Lea mendorong trolinya yang masih kosong menyusuri jajaran boneka berbagai ukuran. Ini sudah keempat kalinya ia berjalan di antara rak-rak berisi boneka itu. Ia mencari boneka untuk Gebi dan Nata dan akan ia berikan ketika acara wisuda nanti. Gadis itu sendirian sembari memikirkan hadiah apa yang akan ia berikan selain boneka.
Ponselnya berdering sudah dua kali, Lea membiarkannya karena itu pasti hanya panggilan dari Ale yang akan menghabiskan waktunya. Lea berhenti, bukan untuk menjawab panggilannya, tetapi ia sudah menemukan bonekanya. Tiga monyet kembar yang menurutnya cocok untuk mereka bertiga.
Ponselnya terus berdering membuat Lea merogoh sakunya dan mengangkat panggilan itu. "Apasih Mam Ale? Lea baru sibuk!" pekiknya tanpa melihat nama si penelepon.
"Lea ...."
Suara Argan. Lea terdiam menunggu Argan melanjutkan bicaranya.
"Gue dapat telepon dari Theo kalau Felix pergi le tempat ayahnya."
"Hah? Bukannya ayahnya di penjara?"
Argan menghela napas dan terdengar sedikit isakan. "Ke ayah tirinya yang di Australia," sambungnya. "Dia tiba-tiba pergi tanpa ngasih tau gue."
Lea mengernyit, mengapa Felix tiba-tiba pergi setelah satu bulan terakhir ini hubungan mereka baik-baik saja? Bahkan Lea kerap kali menemukan kakaknya itu bermesra.
"Kak Argan udah coba menghubungi? Alasan Kak Felix pergi? Siapa tau acara keluarga, kan?"
"Panggilan gue nggak ada yang dibalas. Pesan-pesan gue nggak dibaca. Kalau acara keluarga, Theo seharusnya juga ikut." Lea mendengar Argan terisak kembali.
Kelemahan terbesar kakaknya memang adalah Felix. Kehilangan Felix membuat Argan menjadi gila. Sebab, Felix selain kekasihnya adalah satu-satunya orang yang bisa menyembuhkannya.
"Lea, kalau gue nyusul ke sana gimana?" tanya Argan setelah beberapa saat.
"Gila!" sahut Lea. "Kak Argan, lihat dulu kondisi Kakak gimana. Baru nggak stabil. Oke kalau Kak Argan baik-baik aja, silahkan. Lea temenin. Tapi Kak Argan baru gini. Belum lagi tugas kuliah, lah. Bentar lagi Lea juga wisuda. Kak Argan harus nyiapin banyak energi buat datang nanti."
Lea mengambil boneka monyetnya dan buru-buru membayar benda itu. "Lea pulang. Ayo ke tempat Dokter Teraza."
***
Lea seperti merawat batu ketika ia pulang. Argan terdiam di sofa dengan tatapan kosong. Rambutnya berantakan dan dua kaleng bir telah habis di atas meja. Ketika Lea memberikan makan siang, Argan tak mau makan dan harus ia paksa.
"Like he's not my brother, Oh My God," desah Lea ketika Argan tertidur di sofa. Lea pun menyampirkan selimut ke tubuh Argan. Ia duduk di bawah sembari beristirahat sejenak setelah membuatkan Argan makan dan menidurkan Kakaknya.
Lea membuka ponsel dan menelepon Ale. "Mam, Lea abis jadi babysitter."
"Haa? Bayinya nggak kamu tendang kan?"
"Boro-boro tendang, udah Lea chopper sampai jadi debu. Mam, kasian Kak Argan."
"Kenapa lagi Argan? Nggak mau ke Teraza? Oke biar Mama suruh Teraza ke rumah."
"Mam, dengerin Lea dulu, kenapa! Lea tuh pengen curhat."
"Iyaaaa sayangku cintaku. Ada apa? Mama siap dengerin."
"Kak Argan kayak ODGJ. Tadi Lea kan baru beli boneka buat wisuda nanti buat dikasih ke Nata dan Gebi. Then, Kak Argan telepon Lea sambil nangis. Itu bukan Kak Argan banget, Mam. Lea antara takut sama kasihan pas dengerin Kak Argan ngomong. Suaranya bergetar banget kayak abis kesetrum. Nah, posisinya nih Kak Argan di rumah sendirian. Pas telepon tuh Kak Argan cerita kalau Kak Felix pujaan hatinya..."
"Kenapa sama Felixia calon mantuku?"
"Kak Felix tiba-tiba ke Australia, ke tempat ayah tirinya. Kak Argan langsung down dan Lea melarang dia buat nyusul ke sana. Apalagi kan Kak Argan baru final-final pemulihan nih, Mam. Satu bulan yang lalu setelah pesta mereka pun, setelah kita ke Dokter Teraza katanya Kak Argan udah on the way sembuh 80%. Dan melihat kondisinya saat ini, Lea takut kalau usaha Kak Argan sama Kak Felix sia-sia."
"Itu Felix kabur atau ada acara?"
"Kabur. Kalau ada acara, harusnya dia sama adiknya juga dong."
"Astaga. Nggak habis pikir Mama. Gini, kamu yang sabar jagain Argan. Kita bakal pulang tahun ini, kok. Sabar ya, Lea. Hubungin Mama kalau ada apa-apa."
"Nggak bisa bulan ini, Ma?"
"Enggak, kakekmu baru sakit di sini. Nggak enak kalau kita pulang."
"Sedih banget, Mam. Salam buat Kakek sama Papa, ya. Lea mau mandi. Bye-bye Mam Ale..."
"Bye sayang, love you."
Lea mendesah setelah mematikan ponsel. Ketiga boneka monyet yang masih terletak di atas meja ia tatap bergantian dengan menatap Argan. Tatapan Lea berubah redup.
"Ini salah Lea. Semuanya salah Lea. Kak Argan jadi gini sampai gede gara-gara Lea. Lea ... pengacau. Udah perna nyakitin hati Nata, suka sama Kakak sendiri, pernah punya niat menghancurkan Kak Felix, sumpah jahat banget lo, Lea," geramnya sembari mengenalkan tangan.
Lea lalu berlari ke kamar sambil membawa boneka monyetnya. Tak lupa, dengan tangisan cengeng nan lebay yang beruntungnya tak membangunkan tidur Argan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARGALEA [On Going]
Teen FictionArgan tak mengira bahwa Lea, adiknya yang super manja, menye-menye, berisik, dan segala sikapnya yang childish itu ternyata adalah alasannya untuk bisa sembuh dari fobia yang ia hadapi. Argan selalu percaya bahwa kekasihnya, Felix, yang dapat menyem...
![ARGALEA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/265303940-64-k207082.jpg)