Bab 33 [end]

152K 11.8K 774
                                        

"Kalian kalo mau nikah, Papa setuju. Udahlah, Papa capek tiap hari dengerin Mona ngoceh terus soal kalian. Kalo ada apa-apa sama hubungan kalian, jangan pernah dateng ke Papa."

Almira sontak menganggukkan kepalanya cepat. Lagi pula, ia juga tidak pernah mendatangi orang tuanya kalau sedang memiliki masalah. Pasti ia bisa menyelesaikannya sendiri.

"Itu artinya Almira sama Radit boleh nikah kan, Pa?" tanya Mona memastikan kembali.

"Iya."

"Papa mau kan jadi wali nikah buat Almira?" Lagi-lagi masih Mona yang bertanya.

"Iya."

Mona langsung tersenyum lebar. Kemudian ia beralih menatap Almira yang tenyata juga sedang tersenyum mendengar jawaban dari Papa.

"Tapi dengan satu syarat," ucap Papa secara tiba-tiba.

Mona kembali mengalihkan tatapannya ke Papa. "Syarat apa lagi, Pa? Bukannya waktu ngobrol sama aku nggak ada soal syarat ini?" tanyanya merasa kesal. "Papa cuma tinggal nikahin mereka aja. Nggak susah kan buat Papa ngelakuin itu?"

"Mona, kamu dengar dulu perkataan Papamu," tegur Mama.

Mona menghela napas lelah.

"Papa nggak akan ngeluarin biaya sama sekali untuk acara nikahan Almira dan cowoknya," ucap Papa dengan nada tegas.

"Nggak bisa gitu dong, Pa!" protes Mona tidak terima. "Itu namanya nggak adil, Pa. Aku sama Safa waktu nikah dapat bantuan biaya dari Papa. Kenapa saat Almira nggak diperlakukan sama kayak kita waktu dulu?"

Almira yang mendengar itu langsung merasa lemas di tempatnya. Ternyata kekhawatirannya kemarin, terbukti dengan pernyataan Papanya kali ini.

"Kamu dengerin Papa dulu bisa nggak?" sentak Papa pada anak sulungnya. "Kondisi ekonomi kami jelas berbeda dari yang dulu. Untuk memberikan dana untuk pernikahan Almira, tentu tidak bisa kami lakukan."

"Kalian benar-benar tega sama Almira," decak Mona dengan suara pelan. Bahkan kalaupun suaranya didengar oleh orang tuanya, ia sudah tidak peduli lagi.

"Selain itu, Papa dan Mama mau lihat seberapa mampu Radit membuat pesta pernikahan untuk Almira. Karena kriteria pekerjaan Radit tidak sesuai dengan keinginan Papa dan Mama, tentu saja harus ada sesuatu yang dibuktikan. Dan satu-satunya cara harus seperti ini," ucap Mama memberi penjelasan.

"Nggak masuk akal banget, Ma. Masa pembuktian harus dengan cara seperti itu," sela Mona kesal. "Dulu waktu Safa nikah, bahkan biaya nikah hampir delapan puluh persen dari keluarga kita. Padahal saat itu suami Safa baru aja diangkat menjadi PNS." Mona berani bilang seperti ini secara gamblang karena saat ini tidak ada suami Safa diantara mereka. Hanya ada Safa yang duduk di dekat Mamanya.

"Karena suami Safa sudah jelas PNS," elak Papa masih dengan pendiriannya.

"Mama sama Papa masih punya harta yang bisa dicairin. Dan aku tau itu. Masa untuk Almira kalian nggak mau ngeluarin sepeserpun. Almira juga anak kalian, lho...." Mona sudah mulai frustrasi dengan orang tuanya. 

"Udahlah, Kak. Kalo Mama sama Papa nggak mau biayain pernikahan Almira, Kak Mona nggak usah ngotot kayak gitu," sela Safa yang ikut menimpali. "Kalo memang calonnya Almira mampu, dia pasti bakal sanggup kok menuhin syarat dari Papa dan Mama."

"Kamu diam aja deh. Nikah dibiayain dan masih hidup di rumah orang tua, nggak seharusnya ikut campur sama masalah ini," sentak Mona kesal. "Lagian kamu juga selama ini selalu jadiin Almira kambing hitam atas semua kesalahanmu."

Mendengar nada tinggi dari Kakaknya, Safa langsung kicep. Ia memilih diam dibanding aibnya harus dibongkar secara gamblang oleh Mona di hadapan keluarganya.

Knock, Knock! (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang