09. Dihukum

117 8 0
                                        

"Kak, cepetan bangun dan pergi dari kamar Lea!"

Argan membuka matanya yang terasa berat. Setelah tiga jam tidur setelah mengobrol sampai jam satu malam, Argan terpaksa membuka matanya. Namun telapak tangan Lea justru membuatnya tertutup kembali.

"Lea nggak bilang boleh buka mata! Pokoknya Kak Argan pergi, cepetan!"

"Wait, ada apa sih?"

"Bahaya banget pokoknya kalau Kak Argan buka mata, nanti monsternya marah. Buruan pergi, deh, Kak!"

"Lo kalau bangunin orang yang wajar dikit, ngapa! Gue masih merem, nih. Mana pintunya?!"

"Berdiri dulu, terus mundur tiga langkah, belok kanan dua langkah, balik badan dan keluar."

"Orang sembuh dari demam perasaan nggak segalak lo, Lea."

"Buruan pergi sebelum monsternya tambah banyak!"

"Iya-iya, astagaaa!"

Lea mengembuskan napasnya lega saat Argan telah keluar dari kamar. Ia menangis saat melihat darah di ranjang dan selimutnya. Bagian belakang bajunya juga penuh darah. "Bang*sat ya lo haid. Datangnya kok tiba-tiba banget. Lea kan lagi sama Kak Argan. Monyet emang."

"Untung Lea bangun duluan. Mau ditaruh di mana muka Lea kalau Kak Argan yang bangunin Lea terus kaget karena Lea berdarah banyak banget? Lea juga males kali nyuci sprei selimut setebel ini. Baru hari pertama aja udah banyak banget. Gimana nanti seharian di sekolah? Lea harus pakai pampers orang tua kali, ya!"

"Demam sialan. Ternyata bukan karena mau sakit. Lea kira bakal sakit berhari-hari terus dirawat sama Kak Argan. Ternyata cuma mau mens. Pantes aja Lea baperan banget semalem ngobrolnya. Tai!"

Lea mengambil handphone-nya dan menelepon Ale, seperti remaja yang baru pertama kali mendapatkan haid. Alih-alih mendapat perhatian sang mama, Lea justru diberi sederet nasihat dari Ale.

"Bukannya Mama udah bilang buat selalu sediain pembalut? Terus bikin kalender haid, nggak? Download sekarang. Kalau haid nggak boleh minum es sama teh. Nanti deres. Minum air anget, bikin wedhang jahe kalau perutnya sakit. Ganti setiap tiga sampai empat jam. Kalau di sekolah bawa cadangan. Malu kalau minta temen apalagi ke UKS. Izin nggak usah ikut jadwal olahraga dulu, nanti deres. Inget-inget kata Mama!"

"Ishh. Ini bukan pertama kalinya Lea dapet haid, ya Mam. Lea jadi takut ngapa-ngapain soalnya perkataan dan perbuatan Lea nggak bisa dikontrol pas haid. Betewe Mam..."

Lea mengempit handphone di antara telinga dan bahunya sembari membereskan selimut dam sprei.

"Apa? Mama udah mau kerja ini."

"Oh iya, di sana sama kayak WIT."

"Iya, betewe tadi apa Arunika?"

"Kak Argan sama Kak Felix udah jauh. Harus cepet-cepet gelar pernikahan."

"Udah sampai mana mereka? Lagian, habis mereka wisuda juga langsung Mama nikahin."

Lea mengembuskan napasnya. "Hadeuuh ... kayaknya semua gara-gara Dokter Teraza. Pas ulang tahunnya Kak Felix, something happened. Lea lihat mereka ciuman sama ada kissmark di leher Kak Felix. Ewh."

Lea justru mendengar kekehan kecil dari Ale yang membuatnya marah. "Ma!"

"Bagus, dong? Mereka semakin dekat, berarti Argan bisa segera sembuh."

"I see. I mean ... apa hubungannya fobia sama kedekatan mereka? Nggak masuk akal banget."

"Tanya aja sama Teraza. Udah dulu ya, Papamu udah sewot. Inget pesan Mama tadi, muach!"

ARGALEA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang