17. Happy Graduation!

58 2 0
                                        

Argan berdiri lama di samping mobilnya terparkir. Sementara sudah dua jam yang lalu acara wisuda Lea dimulai. Benar-benar tak dihadiri orang tua karena masih dibatasi. Bukannya Argan tidak diperbolehkan masuk, ia masih ragu terhadap dirinya sendiri. Argan menjadi gugup, sepertinya bukan karena keramaian di dalam sana, tetapi karena Lea yang akhir-akhir ini membuatnya kehilangan kewarasan.

Argan jelas turut bangga ketika ia menyaksikan dari layar Lea memberikan pidato sebagai siswi peraih nilai terbaik. Lea memang telah bekerja keras, Argan bahkan tak menyadari semua hal itu. Ia hanya tahu Lea belajar dan sering les. Argan turut bangga, kerja keras Lea terbayarkan.

Tinggal menunggu hari di mana Lea akan memulai kuliah. Argan belum mengetahui apa-apa yang diinginkan Lea terkait perguruan tinggi. Ia harus mencari tahu lebih banyak. Karena jika Lea ingin di luar kota ... Argan mungkin akan lebih gila. Ia belum siap melepas adik kesayangannya.

Benar, adik kesayangan. Argan sangat menyadari hal itu.

Argan lalu memilih masuk ke dalam mobil setelah merasa udara begitu panas. Ia melirik pada dua paperbag di belakang. Argan lalu membuka dashboard dan mengeluarkan kotak berwarna navy. "Normal nggak ya kalau gue ngasih ini?"

"Nggak, orang wisuda dikasih buket," ucapnya kemudian. Argan lantas keluar dan mendekati penjual buket bunga yang berada di seberang jalan.

Penjual bunga pun terkejut, ketika pria di depannya bilang ingin dibuatkan buket mawar hitam.

"Kenapa tidak mawar atau peony saja yang lebih berwarna? Lebih murah juga."

Argan menggeleng. "Saya ingin mawar hitam ... sedikit peony merah tidak apa."

"Bapak ini ... tergila-gila dengan siapa kalau boleh tahu? Mawar hitam melambangkan cinta yang obsesif dan juga posesif. Sementara peony merah adalah cinta yang romantis. Lucu sekali," jelas penjual bunga sambil tersenyum.

"Saya masih dua puluh dua tahun, belum bapak-bapak. Ini untuk adik saya," sahut Argan. Ia segera menyadari makna bunga yang dijelaskan oleh si penjual dan kalimatnya. "Adik saya suka warna hitam dan peony," sambungnya.

Si penjual terkekeh dan membungkus tangkai-tangkai itu dengan cellophane berwarna senada. "Karena untuk adiknya, harganya 350 ribu saja."

Argan mengulurkan lima lembar seratus ribuan. "Tidak usah kembalian, saya sedang bahagia," sahut Argan cepat dan kembali lagi ke parkiran.

Argan meletakkan buketnya di samping kado untuk teman-teman Lea. Ia kembali menyandar untuk melihat rangkaian acara. Sedang ada pertunjukkan seni tari tradisional, Argan tersenyum menatapnya, terlebih ketika wajah Lea tersorot kamera. Argan tak rela wajah secantik itu dilihat oleh banyak orang.

"Boleh saja loh kalau mau masuk, Pak," sapa seorang satpam yang tak sengaja mendapati Argan berdiri menatap layar. "Di dalam juga ada beberapa wali dari siswa berpengaruh. Katanya sih acaranya hanya untuk siswa, tapi itu nyatanya ada wali yang datang juga. Silakan," lanjut satpam itu.

Argan pun berjalan masuk ke aula tempat diadakannya acara wisuda. Kini ia sedikit gugup, benar-benar gugup karena akan menatap banyak orang. Ia beberapa kali melewati kursi dengan tanda silang yang menandakan ia tak boleh duduk di sana. Argan lalu memilih kursi paling belakang, mencari aman untuk dirinya sendiri.

Handphone nya berdering, pesan masuk dari Lea.

Leak
KAK ARGAN LEA UDAH PIDATO IH

Leak
KAK ARGAN MASUK YA? DI MANA?

Leak
IH KOK DI BELAKANG

Leak
eh kak argan gpp kan

Leak
TUNGGU BENTAR LAGI YA ABANGKU SAYANG

ARGALEA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang