Suasana riuh memenuhi tempat yang disebut surga oleh para siswa itu, apa lagi kalau bukan kantin. Hari masih pagi, tapi kantin SMA Garuda sudah ramai oleh para siswa. Tujuan utama tentu untuk sarapan, namun ada juga yang hanya sekedar duduk menuhin meja kantin. Salah satu contohnya adalah sekelompok siswa cowok yang sibuk bermain kartu.
" BRUKK!!" sebuah tas terbanting di tengah meja yang digunakan oleh sekelompok cowok itu untuk bermain.
Dengan kekesalan yang luar biasa, semuanya menoleh ke arah pelaku pelemparan. Sementara para siswa itu kesal dan memberikan tatapan tajam, si pelaku justru dengan santainya duduk di antara mereka.
" Lo ada dendam apa sih Ris sama kita?" salah satu cowok bersuara.
Si pelaku yang tidak lain adalah Aris itu, hanya mengedikkan bahu acuh. Ya, sekelompok cowok itu adalah teman-teman Aris.
"Kenapa lo? Kusut amat," cowok yang bernama Damar berbicara.
Aris menghela napas berat, bukannya menjawab dia malah menyembunyikan wajahnya di lipatan lengan di atas meja.
" Wah, stress nih orang," ucap Agil, cowok yang tadi pertama berbicara.
"Berisik, gue capek," ucap Aris yang terdengar seperti gumaman karena wajahnya masih telungkup di meja.
" Lo kenapa sih Ris? Ada masalah," tanya seorang cowok berkaca mata, Dirga namanya.
Aris mengangkat wajahnya, kalau menurut teman-temannya, saat ini Aris terlihat seperti orang yang sedang dikejar rentenir. Terlihat seperti orang susah.
" Motor gue disita, uang jajan gue di potong," ucap Aris dengan nada yang putus asa, seolah hidupnya akan berakhir.
" Kenapa emangnya?" tanya Irfan, teman Aris yang lainnya.
" Udahlah, malas gue cerita. Terlalu panjang dan menyebalkan untuk diingat," ujar Aris.
Teman-temannya hanya diam kemudian, Aris yang seperti ini bukanlah hal yang aneh bagi mereka, jadi mereka hanya membiarkannya saja. Masalah seperti ini, mereka yakin Aris akan segera kembali seperti biasa.
" BTW, gimana kencan Lo kemarin?" tanya Agil.
" Iya ya, gimana bro? PJ jangan lupa lo," sahut Damar.
Benar-benar hari yang sial! Pikir Aris. Hal yang ingin Aris lupakan justru malah dibahas oleh teman-temannya.
" Boro-boro PJ, kencan juga kagak," Teman-temannya sontak terkejut.
" Kok bisa? Ada masalah apa sampai nggak jadi?" tanya teman-temannya.
Aris tak menjawab, dia hanya mengibaskan tangannya pertanda menolak untuk membicarakan hal itu. Jujur saja, Aris merasa sangat kecewa karena itu adalah kencan pertamanya dan dia sudah mengincar Gina sejak lama. Tapi, hanya karena seorang Ares hancur sudah semuanya. Mau marah tapi Aris pun bingung mau marah ke siapa, biar bagaimanapun Ares itu saudaranya dan terlebih lagi dia tahu kondisi Ares seperti apa, jadi dia tidak bisa menyalahkan Ares begitu saja.
" Ya udahlah, masih banyak cewek lain," ucap Irfan sambil menepuk bahu Aris.
" Ngomong-ngomong soal cewek, gue dengar bakal ada murid baru di sekolah kita, rumornya sih dia cewek dan cantik banget," ucap Agil.
" Iya, gue juga dengar," sahut Dirga.
" Ya udah masuk kelas yuk, siapa tahu itu murid baru udah datang, penasaran gue," ajak Damar.
Mereka pun mengambil tas masing-masing dan menuju ke kelas. Aris sampai di kelasnya tepat saat bel masuk berbunyi, dia sekelas dengan Damar dan Dirga, sementara Agil dan Irfan ada di kelas sebelah. Setelah sekitar 10 menit, wali kelas Aris masuk bersama seorang gadis yang membuat seisi kelas riuh oleh suara para siswa cowok tentunya. Ya, gadis itu adalah si anak baru yang di bahas Aris dan teman-temannya tadi.
" Hari ini kita kedatangan murid baru dari Bandung, silahkan kamu perkenalkan diri," ucap Bu Meta sang wali kelas. Gadis itu menjawab setelah berterima kasih kepada Bu Meta.
" Halo, nama gue Karin, mohon kerja samanya ya," ucap Karin.
" Kamu bisa duduk di tempat yang kosong ya, ibu tinggal dulu sebentar lagi guru yang mengajar akan datang," ucap Bu Meta kemudian pergi meninggalkan kelas.
Suasana kelas semakin riuh, beberapa siswa mulai mendekati Karin mencoba berkenalan.
" Aris, woi ris," Aris tersadar dari lamunannya saat Damar yang duduk di sebelah melambaikan tangan di depan wajahnya.
" Lihatnya biasa aja dong, mata Lo mau keluar tuh," ledek Damar.
" Tolong sadar diri dikit ya," sarkas Aris. Setelahnya Damar hanya mengoceh sendiri.
Aris menoleh ke tempat Karin berada, memang cantik menurutnya. Entah kenapa, Aris merasa ada yang salah dengan dirinya saat Karin masuk tadi, padahal ini pertama kalinya dia melihat Karin. Tidak mungkin kan dia langsung suka pada pandangan pertama, Aris tidak pernah merasakan ini pada gadis lain soalnya.
***
Ares berdiri di depan gerbang SMA Bintang Bangsa menunggu Aris menjemputnya. Biasanya Ares memang dijemput oleh maminya, sedangkan papinya yang mengantar saat pergi. Tapi, hari ini maminya sibuk dan tidak sempat untuk menjemputnya, jadi dia harus meminta Aris untuk menjemputnya. Walaupun harus berdebat dulu dengan Aris, karena anak itu pasti banyak alasan. Kenapa Ares tidak memakai motor seperti Aris? Bukan karena tidak bisa, sebenarnya Ares hanya malas saja, dan dia pikir dia bisa berbagi saja dengan Aris. Tapi, siapa sangka Aris banyak alasan selalu menolak untuk bersamanya. Jujur, Ares merasa Aris berusaha menjauh darinya. Ares tahu, Aris mungkin merasa sedikit terganggu dengan sikapnya, tapi Ares tidak akan membiarkan anak itu begitu saja, dia akan menjaga saudaranya.
Ares sedikit tersentak saat mendengar suara klakson di dekatnya. Aris ternyata sudah sampai.
" Pakai ngelamun segala lagi lo, buruan naik!" Ares pun langsung naik ke motor Aris.
Di perjalanan keduanya hanya diam, memang pada dasarnya Ares tidak banyak bicara walau dengan Aris sekalipun, kecuali kalau 'kumat'. Aris sendiri sudah terbiasa dengan sifat Ares yang bisa dibilang dingin, kalau di novel pasti di bilang cool sama cewek-cewek. Tapi, entah karena kesambet setan angin kali, Ares tiba-tiba saja membuka pembicaraan padahal biasanya harus Aris duluan yang mulai.
" Ris, lo nggak jadi kan sama cewek yang kemarin?" tanya Ares.
Aris tidak langsung menjawab, sebenarnya dia sedang sibuk mengumpati Ares. Gimana enggak coba, ini anak kayak nggak nyadar apa. Jelas-jelas kemarin dia yang udah menghancurkan acara kencan Aris, boro-boro jadi, kalah sebelum start ini namanya.
" Aris!" panggil Ares, karena Aris tak kunjung menjawab.
Aris masih diam, merasa tidak direspon Ares berniat memanggil Aris lagi, tapi tidak jadi karena Aris sudah lebih dulu bicara.
" Tenang aja, gue nggak jadian kok sama tuh cewek,"
" Bagus deh, lo nggak marah kan?"
Melihat Aris yang menggeleng Ares pun bisa lega, bukan apa, Ares sadar kalau sikapnya mungkin sering kali bikin Aris kesal. Namun, Ares melakukan semua itu juga buat Aris, biar bagaimanapun Ares adalah kakak di sini walau cuma beda tujuh menit. Tetap saja, dia akan berusaha jadi kakak yang lebih dewasa.
" Lo tahu kan maksud gue baik, jadi jangan harap gue bakal nyesal ," ucap Ares
Entah Aris mendengarnya atau tidak kerena suara motor yang keras, Ares tidak peduli yang penting adalah tindakannya.
To be Continue
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twins, Brother Complex
Ficção AdolescenteAres dan Aris adalah sepasang anak kembar dengan kepribadian yang bertolak belakang. Bagi Ares, Aris adalah prioritasnya. Menurutnya saudara itu harus selalu bersama. Bagi Aris, Ares itu terlalu posesif. Dia hanya ingin lepas dari Ares yang selalu...
