“Brakk!!!”
Lagi, pintu kamar Ares dibuka dengan tidak berperikepintuan. Ares rasa dia sebentar lagi harus mengganti pintu kamarnya. Pelakunya bukanlah Gilang yang dua hari ini di rumahnya terus saja membuka pintu seperti orang kesetanan. Orang itu sudah pulang tadi pagi. Kali ini pelaku adalah orang yang mengabaikannya selama dua hari, siapa lagi kalau bukan Aris.
Aris melangkah masuk. Tidak lupa ia menutup pintu dengan lebih lembut kali ini, sebab tadi sempat terdengar seruan merdu sang Mami. Aris duduk di kasur Ares, sementara si pemilik kamar masih di meja belajarnya. Namun, akhirnya Ares berpindah ke kasur juga dan duduk di sebelah Aris. Ares pikir mungkin Aris sudah mau bicara dengannya.
“Ris, gue...”
“Gue mau tanya?” belum sempat Ares bicara Aris telah lebih dulu memotong.
“Alasannya karena Anggi, kan?!” tanya Aris, lebih ke menuntut sebenarnya sebab dari suaranya jelas dia sudah yakin.
Ares yang mendengar tentu kaget. Aris tahu dari siapa? Batinnya.
Flashback
Ketika Aris pulang sekolah, rumahnya sudah sepi. Keluarga mereka yang dari luar kota memang ada yang menginap, sementara yang dekat sudah pulang sejak semalam. Kemungkinan yang menginap sudah pulang tadi pagi atau tadi siang. Rumah juga sudah rapi. Aris bersyukur dia memilih pulang lama sehingga terhindar dari tugas berberes.
Aris baru akan masuk ketika mendengar seseorang memanggilnya. Aris menoleh ke asal suara. Tampak seorang gadis dengan seragam SMA berjalan memasuki area rumahnya.
“Anggi!!” kata Aris begitu mengenali siapa yang datang.
Gadis itu adalah Anggi, anak Pak RT di perumahan mereka. Anggi juga teman Aris waktu SD dan SMP, sekaligus cewek pertama yang Aris sukai.
“Lama nggak ketemu rasanya, sekolah dimana Lo? Kuno amat seragamnya.” Memang nggak ada akhlak mulut si Aris ini, malah seragam shaming.
“Iya deh, yang sekolahnya elite, bukannya nanyain kabar kek!!” balas Anggi kesal.
Aris terkekeh, “Bercanda elah, apa kabar mantan..”
“gebetan!!” lanjut Aris ketika melihat Anggi yang mulai mendelikkan mata padanya.
“Baik!! Gue ke sini mau ngasih titipan dari bokap gue,” kata Anggi sambil menyerahkan sebuah amplop.
“Tadi mau ngasih kayaknya nggak ada orang, jadi sekalian aja pas baliknya. Untung Lo dah datang,” lanjutnya.
“Buat ortu Lo ya, bukan buat Lo,” ucap Anggi lagi saat melihat Aris yang mau membuka amplop.
Aris mencebik kesal. Udah kayak dokumen negara aja nggak boleh dibuka sembarangan.
“Ares dah balik belum?” tanya Anggi.
Aris mengendikkan bahu, dia aja baru datang.
"Yah..."
Ngomong-ngomong soal Ares, tiba-tiba saja Aris kepikiran sesuatu.
“BTW, Lo kan pas SMP circle-nya biang gosip nih, pernah dengar rumor gitu nggak soal Ares yang gue nggak tahu?” tanya Aris mengabaikan tatapan Anggi yang terlihat kesal karena ucapannya tentang circle mereka.
“Rumor apaan?” tanya Anggi bingung.
“Misalnya soal Aris punya pacar gitu.” Aris berkata dengan ragu, kali aja dia bakal diketawain.
Teman-teman sekolah soalnya tahu kalau Ares dan kata pacaran itu adalah perpaduan langka. Lihat cara dia nanggepin cewek aja orang udah tahu dia nggak tertarik dengan hal-hal begitu. Hal yang paling sering digosipkan di sekolah justru perihal Ares yang posesif padanya. Namun, jawaban Anggi tidak terduga.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twins, Brother Complex
Teen FictionAres dan Aris adalah sepasang anak kembar dengan kepribadian yang bertolak belakang. Bagi Ares, Aris adalah prioritasnya. Menurutnya saudara itu harus selalu bersama. Bagi Aris, Ares itu terlalu posesif. Dia hanya ingin lepas dari Ares yang selalu...
