkan Ivanna. Ibu mereka muncul di ambang pintu kamar Dimas.
Tak hanya Ivanna yang kaget, Dimas yang sejak tadi tenggelam dalam tulisannya pun terkejut. Ternyata sang kakak sejak tadi ada di belakangnya.
"Sedang apa kau disitu, ivanna? " suzie bertanya pada Ivanna.
Ivanna menggeleng. "Tidak ada apa-apa, mama. Aku hanya ingin mengobrol dengan Dimas."dia tergagap sambil melirik sang adik.
Dimas melototinya curiga. " kau membaca tulisanku? Kau mengintip, ya?"dia menuduh dengan kesal.
Ivanna langsung menggeleng. "Tidak! Jangan berprasangka buruk! Sejak tadi aku memanggilmu, tapi kau merespon. Maaf kalau begitu, aku tak akan menganggumu lagi!" dia berbalik, keluar kamar dengan mengenakan kaki kesal.
Suzie Van Dijk kebingungan melihat tingkah kedua anaknya itu. "Ya sudah, ivanna, bantu mama membereskan peralatan dapur. Kasihan para bedinde, mereka sudah tua dan lelah. Ayo ikut mama ke dapur!"
Tanpa bicara lagi, Ivanna berjalan cepat menuju dapur. Dalam benaknya, dia mulai bertanya-tanya, siapa yang dirindukan adiknya? Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasa kesal karena merasa tidak tahu apa-apa.
Otaknya terus memikirkan siapa yang dekat dengan Dimas. Namun, sama sekali tidak ada petunjuk, karena dia selalu merasa Dimas tidak memiliki teman, dikucilkan, dan tidak disukai siapapun.
Semester baru di sekolah baru.
Pada kenyataannya, Bandoeng sama saja dengan Buitenzorg. Dimas Van Dijk tetap menjadi bahan tertawaan teman-teman Londonya di sekolah. Namun, mental anak itu semakin kuat, dia tak peduli lagi pendapat orang lain tentang namanya yang aneh.
Dalam beberapa pertemuan dengan keluarga rekan kerja papanya, tanpa canggung dan malu Dimas Van Dijk memperkenalkan diri. Tentu saja ini membuat Peter van Dijk dan istrinya merasa tenang dan lega. Mereka yakin Dimas pasti mampu bertahan dan berkembang dengan sangat baik, tidak memedulikan perkataan jelek orang lain.
Ivanna tak lagi bersekolah. Sebenarnya, bisa saja dia kembali ke Netherland dan masuk Perguruan tinggi di sana. Namun, gadis itu menolak dengan alasan belum siap. Sebenarnya, ivanna tidak siap meninggalkan keluarganya demi kepentingan sendiri.kecintaan pada mama, papa, dan adiknya yang membuatnya enggan meninggalkan Hindia Belanda.
"Nanti saja, aku akan bersekolah di Netherland jika Dimas juga bersekolah di sana." Begitu yang pernah dia katakan pada orangtuanya.
𝙆𝙖𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙥𝙤𝙨𝙚𝙨𝙞𝙛 𝙄𝙫𝙖𝙣𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙟𝙚𝙣𝙜𝙠𝙚𝙡. 𝙏𝙖𝙠 𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙡𝙖𝙠𝙞-𝙡𝙖𝙠𝙞 𝙞𝙩𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙩𝙖, "𝙄𝙫𝙖𝙣𝙣𝙖, 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙬𝙖𝙨𝙖. 𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙖𝙣𝙖𝙠-𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙡𝙖𝙜𝙞. 𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙖𝙡𝙪!"
Di Bandoeng keluarga Van Dijk menjaga jarak dengan para Inlander, meskipun tau kedekatan mereka kerap akan menimbulkan masalah. Ivanna akrab dengan bedinde muda yang bekerja di rumahnya, begitu pula Dimas yang kerap menghabiskan waktu sepulang sekolah dengan anak-anak Inlander yang tinggal di dekat rumah keluarga Van Dijk. Dengan damai, mereka hidup berdampingan tanpa memedulikan ras, status, atau kebudayaan.
Sesekali, Dimas menyelinap pergi untuk mengirimkan surat-suratnya pada Elizabeth. Dia berharap Elizabeth akan membalas surat-suratnya. Tentu saja dimas tidak bodoh, Dimas mengganti namanya dengan nama perempuan di surat itu. Jika memakai nama asli terlalu beresiko. Apalagi Elizabeth terlalu dilindungi oleh kedua orangtuanya.
Namun, Dimas lupa Elizabeth tidak memiliki banyak teman di Hindia Belanda. Mustahil bagi perempuan itu berteman dengan seseorang dari Bandoeng. Dimas Van Dijk juga tidak menduga di Buitenzorg, Elizabeth mendapat masalah karena surat-surat itu.
Walaupun kini dia tidak se pendiam dulu, Dimas Van Dijk kerap melamun dengan muram. Penyebabnya adalah surat-suratnya yang tak kunjung terbalas.
Ivanna menyadari hal itu. Sama seperti Dimas, dia menunggu surat balasan datang. Dia tak sabar ingin tahu, siapa yang dikirim surat oleh sang adik.
Suasana Bandoeng tempo itu sungguh menyenangkan. Orang-orang Netherland dari kota lain di Hindia Belanda banyak berdatangan di Bandoeng, entah sekedar jalan-jalan, berbelanja, atau mencari pekerjaan di kota yang disebut-sebut parisnya Hindia Belanda. Bahkan tak jarang musisi atau penyanyi dari Eropa sengaja membuat pertunjukan di Bandoeng. Dan lambat laun dia mulai lupa pada Elizabeth, si cantik di Buitenzorg.
Dimas mulai belajar musik tradisional bersama teman-teman Inlandernya. Sering dia mengundang keluarga Van Dijk untuk menonton kepiawaiannya memainkan alat musik seperti suling atau kecapi. Ini tentu menjadi kebanggaan bagi orang tua dan kakaknya.
Meskipun begitu, tetap banyak cibiran karena kedekatan keluarga ini dengan kaum pribumi. Namun, mereka tak lagi memusingkan hal itu. Alih-alih takut, Peter Van Dijk malah bersemangat menularkan kecintaanya terhadap Hindia Belanda pada teman-teman sejawatnya.
Laki-laki itu terlalu polos dan baik hati. Selama yang dia lakukan itu menurutnya, Peter Van Dijk akan tetap berjuang, meski melangkah seorang diri.
𝘿𝙞𝙨𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧 𝙩𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙜𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝘽𝙚𝙡𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙟𝙖𝙝𝙖𝙩, 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙩𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙟𝙖𝙝𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙉𝙞𝙥𝙥𝙤𝙣. 𝙇𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙙𝙞𝙟𝙖𝙟𝙖𝙝 350 𝙩𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝘽𝙚𝙡𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙣𝙙𝙞𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙟𝙖𝙟𝙖𝙝 3,5𝙩𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙅𝙚𝙥𝙖𝙣𝙜.
KAMU SEDANG MEMBACA
IVANNA VAN DIJK
Randomkisah hidup noni belanda IVANNA . Tapi aku bakal ceritain secara singkat biar ga terlalu panjang. Hantu belanda berambut pirang itu terlihat marah, gusar, dan mengusir siapapun yang datang ke rumah. Dia benci orang-orang berwajah melayu, dia benci...
