XIII.

565 68 2
                                        

Seongeun duduk menatap malas bosnya yang sedang berbaring diatas sofa, setelah makan siang tadi pria itu menyeretnya menuju kantor milik Park Jonggun secara tiba-tiba, beruntung mereka tak ada janji temu yang penting untuk dihadiri. Dia tak bertanya apa alasannya, terlampau hafal dengan tingkah bosnya.  Menoleh ke kanan dia dapat melihat Kim Gimyung yang sedang menikmati secangkir kopi miliknya, sebagai penenang dari istirahat makan siangnya yang kacau karena kedatangan mereka.

"Hyungseok belum balas pesanku" ucap Jungoo setengah merengek.

"Kamu nggak sepenting itu sampai Hyungseok harus selalu membalas pesanmu" 
Jonggun menimpali tanpa mengalihkan fokusnya pada deretan kata diatas kertas putih yang dia pegang sambil sesekali menulis sesuatu disana. Seongeun menghembuskan napasnya, dia sempat melirik Gimyung yang kini terlihat gelisah.

"Kalo gitu, kamu tau nggak Hyungseok lagi apa sekarang?"
Jungoo bangkit, dia sekarang dengan kedua kakinya terlipat diatas sofa, tangannya membetulkan letak kacamatanya yang terasa miring. Dia memasang senyuman yang biasa digunakannya saat mengganggu Jonggun, melihat itu Seongeun hanya bisa membatin. Tidak sekalipun mereka mengobrol tanpa berdebat atau mengganggu satu sama lain setiap kali mereka bertemu, Jonggun sering mengabaikannya tapi peringai Jungoo yang usil selalu memojokkan kesabaran alpha itu sampai batasnya.

"Kenapa diam? Nggak tau, ya?"
Jungoo membuka kunci ponselnya, jarinya dengan lincah menuju ruang percakapannya dengan Hyungseok. Dia mengirimkan pesan disana, menambah daftar pesan yang belum omega itu baca.

"Kalian kan dekat, harusnya kamu tau dong?~"
Jungoo berbicara dengan nada menyebalkan andalannya, Gimyung melirik bosnya menunggu dengan cemas reaksi dari pria itu, hatinya lega saat melihat Jonggun masih sibuk mebolak balikkan dokumen di mejanya.

Dia sedikit banyak tahu soal omega yang Jungoo maksud dari Seongeun. Pria itu membuatnya kaget bukan main saat dia memberitahunya perihal omega yang tinggal bersama bosnya sekarang, awalnya dia kira mereka membawa omega itu hanya untuk kesenangan mereka tapi setelah mendengar penjelasan Seongeun lebih lanjut membuat Gimyung lebih tercengang lagi.

Siang ini dia menemukan alasan dibalik murungnya Jonggun sejak pagi dan mengapa Jungoo uring-uringan seperti sekarang, ternyata itu karena mereka ditinggal pergi oleh omega yang sejak tadi menjadi topik bahasan diantara kedua orang itu. Meski menurut Gimyung mereka masuk kedalam daftar orang yang layak ditinggalkan pasangannya tapi ternyata omega mereka hanya pergi untuk mengikuti kamp pelatihan yang diadakan sekolahnya.

Selama ini Jonggun tak pernah menyinggung soal omega yang tinggal bersamanya, Gimyung merasa tertinggal saat dia yang lebih sering bersama Jonggun harus mengetahui kabar itu dari Seongeun. Padahal dia selalu tahu gosip dan rumor terkini soal bosnya, sebagai asisten yang menemani kemana pun bosnya itu pergi menjadikan dia narasumber utama bagi orang yang ingin tahu kebenaran dari rumor yang beredar. Sedari tadi dia diam-diam tersenyum saat membayangkan reaksi pegawai lain saat mengetahui kabar ini, Gimyung sampai tak menyadari jika Seongeun sedang memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.

Hyungseok tengah bersandar pada dinding dia sudah mulai kehilangan fokusnya, matanya sudah terasa berat dan lelah ditubuhnya semakin terasa. Dia melihat Mijin yang dengan telaten menutup tubuh teman-temannya yang sudah terlelap terlebih dahulu dengan selimut, dia memang terlihat pemuh kasih dan perhatian pada orang disekelilingnya tak heran jika Zin begitu menyukai perempuan itu.

"Mijin, biar kubantu"
Hyungseok menawarkan diri membantu saat melihat Mijin mulai memunguti botol soju, kaleng, serta sampah makanan lainnya. Saat dia bergerak sebuah tangan memeluk pinggangnya dengan erat seolah tak ingin Hyungseok pergi, Mijin hanya tersenyum melihatnya.

"Nggak papa, Hyungseok. Biar aku aja"

"Maaf, Mijin" ucapnya tak enak hati.

"Aku senang Zin kelihatan nyaman sama kamu"
Mijin menatap ke arah Zin yang tertidur setelah mabuk itu, lalu kemudian dia beralih menatap Hyungseok.
"Dia terlihat jauh lebih baik"
Hyungseok menatap balik perempuan itu, dia berbicara seolah Zin telah mengalami sesuatu yang buruk.

"Apa itu karena soulmatenya?"
Gerakan tangan perempuan itu terhenti, sedikit terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba yang dilancarkan Hyungseok. Mijin menyisipkan anak rambutnya kebelakang telinga, dia terlihat ragu untuk menjawabnya. Melihat itu Hyungseok merasa bersalah, mulut sialan ini seharusnya tak menanyakan itu.

"Hyungseok pasti udah denger dari orang-orang, ya?"
Beta perempuan itu tersenyum tapi Hyungseok melihat hal lain dari sorot matanya.
"Kalo kamu nggak mau ngomongin itu nggak papa Mijin, aku janji nggak bakal nanya soal itu lagi"
Hyungseok berucap sambil menggaruk tengkuknya dengan kikuk, dia merasa telah melakukan kesalahan.

"Zin pasti marah kalo tau ini tapi aku rasa kamu mungkin bisa bantu"
Awalnya dia tak mengerti maksud ucapan Mijin tapi Beta itu kemudian mulai menjelaskan, kantuknya yang sedari tadi menggelayut di kelopak matanya sudah hilang entah kemana. Omega itu terlarut dalam perkataan perempuan itu, dia tak ingin tertinggal satu kata pun yang akhirnya membuat dia tidak mengerti.

"Jadi itu kenapa dia sensitif seperti sekarang?"
Hyungseok memandang sedih alpha yang tengah memeluknya, tangannya terulur untuk mengusap lembut kepala lelaki itu.

"Iya, setelah tau alasan sebenernya kenapa Yohan ninggalin dia, Zin depresi dan hormonnya juga jadi nggak stabil."
Hyungseok dapat melihat raut murung wajah gadis itu yang dia paksakan tersenyum padanya, Mijin berusaha memberitahunya bahwa tidak ada lagi hal yang harus dikhawatirkan saat ini.

"Kamu tau, Zin pernah ngira kalo kamu alpha loh?!"
Mendengar itu membuat Hyungseok menautkan alisnya keheranan.

"Dia bisa nyium feromon alpha dari tubuhmu tapi kamu pernah bilang kalo kamu tinggal disini bareng kakakmu, kan? Jadi yang dicium Zin waktu itu mungkin feromon kakakmu" Mijin melanjutkan.

Sedekat apapun hubungan mereka, Jonggun tak pernah melakukan scenting padanya tapi Zin dapat mencium feromon setipis itu, dia kembali khawatir pada temannya.

"Tapi Zin bilang orang yang pernah jemput kamu punya feromon yang berbeda, apa dia matemu?" Mijin bertanya dengan hati-hati, dengan sigap Hyungseok langsung menggeleng. Entah mengapa dia merasa terdorong untuk menjelaskan semuanya lebih lanjut, mungkin karena dia menganggap Mijin orang yang dapat dia percaya.

"Tapi kamu benar nggak menganggap mereka sebagai alpha? Yakin nggak ada perasaan lebih? Eiii~ mereka tampan kan?"
Mijin tersenyum menggodanya, dia masih memperhatikan foto mereka bertiga diponselnya yang Hyungseok tunjukkkan pada gadis itu. Hyungseok menggeleng cepat, dia tak pernah merasa begitu.

"Apa jangan-jangan dia mate kakakmu?"
Hyungseok mengerutkan keningnya, dia tidak pernah memikirkan itu sebelumnya, mungkin ini alasan sebenarnya mengapa Jonggun memintanya untuk menjauh dari Jungoo. Jika benar begitu, Hyungseok harus meminta maaf pada mereka.

" Ehmm... Aku kurang tahu soal itu tapi kalo liat mereka pas di rumah-"

"Tunggu, apa kalian semua serumah?"
Mijin memotong penjelasan Hyungseok, dia berucap dengan matanya yang membola tak percaya, awalnya gadis itu mengira Hyungseok hanya tinggal berdua dengan orang yang sudah dia anggap seperti saudaranya.

"Ya?"

"Heheheh, hati-hati Hyungseok" 
Hyungseok menghembuskan napasnya kesal saat Mijin kembali menggodanya.

"Hyungseok"
Mijin tiba-tiba memanggilnya dengan nada yang serius, hal itu membuat Hyungseok sedikit was-was dan kembali menatapnya.
"Sebenarnya aku ingin minta tolong, aku pernah melihat Yohan bersama orang yang menjemputmu" sambungnya.

Hyungseok sedikit mengerti mungkin inilah mengapa Mijin menyinggung soal Jungoo. Dia masih menunggu apa yang akan dikatakan gadis itu selanjutnya, sementara Mijin terlihat kesulitan memilah kata agar Hyungseok tak merasa tersinggung atas ucapannya.

"Aku pengen tau kabar Yohan. Jadi, walaupun dia nggak mau ketemu kami, aku bisa tau kalo dia baik-baik aja"
Pandangan Mijin terlihat kosong, dirinya sedang teringat masa dimana saat mereka baik-baik saja. Sampai sekarang gadis itu masih merasa jika hubungan mereka masih bisa diperbaiki tapi mereka itu keras kepala. Perempuan itu menghela napasnya, tak ada yang bisa dia lakukan lagi, itulah yang terjadi jika dua orang dengan ego yang sama tinggi ditakdirkan bersama.

"Mijin, jangan khawatir. Nanti aku tanyakan soal itu ke kak Jungoo, ya?"
Hyungseok berniat menenangkan, tak lama setelahnya dia kembali melihat senyuman Mijin.

"Terimakasih, Hyungseok"

CAROUSELTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang