18. Hampir Aja

91 3 0
                                        

Lea yang sudah selesai bersiap dengan wrap dress berwarna navy, warna yang sama dengan kebaya yang ia gunakan hari ini. Rambutnya ia gelung dan sedikit memberikan kesan messy hair. Di lehernya tentu tidak polos, ia masih mengenakan kalung dari kakaknya dan memakai anting yang sedikit panjang. Tak lupa, ia juga mengenakan heels setinggi 5 senti dan menenteng hand bag, menuruni anak tangga dengan elegan layaknya puti kerajaan.

Ekspektasinya runtuh begitu saja ketika ia mengira Argan akan menunggunya dan mengulurkan tangan untuknya. Argan tampak masih sibuk dengan laptop di sofa. Lea mempercepat langkah dan mendekati Argan.

"Kak Argan jadi ikut enggak, sih?"

Argan terkesiap. "Eh, jadi. Ini baru dapat kabar dari Papa kalau Felix bener-bener bakal menetap di sana, Theodore juga." Argan mengusap wajahnya dan menutup laptop.

"Lima menit lagi gue turun, gue ganti dulu," lanjutnya ketika Lea malah mematung.

Lea pun melempar tasnya di sofa dan kini ia yang harus menunggu Argan. Ia sudah dandan seperti orang dewasa seperti ini, Argan malah membuatnya menunggu. Tetapi tak lama setelah itu, Lea tersenyum lebar mengingat ketika Argan memakaikan kalung untuknya.

Ia juga sudah memasukkan semua mawar hitam ke vas yang ia isi air dan memajangnya di kamar. Begitu kontras karena hampir seluruh kamarnya berwarna merah muda. Lea tersenyum lagi betapa kakaknya terlihat manis.

Gadis itu segera mengubah ekspresi wajahnya saat mendengar langkah kaki Argan. Ia mengambil tasnya dan berjalan lebih dulu.

"Dari belakang lo nggak kelihatan tujuh belas tahun. Jadi, nanti di sana lo harus sama gue terus," celetuk Argan, mengambil alih tas Lea dan segera membukakan pintu mobil.

"Emang, Lea kan udah mau delapan belas. Udah lulus nih, bos!" sahut Lea.

"Udah gue bilangin, nggak usah aneh-aneh. Mana dandanan lo kayak gini," balas Argan.

"Lea dandan kayak gimana pun tetep cantik, ya." Lea memalingkan muka dan melipat tangan. Tak menatap Argan selama perjalanan menuju Alexus. Meski dalam hati, gadis itu sedikit khawatir tentang kondisi Argan.

Bagaimana jika tiba-tiba Argan kumat ketika berada di dalam kerumunan orang-orang? Apakah lebih baik mereka putar balik saja dan makan di rumah? Lagipula, ia dan teman-temannya satu komplek. Tidak, dia kan sudah berjanji. Argan sendiri yang tadi siang menawarkan diri untuk ikut. Meski Dokter Teraza sudah mengatakan bahwa Argan akan baik-baik saja, tetapi tetap saja Lea khawatir akan kakaknya. Sempat terbesit entah darimana pikiran kotor Lea bahwa sesampainya di Alexus ia akan memesan private room saja untuknya dan Argan—tidak! Lea segera menggeleng. Ia harus berpikir normal.

"Jujur ini first time juga kan Kak Argan ke Alexus?" tanya Lea setelah mereka saling hening.

"Nggak, pas semester awal gue pernah. Terus dijemput Papa gara-gara gue kumat. Untung yang kena marah si Adrian."

Lea menyembur tawa. "Waktu itu ada Kak Felix juga?"

"Nggak, Felix ada part time. Eh, gue baru inget. Felix pernah part time juga di Alexus."

"Kenapa berhenti?"

"Pertama, Felix sibuk. Kedua, nggak dibolehin sama Mama."

Lea sedikit menyesal tiba-tiba menanyakan Felix, terlihat jelas raut wajah Argan yang berubah. Sudah bukan waktunya membahas mantan kekasih kakaknya itu. Ia juga sangat tahu bagaimana Felix begitu disayang oleh orang tuanya karena tahu Felix jauh dari keluarga.

"Tadi Lea dikasih parfum sama Abel. Tau Abel? Temen kelas Lea yang punya bisnis parfum sejak kelas dua. Wangi nggak?" Tiba-tiba Lea menyodorkan pergelangan tangannya ke depan Argan.

ARGALEA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang