Pukul delapan malam, Lea memilih berjalan setelah meminta Kean mengantarnya sampai jalan utama di perumahannya. Ia khawatir Argan bertanya lebih banyak tentang Kean yang awalnya ia sebutkan adalah kakaknya temannya. Ia berjalan berhati-hati menutup gerbang hingga sampai di depan pintu.
Lea pun membuka pintu dengan perlahan, ia sudah cukup percaya diri bahwa Argan ada di lantai atas. Tetapi ketika dirinya berbalik, Argan sudah berdiri lengkap dengan Abel, temannya, yang berada di belakangnya. Lea membelalak, ia bahkan tidak briefing dulu kepada temannya itu.
"Hai," sapa Lea dan meringis. "Ih, Abel, kok nggak ngomong tadi kalau mau ke rumah? Pantesan tadi Abangnya Abel—"
Lea menggantungkan kalimatnya ketika melihat ekspresi Argan yang sepertinya marah karena ia ketahuan berbohong dan Abel dengan muka polos ketakutan itu. Lea mengembuskan napas dan mendekati temannya.
"Abel kok bisa sampai sini?"
"Gue ikut disidang anjir. Lo ke mana aja, sih? Kenapa bawa-bawa gue?"
Lea tersenyum lebar dan menyeret kecil lengan temannya untuk mengantarkan keluar. "Hehe, apa pun itu sorry, ya. Lea pesenin GoCar buat Abel pulang," ucap Lea sambil berkutik dengan ponselnya. Ia menemani beberapa menit sebelum akhirnya terlihat mobil berhenti di luar.
"Jangan diulang lagi yang kayak gitu, kalau sampai gue kena lagi, nggak akan gue jadiin model," pungkas Abel sebelum akhirnya keluar dari gerbang.
Lea menggaruk kepalanya, ia bahkan heran kenapa bisa Abel sampai ke rumah. Lea kini mempersiapkan nyali karena ia sudah ketahuan berbohong. Gadis itu pun segera naik ke kamarnya sebelum Argan menghujaninya dengan pertanyaan dan omelan tiada ujung.
"Jadi dengan siapa lo pergi seharian ini?"
Lea berhenti di tengah anak tangga ketika suara Argan terdengar begitu kejam. Lea pun mengembuskan napas dan berbalik. "Setengah hari, Kak. Nggak seharian," ralatnya dan kembali melanjutkan langkah.
"Kita dibesarkan bersama bukan untuk berbohong," ucap Argan dengan tegas, membuat Lea berhenti lagi. "Jawab gue, Leana."
Kalau sudah seperti ini, Lea mau tak mau harus jujur. Ia dengan wajah panik dan susah itu akhirnya menuruni tangga lagi dan menghadap Argan. "Kak Kean. Lea diajak makan siang Kak Kean," jawabnya berharap Argan segera puas.
Alih-alih puas, Argan justru terkejut. "Ngapain aja? Makan siang sampai semalam ini?"
Mata nyalang dan tajam Argan membuat Lea takut. Tetapi karena Lea sebenarnya sudah menduga hal ini akan terjadi dan ia sudah tidak mampu berbohong lagi, terlebih kepada Argan, Lea akhirnya kelepasan.
"C'mon, Kak. Laki-laki itu kenal sama Kak Felix dan kalian justru nggak saling kenal. Lea mendapatkan banyak informasi, terlebih tentang hubungan dia—"
"Hubungan apa?"
Lea menggeleng. Ia segera berlari menuju kamarnya setelah Argan bertanya dengan nada yang lebih rendah. Tidak. Ia tidak bisa memberitahu semuanya kepada Argan di saat kondisi kakaknya tidak baik-baik saja.
Argan tidak mengejar. Lea segera mengunci kamarnya dan membersihkan diri. Ia sudah berbicara terlalu banyak. Ia tidak boleh memberitahu lebih banyak tentang apa yang Kean ceritakan.
Lea menormalkan napasnya sejenak sebelum mengeluarkan gelang milik Kean yang ia urungkan untuk mengembalikan. Lea meremas gelang itu kuat, menyalurkan emosinya setelah mengetahui semua yang Kean ceritakan, tentang mantan kekasih kakaknya itu.
Ia kemudian membuka lemari dan mengambil baju tidurnya, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan akan segera tidur. Lea hanya ingin pikirannya tenang terlebih dahulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARGALEA [On Going]
Roman pour AdolescentsArgan tak mengira bahwa Lea, adiknya yang super manja, menye-menye, berisik, dan segala sikapnya yang childish itu ternyata adalah alasannya untuk bisa sembuh dari fobia yang ia hadapi. Argan selalu percaya bahwa kekasihnya, Felix, yang dapat menyem...
![ARGALEA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/265303940-64-k207082.jpg)