15. Periksa

78 4 0
                                        

"Morning, Mam. Lea mau lapor, Kak Argan udah mendingan. Drastis banget. Bangun-bangun udah beresin ruang lukis. Rapi banget, mana semuanya bersih. Lea kan jadi takut kalau salah satu saraf penting Kak Argan rusak."

Lea mengintip dari celah pintu ruang lukis yang tak tertutup sempurna. Dilihatnya Argan memilah kuas sesuai jenis dan ukurannya. Argan bahkan membereskan beberapa cat yang telah kering dan mengelompokkan sesuai warna dengan box organizer.

"Itu bagus, Lea. Gimana sih, kamu?" sahut suara di dalam ponsel Lea.

"Oh gitu, ya, Mam? Eh, terus gimana jawaban ayahnya Kak Felix?"

"Kamu minggir dulu dari sana. Ke kamar, biar Mam Ale ceritain."

Lea menatap Argan sejenak sebelum berjalan menuju kamarnya. Piyama merah mudanya masih nyaman ia kenakan, jadi Lea sembari merebahkan tubuhnya. "Gimana jadinya, Mam Ale?"

"Waktu Mama telepon, awalnya nggak diangkat. Setelah berulang kali Mama coba lagi, akhirnya diangkat. Tapi yang angkat asistennya. Dia bilang kalau Felix baru liburan bareng ayahnya dan mereka baik-baik aja. Oke, Mama turut seneng kalau dia baik-baik aja. Tapi yang bikin Mama sesak napas semalem itu pas dia bilang kalau pertunangan dibatalkan lalu cincinnya bakalan dikembalikan, jadi kalau ada paket usahain kamu aja yang ambil. Takut kalau tiba-tiba Argan shik shak shok. Pas Mama tanya alasannya kenapa, dia cuma bilang kalau diminta menyampaikan seperti itu. Mama juga udah menghubungi rumah di Indo, ternyata adiknya, si Theodore juga dibawa ke sana. Tiba-tiba mereka memutuskan tinggal di sana, Lea. Udah kayak gitu doang. Mereka segampang itu kayak gitu. Mama nggak terima dong, terus Mama pengen ancam mereka tapi Papamu bilang ya udah berarti bukan Felixia orangnya. Padahal Mama sesayang itu sama Felix."

"Astaga, kok tega banget, sih? Tega banget, sumpah. Udah dua kali loh Kak Argan kehilangan Felixia Parera, Mam. Lea kayak seneng tapi kasihan sama Kak Argan," sahut Lea kini langsung mengubah posisinya menjadi berdiri.

"Seneng? Kenapa bisa seneng? Ini Mama stress berat, mana udah nyiapin daftar calon wedding organizer sama calon tamu undangan. Apalagi penyembuhan Argan.... "

"Mam Ale sih nggak sabaran. Tapi, Lea kepikiran... kok Dokter Teraza bisa kepikiran Kak Argan bakalan sembuh karena orang yang dia sayang? Nyatanya, selama ini progressnya lambat, Mam. Ada yang salah sama dokter satu itu. Mana dia nggak nikah-nikah lagi."

"Kok jadi salahin Teraza? Nggak taulah Mama pusing. Sana kamu sarapan aja. Lihat Argan lagi."

Lea mengernyit ketika tiba-tiba Ale mematikan panggilannya. Gadis itu lalu melemparkan ponsel dan hendak keluar dari kamarnya. Tetapi, ketika ia membuka pintu, Argan sudah berdiri tegak dan-cukup membuat Lea terkejut.

"Astaga, Kak Argan kenapa nggak ketuk pintu dulu, sih?" kesalnya ketika Argan justru masuk begitu saja ke kamarnya.

"Monyet? Lo kesepian makanya beli kembaran lo?" Argan mengambil boneka yang sudah Lea masukkan ke dalam paperbag besar.

"Bukan, itu buat Nata sama Gebi!" Lea mengambil kembali bonekanya. Ia pun segera membuka lemarinya karena teringat sesuatu. "Kak, gimana kebaya Lea? Cakep, kan?"

"Kebaya? Buat apa?"

Lea ingin sekali melayangkan tamparan ke wajah sang kakak yang terlihat cengo itu. Tetapi karena wajahnya tampan, makanya Lea selalu tak tega jika ingin menamparnya hingga menimbulkan bunyi, takut jika tamparannya nanti mengubah ketampanan Argan.

Oke, Lea berhasil menahan amarahnya dan tersenyum lebar serta menunjukkan poster upacara wisuda kepada Argan. "Jadi, wisuda adikmu ini tinggal menghitung hari wahai Kak Argan yang tampan. Tapi acaranya terbatas gara-gara cororong. Kak Argan lihat aja live streaming."

ARGALEA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang