Lea terbangun dan merasakan sedikit pegal pada badannya karena ia tidur di sofa. Ia awalnya terusik dengan suara sedikit chaos di sekitarnya dan barulah menyadari bahwa ia terbangun di ruang lukis. Lea merenggangkan badan dan memperhatikan bahwa Argan yang membuat keributan kecil itu.
Dilihatnya Argan berfokus pada kanvas, menyapukan kuasnya dengan hati-hati, matanya terlihat lelah tetapi masih terus memperhatikan setiap detail di atas permukaannya.
Ia tak sepenuhnya melihat Argan karena yang ia lihat hanyalah punggung kanvas dengan kayu dan sebuah tangan memangku palet berisi cat yang bercampur beberapa warna.
"Kak?"
Barulah Argan memiringkan badan, wajahnya sudah terlihat karena tadi tertutup oleh kanvas. Lelaki itu kembali berfokus. "Jam berapa baru bangun?"
Lea mengerjap. "Hah? Emang jam berapa?" Ia segera menoleh pada jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Lea melengos dan mengacak rambutnya. "Padahal harusnya daftar ulang jam tujuh tadi. Untung masih sampai jam dua belas. Eh, Kak Argan nggak tidur?"
Lea teralihkan kembali kepada kegiatan Argan sepagi itu—sebenarnya sudah tidak pagi tetapi Lea baru bangun. Gadis itu mendekat dan Argan segera meluruskan kaki kanannya, memberi tanda Lea tidak boleh mendekat lebih. Sementara ia masih terus berpaku pada lukisannya.
"Apa sih, kok gitu?"
"Cuci muka terus sarapan sana, udah gue siapin di meja," ucap Argan tanpa mengalihkan perhatian.
Lea berubah tersenyum. "Okay, Lea tau. Meskipun kita bertengkar, itu nggak akan bertahan lama karena besoknya pasti Kak Argan selalu baik," puji Lea.
"Siapa yang bertengkar? Lo juga udah minta maaf. Udah, sana." Argan mengelak.
"Maaciw Kak Argan sayang!"
Argan mati-matian menahan senyum ketika Lea melompat kecil keluar dari ruangan itu. Ia lalu tak bisa menahannya lagi, tersenyum hingga tertawa kecil memperlihatkan giginya ketika Lea sudah benar-benar pergi.
Argan menatap lembut pada lukisan yang sedang ia selesaikan. Tetapi ia sudah mengantuk. Sedikit lagi, ia akan selesai.
Sosok setengah badan dengan dress kuning muda, membawa bunga Daisy dengan kedua tangannya tersenyum lebar. Rambutnya tergerai dan seperti terbang tersapu angin. Mata cokelatnya berbinar dengan lesung pipi yang tercetak melalui garis senyuman, memperlihatkan deretan gigi-gigi rapi. Pipinya ia beri warna merah muda agar terlihat sedikit merona.
Argan tersenyum sembari menyapukan warna cokelat muda di bagian lengan. Sosok Lea yang tersenyum lebar mulai terlihat ketika ia memundurkan tubuhnya, menatap baik-baik pada lukisan yang ia buat sejak dini hari. Awalnya ia tak terpikirkan sama sekali untuk melukis potret adiknya itu. Namun, melihat Lea yang tertidur dengan nyaman dengan kaki sedikit menekuk di atas sofa, ia meringkuk seperti kucing yang mencari kehangatan di atas sofa dan dibalut selimut, membuat Argan ingin berlama-lama bersama adiknya. Jadi ia segera mencari foto Lea di ponselnya.
Argan memilih potret Lea ketika berlibur bersama keluarganya dua tahun lalu—tanpa ia tentu saja. Kala itu Lea mengirimnya banyak foto serupa hingga isi percakapan mereka hanya foto-foto Lea.
Ia pun meletakkan kuas dan pallet. Membersihkan tangannya yang penuh dengan cat dan meninggalkan ruang lukis setelah sempat membalik lukisannya agar tak terlihat oleh Lea.
Usai membersihkan diri, Argan menuju dapur hendak memastikan Lea sudah selesai menghabiskan makanannya. Dilihatnya Lea sedang berkutik dengan alat makannya di wastafel. Busa di lengannya dan air yang memancur membilas piring yang selesai ia gunakan makan. Argan tersenyum singkat, jarang bahkan tidak pernah adiknya itu mencuci piringnya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARGALEA [On Going]
JugendliteraturArgan tak mengira bahwa Lea, adiknya yang super manja, menye-menye, berisik, dan segala sikapnya yang childish itu ternyata adalah alasannya untuk bisa sembuh dari fobia yang ia hadapi. Argan selalu percaya bahwa kekasihnya, Felix, yang dapat menyem...
![ARGALEA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/265303940-64-k207082.jpg)