20. Kakak dan Adik Kok Gini?

103 2 0
                                        

⚠ 18+ ⚠

Argan terusik dari dunia mimpinya ketika ia merasakan gencatan terus menerus di ranjangnya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya sadar Lea yang melakukannya, meloncat seperti anak-anak bermain trampolin.

Argan segera terbangun dan menarik lengan Lea untuk menghentikan kegiatan adiknya. "Kenapa lagi, sih? Gue baru aja ketiduran dan lo ganggu tidur gue, tau nggak?" omelnya sambil mengacak rambutnya, kesal.

Lea segera mendekat dan memeluk erat lengan Argan. "Lea diterima, Kak! Lea belum ngasih tau Kak Argan, sebenarnya Lea mendaftar di kampusnya Kak Argan, di jurusan yang sama."

Lelaki yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya itu seketika mengubah raut wajahnya dan berganti ia yang memeluk Lea erat. "Selamat! Lo keren kata gue."

"Aggh... Lea hampir tercekik. Kak Argan kenceng banget kayak sapi," ucap Lea sembari berusaha melepaskan tangan Argan.

Kakaknya itu langsung menarik tangannya. "Habisnya gue ikut seneng. Malam ini mau ke mana? Gue temenin kalau mau keluar. Atau lo pengen—"

"Video call aja ke Mam and Pap soalnya yang kemarin itu bohongan. Siapa tau mereka nggak akan kesal dan nggak akan pernah tahu apa yang terjadi kemarin karena mereka senang anak gadisnya ini diterima di perguruan tinggi! Ahay!" potong Lea sambil mengibaskan rambutnya.

Raut antusias Argan kini berubah menjadi senyuman teduh, seperti turut merasa bangga atas pencapaian adiknya. Ia lalu mengambil laptop dan mengirim pesan kepada kedua orang tuanya agar meluangkan waktu untuk nanti malam.

"Nanti gue ke kamar lo kalau Mama Papa udah siap. Lo mending juga siap-siap. Gue bikin makan malam dulu," ucap Argan kemudian dan diangguki oleh Lea.

Lea pun keluar dari kamar Argan sambil melompat ria. Ia akan membersihkan diri karena rupanya langit sudah gelap dan seharian ini ia hanya berada di rumah, menunggu pengumuman, turut senang dengan Gebi, dan berpelukan dengan Argan. Lantas ia sudah tak sabar melihat wajah bahagia orang tuanya.

Lea mengambil piyama tidurnya sebelum menuju ke kamar mandi, ia memiliki piyama dengan warna kuning polos yang sama sekali tak terdapat motif beruang ataupun buah-buahan. Lea bersemangat bahkan bersenandung kecil ketika ia membersihkan wajahnya sebelum menyiapkan bath bomb.

"Sekali-kali, ah, self reward begini," gumannya dan bersiap merendam tubuhnya.

Ia tersenyum bahkan menutup matanya ketika tubuhnya sepenuhnya terendam. Dan tak berselang lama, senyumannya memudar dan merasakan pandangannya sama gelapnya ketika ia membuka mata.

"Loh, nggak banget! Masa mati listrik gini pas Lea lagi seneng-senengnya?" pekiknya sambil berubah duduk. Tangannya meraba-raba tempat di mana ia meletakkan handuk dan segera beranjak setelah menemukannya.

Lea berjalan perlahan berusaha menggapai pintu keluar, tapi kakinya tersandung yang membuatnya seketika ketakutan. Lea meraba-raba lagi, tangannya merasakan sesuatu yang dingin dan ia memegang hair dryer dengan erat.

Gelap dan dinginnya kamar mandi Lea membuat ia ketakutan, seperti terbawa dengan peristiwa di masa kecilnya. Di mana ia menghabiskan tiga hari di ruangan sempit yang gelap dan tak tahu siang dan malam.

Lea berusaha menormalkan pernapasannya, berkali-kali menarik udara untuk menghilangkan sedikit sesak di dadanya, lalu berhati-hati mengembuskan napas.

"Kak ..." panggil Lea akhirnya, setelah berusaha menghilangkan sesuatu yang mencekat lehernya.

"Kak Argan ...." ulangnya. Lea masih memegang erat pengering rambutnya.

Tak ada tanda-tanda kedatangan Argan. Lea lalu membanting benda itu untuk menimbulkan suara, berharap agar kakaknya segera datang menyelamatkannya.

ARGALEA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang