“Hai!”
Sebuah sapaan mengalihkan perhatian Ares yang dari tadi sibuk dengan buku yang dibacanya. Wajah dari sosok yang belakangan ini sering muncul menyapanya (mengganggu).
“Gue duduk di sini ya?” si penyapa kembali bersuara.
Belum juga Ares menjawab sosok itu – yang memang tidak bermaksud bertanya – telah duduk di hadapannya. Ares menatapnya sebentar kemudian kembali fokus pada bukunya.
Jika kalian telah menebak siapa sosok itu, kemungkinan tebakan kalian benar. Ya, orang tersebut tidak lain adalah Karin yang entah kenapa Ares merasa frekuensi kemunculan gadis itu di pandangannya semakin sering.
“Gue bukan Aris, dan Aris nggak ikut hari ini,” ujar Ares tiba-tiba.
“Iya, tahu kok! Gue emang mau nyapa Lo,” ucap Karin.
Sejak kejadian hari itu dimana Karin mengetahui soal Ares dan Aris, dia jadi semakin penasaran dengan sosok Ares. Belakangan ini dia semakin sering ke kafe dan kebetulan Ares juga sedang rajin-rajinnya datang ke sana karena maraton membaca beberapa novel. Berbagai alasan Karin buat untuk memulai obrolan dengan Ares, entah itu pura-pura lupa kalau dia bukan Aris atau menanyakan tentang Aris.
Bagi Ares yang suka ketenangan, kemunculan Karin yang terlalu sering membuatnya sedikit kesal. Untungnya Karin nyambung saat mengobrol tentang buku atau novel sehingga Ares terkadang masih mau meladeninya.
“Lo kok bisa beda banget ya sama Aris.” Karin mulai memancing obrolan dengan Ares.
“Di luar semuanya mirip, tapi di dalam beda banget. Kalau Aris petakilan gitu, tapi Lo nya sekalem ini,” lanjut Karin.
“Kita kembar bukannya satu orang yang sama, wajar kalau beda.” Ares menanggapi dengan dingin. Dia sebenarnya agak kesal adiknya diomongin gini.
Ares tahu Karin ini bawa nama Aris untuk sekedar basa-basi saja setiap mengobrol dengannya. Dia telah menebak niat Karin yang selalu muncul belakangan ini. Bukannya Ares kepedean, tapi Karin bukan satu-satunya yang pernah berlaku seperti ini. Biarpun dia kayak kulkas berjalan – seperti kata Aris – tapi termasuk most wanted yang banyak ditaksir cewek-cewek di sekolahnya. Belajar dari teman-temannya, Ares pun bisa tahu tujuan cewek-cewek yang mendekatinya.
Apapun tujuan Karin, Ares sebenarnya tidak terlalu peduli. Namun, dia teringat bahwa gadis ini adalah gebetan Aris, sehingga dia harus lebih mengawasinya. Kebetulan sekali gadis itu yang mendekatinya.
“Ya, iya sih. Gue cuma nggak kepikiran aja bakal sebeda itu,” ucap Karin.
Ares tak menanggapi lagi, melihat jam tangannya ia pun membereskan barang-barangnya.
“Loh, udah mau pulang?” tanya Karin.
U
Ares mengambil tasnya dan akan beranjak saat Karin tiba-tiba memegang tangannya. Ares menatap datar tangannya yang dipegang membuat Karin sadar dan langsung melepaskannya.
“Sorry.” Ucap Karin.
“Lo buru-buru pergi bukan karena gue datang kan. Gue minta maaf kalau Lo merasa gue ganggu belakangan ini,” ujar Karin.
“Gue udah di sini tiga jam, sekarang udah hampir jam lima. Memang udah waktunya buat pulang.” Setelah mengatakan itu Ares pergi meninggalkan Karin yang masih hendak mengobrol.
Karin hanya menatap punggung Ares yang menjauh hingga hilang di balik pintu kafe. Entah sudah berapa kali dia dicuekin, tapi Karin malah semakin ingin mengobrol dengan Ares. Sejak hari dia tahu siapa Ares, dia sudah mengobrol dengan teman-temannya. Karin yakin perasaannya pada Ares adalah rasa suka. Oleh karena itu, Karin akan berusaha mendekati Ares.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twins, Brother Complex
Ficção AdolescenteAres dan Aris adalah sepasang anak kembar dengan kepribadian yang bertolak belakang. Bagi Ares, Aris adalah prioritasnya. Menurutnya saudara itu harus selalu bersama. Bagi Aris, Ares itu terlalu posesif. Dia hanya ingin lepas dari Ares yang selalu...
