21. Argan Sangat Mengerikan

84 3 0
                                        

Lea berjalan pelan setelah melihat kakaknya sedang memasak untuk makan malam. Ia menuang air minum setelah sempat menatap canggung kepada Argan. Tak berbicara, Lea pun memposisikan diri di meja makan, menanti kakaknya menyiapkan makan untuknya.

Lea akan bersikap seolah tak ada yang terjadi di antara mereka beberapa saat lalu. Karena saat ia menatap setiap gerak-gerik Argan, rupanya kakaknya itu juga bertingkah seperti tak ada yang terjadi.

"Wow, you made this steak?" Lea tertegun ketika Argan menyajikan daging di depannya lengkap dengan pisau dan garpu. Sambil merutuki pertanyaan retorisnya yang terlalu basa-basi.

Argan berhenti sejenak, berbalik dan membalas pertanyaan retoris adiknya. "No, itu rendang. Ya kali, yang lo lihat aja gimana."

Lea terkekeh. "Habisnya jarang banget Kak Argan bikin steak as a dinner. Mama sama Papa jadi, Kak?"

"Yeah." Argan mengambil iPad-nya yang sudah terhubung dengan kedua orang tuanya. Lea ingin berteriak ketika melihat Ale dan Reinhard duduk berdua sambil tersenyum menatapnya.

"Sayangnya Mama, itu makan apa?" tanya Ale usai mereka saling menyapa.

Lea segera memperlihatkan piringnya. "Look at this, Mam. Chef Argan just made me a steak, kelihatannya enak banget. Lea suapin, ya?" balas Lea dengan semangat, memotong sedikit daging dan menjulurkan suapannya ke layar.

Argan yang melihat hal itu tersenyum tipis dan segera bergabung di samping Lea. "Ini chef-nya. Apakah kalian juga ingin dibuatkan? Makanya cepetan pulang," gurau Argan membuat kedua orangtuanya tertawa.

"Akhir tahun, janji," sahut Reinhard. "Habis itu kita nggak akan tinggalin kalian lagi. Iya, kan, Ma?"

Terlihat Ale mengangguk. "Mama nggak sabar, deh, lihat rumah lagi. Masih sering mati listrik di sana?"

Tentu, pertanyaan dari Ale membuat Lea yang sedang mengunyah itu tersedak. Argan dengan cekatan segera memberikan air minum.

"Aduh, pelan-pelan, Sayang," ucap Ale. "Masih sering, ya?"

Setelah merasa baikan, Lea menjawab, "Tadi habis mati. Tapi Lea baik-baik aja, kok. Kan ada Kak Argan," jawab Lea dan tersenyum kecil menatap Argan.

"Bagus. Itulah fungsi saudara," Reinhard menimpali.

"Seneng, deh, Pa, lihat mereka sangat rukun."

Tak ada obrolan lagi selain dua saudara itu menghabiskan makan malam ditemani orang tuanya yang berada di dalam layar.

Ketika Argan sibuk merapikan piring ke wastafel, Reinhard tiba-tiba menyeletuk, "Leana, coba tanyakan kakakmu itu kemarin bilang ke Papa kalau sudah move on. Terus katanya udah suka sama orang. Mana baru lulus, kayaknya seusia kamu."

Lea mengernyit. "Hah?"

"Iya, kemarin pas nganter kamu wisuda. Kakakmu bilang begitu. Papa kepo deh siapa orangnya," sambung Reinhard yang disusul senyuman lebar oleh Ale di sampingnya.

Lea menatap Argan yang sedang berjalan ke arahnya. Argan pun bertanya melihat ekspresi adiknya itu. "Kenapa?"

"Papa bilang Kak Argan udah suka sama orang. Siapa?" tanya Lea mengulang pertanyaan ayahnya.

Shit. Argan mengumpat dalam hati. Seharusnya pagi itu ia tak kelepasan untuk bercerita kepada Reinhard. Argan mengusap rambutnya, merutuki kebodohannya karena tergila-gila kepada adiknya sendiri.

"Gan?" panggil Ale karena Argan hanya diam saja. "Jadi benar, Arganta?"

Lelaki itu merasa sedang diinterupsi. Argan hanya bisa pasrah dan mengangguk. "Ya, dia baru lulus. Bener," jawab Argan sekenanya.

ARGALEA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang