reuni

13K 1.1K 430
                                        

—karma—

"beneran gamau berangkat bareng aja sama kakak, ju?"

sebuah gelengan didapatkan Jeongwoo sebagai jawaban, Junghwan tersenyum pahit.

"ngga usah, nanti kakak malu."

dang, tembus menusuk sampai ke jantung.

"toh temen temen juga ga pada tau kakak udah nikah kan? aku pake gocar aja."

Jeongwoo membasahi bibirnya yang terasa kering, entah kenapa tapi Junghwan berhasil membuat dirinya tersudut. karena bagaimanapun, semua adalah kesalahannya di masa lalu.

"pulangnya sama kakak ya." pria tampan itu masih mencoba membujuk si manisnya.  sebab bagaimanapun, Jeongwoo tentu tak tega.

"ngga usah, aku bisa pulang sendiri."

"kamu mampir starbucks aja, nanti kakak jemput disana jadi ga ketauan."

terdengar helaan nafas kasar dari yang lebih muda. sudah susah susah dirinya menjual mahal dan berusaha cuek, namun Jeongwoo tak berhenti membujuknya.

entah karena si manis sedang melankolis atau bagaimana, namun pria muda itu tiba tiba menitikkan air mata. membuat Jeongwoo yang sedang menata rambut itu menghentikan kegiatannya.

kaki jenjang sang dominan melangkah menghampiri Junghwan yang sedang memasang arloji. keduanya saling berhadapan, tak mungkin Jeongwoo tak menyadari bagaimana air mata tiba tiba membanjiri pipi Junghwan.

"ju, kenapa nangis?"

tangan berwarna kecoklatan yang hampir menangkup rahang pria muda itu terlebih dulu ditepis. Junghwan melangkah mundur. ia tak mau berbicara lebih dengan Jeongwoo pada saat ini.

"ju—"

"kenapa nikahin gue kalau masih malu sama orang orang? kenapa sujud sujud minta nikah sama gue kalau lo sendiri masih jijik? emang dari awal lo tuh main main doang sama perasaan. harusnya gue nolak mentah mentah kalau inget gimana dulu lo gonta ganti cewek."

"..."

suasana mendadak tegang, mata polos yang selama ini biasa memancancarkan ketakutan kini berani menatap tajam suaminya penuh kebencian. Junghwan muak. Jeongwoo tak pernah serius di matanya. ia sadar bahwa pria bajingan itu hanya bermain main dengan pernikahan mereka.

alis Jeongwoo menukik, keningnya mengernyit menandakan bahwa sang empu juga tak sedang bercanda.

"gue masih inget jelas gimana lo buang plastik snack dari gue, gue inget gimana lo numpahin bekel makan siang yang gue bikin subuh subuh. gue inget banget gimana kak junkyu nangis liat muka gue yang bonyok gara gara lo sama temen temen lo."

"selain ngejauhin kak sunghoon, lo juga bikin harga diri gue jatoh di depan orang orang. lo bikin gue dijauhin temen temen, bikin gue diliatin penuh jijik sama orang orang. kalau ngga demi ketemu Niki, gue ngga bakal mau ikut reuni hari ini. masih kurang gimana lagi hidup gue lo acak acakin, Park Jeongwoo?"

"...."

isak tangis Junghwan semakin menjadi jadi, pemuda itu tampak mengeluarkan seluruh isi hati yang ia pendam selama ini. membiarkan Jeongwoo membeku karena tak menyangka dirinya benar benar memberontak.

karma; iksan boys [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang