"Ada kabar buruk, Suzie"
"Apa itu?"
"Rudolf Brouwer akan ditugaskan di Bandoeng. Dia dan keluargnya akan pindah kemari dalam waktu dekat"
"Astaga! Lalu kita bagaimana?"
"Mau bagaimana lagi, dia akan menjadi atasan ku di sini. Aku harus menyiapkan mental untuk itu."
"Tak bisakah kamu mengajukan untuk pindah lagi ke Netherland?"
"Tidak, sayang. Kau tahu aku tak mungkin melakukannya. Aku tak mungkin meminta-minta seperti itu. Selama ada dirimu dan anak-anak, kurasa aku akan baik-baik saja."
"Baiklah, kalau kau sekuat ini, aku dan anak-anak akan selalu mendukungmu. Tapi, yang aku tak habis pikir, kenapa dia sangat membenci kita? Apa salah kita"
"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Mungkin karena kita terlalu dekat dengan Inlander dan dia menganggap kita pengkhianat yang mendukung penggerakan Pribumi di Hindia Belanda. Tapi, ah sudahlah... Itu hanya prasangka ku.
Tanpa sengaja, pembicaraan Tuan dan Nyonya Van Dijk terdengar oleh anak laki-laki mereka. Di satu sisi, ini merupakan sebuah kabar yang sangat baik. Elizabeth Brouwer akan segera pindah ke kota ini! Namun, pembicaraan orangtuanya tentang Rudolf, ayah Elizabeth, sangat menganggu pikiran Dimas. Benarkah Tuan Brouwer sangat membenci keluarganya? Seketika, bulu kuduk nya meremang. Sosok Rudolf Brouwer yang terkenal galak dan angkuh terlintas dalam benaknya. Dia terus berusaha menguping pembicaraan Peter dan Suzie.
" Dimas sedang apa kau?" Tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya. Ah, ternyata Ivanna.
"Ah, tidak. Aku tidak sedang apa-apa. Aku akan ke kamar saja!" Dimas menjawab ketus sambil berlari kekamar.
Ivanna bingung melihat sikap Dimas. Semakin hari, adik laki-lakinya itu semakin tak sopan padaanya.
Ivanna menyusul adiknya kekamar, mendorong pintu sebelum Dimas sempat menguncinya.
"Dimas! Kenapa kau bersikap buruk padaku? Kau membenciku? Cepat katakan, apa salahku? Apa?"
Dimas balas memelototi kakaknya. "Kau mau tau apa salahku? Hah? Salahku adalah kau terlalu mencampuri hidupku! Dan satu lagi salahku, kau selalu menganggapku anak kecil!"
Ivanna murka, tak dapat mengendalikan emosinya. "Aku tau ini bukan dirimu yang sesungguhnya! Adikku mustahil bersikap kasar terhadap kakaknya! Kau berubah, Dimas! Apakah gadis itu yang mengubahmu sperti ini?" Tanpa sadar, terucap juga kecurigaan Ivanna tentang penerima surat sang adik.
Sesaat Dimas terdiam. Dia bingung. Namun, sejenak kemudian dia paham.
"Ck ck ck, bagus Ivanna! Kau mengintip tulisanku, ya? Dasar urus saja dirimu sendiri sebelum mengurusi ku! Jangan ikut campur dalam masalah-masalahku! Aku sudah besar! Sebenarnya, aku juga kasihan padamu karena orang-orang membicarakanmu, mereka bilang kau perawan tua!"
Dimas membanting pintu kamarnya dengan kasar, lantas menguncinya dari dalam. Ivanna terpana. Dia terkejut. Air matanya mulai mengenang. Tak pernah terpikir olehnya, sang adik kesayangan mampu berbicara kasar padanya.
Sebenarnya Tuan dan Nyonya Van Dijk mendengar perdebatan itu. Namun, mereka memilih untuk diam, mencoba tidak mencampuri urusan anak-anak mereka. Mereka ingin Ivanna dan Dimas mencoba menyelesaikan sendiri masalah itu.
Ivanna berpendapat bahwa perubahan sikap adiknya disebabkan oleh si anak perempuan yang dikirimi surat itu, walaupun dia tidak tau siapa sebenarnya orang itu.
Dalam hati, Ivanna bertekad akan mencari siapa sebenarnya gadis yang Dimas sukai, yang mengubah sifat adik semata wayangnya menjadi seorang yang tak lagi dia kenali.
Sementara itu, Dimas kesal dan terusik dengan sikap keingitahuan sang kakak yang tak ada habisnya.
Dimas Van Dijk membutuhkan privasi.
Situasi di rumah keluarga Van Dijk sekarang sangat kamu. Semua lebih pendiam. Bahkan Tuan dan Nyonya Van Dijk ikut diam. Mereka prihatin melihat kedua anak mereka tak lagi saling bicara. Bahkan acara makan malam yang biasanya ramai dan menyenangkan pun sekarang sesunyi pemakaman.
"Papa, kapan keluarga Brouwer akan pindah ke Bandoen?"
Tiba² Dimas memecahkan keheningN saat mereka sedang berkumpul di meja makan suatu malam. Setelah sekian hari tidak berbicara, tiba² Dimas bersuara.
Ivanna paling kaget. Dia baru tau keluarga Brouwer akan pindah ke Bandoeng juga.
"Darimana kau tau tentang itu, Dimas?"Peter Van Dijk menanyai anaknya dengan bingung.
Dimas memasuka suapan nasi goreng terakhirnya ke mulutnya. " Aku menguping pembicaraan kalian waktu itu, papa. "
Oh... Sayang!" Suzie baru sadar jika dia dan suaminya membicarakan masalah itu beberapa hari lalu. Dia juga khawatir karena ada beberapa pembicaraan yang seharusnya tidak pantas didengar anak-anak.
"Tunggu, papa. Brouwer? Letnan Jenderal itu? Benarkah dia akan pindah ke Bandoeng?" Ivanna memotong pembicaraan mereka.
Peter mengangguk. Dimas langsung menatap kakak perempuannya.
"Aku tak suka keluarga itu! Anak perempuannya juga arogan sekali di sekolah dulu. Apalagi orangtuanya?! Pasti sangat sombong dan menyebalkan!" Ivanna menyembur.
Dimas tiba-tiba membantah. "Kau hanya belum kenal dia. Sebenarnya anak itu baik, hanya tak suka berbasa-basi saja."
Jawaban itu malah membuat Ivanna semakin kesal lagi. Ivanna merasa Dimas selalu berusaha membantahnya. Apa pun pendapat Ivanna, pasti Dimas selalu menentang.
"Tahu apa kau soal basa-basi dalam pertemanan? Seumur-umur, aku tak pernah melihatmu berbasa-basi dengan orang lain. Bahkan dengan kakakmu sendiri pun tak pernah sekalipun kau berbasa-basi, meminta maaf karena sudah bertingkah tidak sopan."
"Kalau kau ingin dihargai oleh orang lain, hargai dulu orang lain. Termasuk aku. Tolong hargai privasi ku! Tak semua urusanku menjadi urusanku hanya karena kau ini adalah kakaku. Seharusnya kau duluan yang meminta maaf kepadaku karena telah mengintip isi surat kuasa tanpa sepengetahuanku. Papa, mama, maaf kalau makan malam ini jadi tidak menyenangkan. Aku tiba-tiba tidak nafsu makan malam ini, selamat malam."
Dimas meninggalkan ruang makan, lalu kembali ke kamar dan menguncinya dari dalam. Anggota keluarganya yang tersisa diruang makan hanya bisa berpandangan, merasa heran melihat sikap Dimas.
"Sayang, sepertinya kau harus mengalah. Minta maaflah kepadanya... " suzie memohon kepada anak sulungnya.
"Ya, papa tak tahu apa permasalahan kalian, siapa yang lebih dewasa, sebaiknya mengalah pada adik laki-lakimu.Minta maaf padanya, ya, sayang?" Peter ikut berpendapat.
Ivanna hanya membisu, menunduk sambil cemberut, seperti memikirkan sesuatu.
"𝘽𝙖𝙞𝙠, 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙢𝙖𝙖𝙛 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖𝙣𝙮𝙖. 𝙏𝙖𝙥𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙖𝙛𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙖𝙙𝙞𝙠 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙗𝙖𝙝."
𝙃𝙚𝙝𝙚 𝙨𝙤𝙧𝙮 𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙪𝙥𝙙𝙖𝙩𝙚𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙢𝙖😅
KAMU SEDANG MEMBACA
IVANNA VAN DIJK
Randomkisah hidup noni belanda IVANNA . Tapi aku bakal ceritain secara singkat biar ga terlalu panjang. Hantu belanda berambut pirang itu terlihat marah, gusar, dan mengusir siapapun yang datang ke rumah. Dia benci orang-orang berwajah melayu, dia benci...
