12.marah

30.5K 2.4K 82
                                        

HAPPY READING YUHUUUU

VOTE YA JAN LUFAAAA

"Ngapain tadi di perpus?"

Alan melirik Angkasa tanpa minat "Udah tau perpus banyak buku, ya jelas belajar lah"

"Ngapain tadi di perpustakaan?" Tanya angkasa sambil memutar kursi yang di duduki Alan menghadap ke arah nya

Kedua tangan Angkasa berada di pinggiran kursi, mengukung tubuh Alan

"Pacaran" jawab Alan santai, ia kembali menutup matanya sebelum tiba tiba—

"Bwangstwat" umpat Alan dengan suara tak jelas, Angkasa mencengkeram rahang Alan sangat kuat meskipun hanya menggunakan satu tangan

"Gue paling ngga suka sama sifat lo yang kaya gini, perlu gue bilang berapa kali, lo itu punya gue Za"

Angkasa melepaskan cengkeraman nya saat melihat Alan meringis kesakitan, kini tangannya bergerak membuka satu persatu kancing seragam Alan

Alan menghentikan tangan Angkasa "Mau apa lo anjing?" tanya Alan sembari menatap Angkasa penuh curiga

"Ngasih lo pelajaran"

Ucap Angkasa sembari berjalan ke arah laci, mengambil tali dan mengingatkannya ke kedua tangan Alan.

Tidak hanya itu, Angkasa juga membawa box berukuran tidak terlalu besar mendekat ke arah Alan

"kontol apaan anjing ini bangsat"

Angkasa acuh dengan semua umpatan Alan, ia kembali melanjutkan aktivitasnya untuk melepaskan kancing baju Alan yang sempat tertunda

Angkasa bergerak membuka box tersebut. Alan yang melihat isi nya pun melotot, segala jenis umpatan ia keluarkan untuk Angkasa

Cambuk, alat setrum kejut dan juga pisau kecil

"Ngga usah main main deh Sa, cara lo cupu banget anjing" Alan panik, ia menggerakkan kursinya untuk menjauh dari Angkasa namun Angkasa dengan cepat menahannya

"Kamu punya pacar berapa sayang?" tanya Angkasa sembari mengelus ngelus pipi Alan menggunakan telunjuknya

Alan menggelengkan kepalanya ribut "Gue ngga punya pac—"

Plak

"Berapa?"

Alan tidak langsung menjawab, ia merasakan sensasi perih di pipi nya "Enam"

"Keren lo begitu?"

CTAR

"Akhhh" Alan meronta ronta, ia menendang nendang kaki nya ke arah Angkasa.

Angkasa melayangkan cambukan ke tubuh Alan dengan kuat sehingga membentuk garis lurus dari dada sampai di bawah pusar

Tangan Alan mulai perih karena bergesekan dengan tali tersebut

"Sakit ga?"

Mendengar jawaban tersebut, Alan mengangguk cepat

"Engga? Ouhhh"

CTARRR

CTARRR

"AKHHH" Alan berharap seseorang mendenger suara teriakannya dan membebaskan dari seorang Angkasa yang kejam ini

"Kenapa? Ga usah takut kedengaran orang lain ruangannya kedap suara kok, triak sepuas lo aja"

"Udah Sa, gue mohon"

"Bentar dikit lagi"

Drettt dretttttt

"Akhhhh sakit sa sakit" kini cambuk nya berganti dengan alat setrum kaget dan sakitnya tambah lebih parah dari pada cambuk tadi

complicato || revisiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang