A (end)

144 9 1
                                        

Pemuda Dirgantara dan Aditya sekarang sudah memasuki semester akhir sekolahnya. Sebentar lagi lulus dan mereka akan beralih ke perguruan tinggi pilihan. Lima hari lagi Ujian Nasional (UN), mereka berdua sudah belajar mati-matian beberapa bulan ini.

Ya, mereka belajar untuk ujian dari jauh-jauh hari, eh bukan hari tetapi bulan. Sangat sulit untuk dilakukan oleh kalian para pembaca novel ini. Ups, kembali ke topik.

Kini mereka sedang berada di rumah Arkatama. Ya, di rumah Arkatama bukan di rumah Arsha. Shankara sudah tidak tinggal di rumah Arsha lagi, ia tak ingin menyusahkan pemuda itu lebih lama lagi. Jadi Shankara memutuskan untuk melawan traumanya dan tinggal di rumahnya.

Awalnya memang agak susah, entah berapa kali ia terbangun tengah malam oleh mimpi buruk yang menghantuinya. Tetapi Arkatama selalu berada di sisinya, bukan sekali dua kali ia menemani Shankara menginap di rumahnya untuk menemani pemuda itu tidur.

Shankara sangat bersyukur mempunyai sahabat yang sangat baik seperti Arkatama. Kadang ia berpikir mengapa Arkatama bisa sebaik ini padanya, apa yang harus Shankara berikan sebagai balasan perbuatan baik pemuda itu. Kadang Shankara juga berpikir bahwa Arkatama adalah kiriman dari semesta agar Shankara tidak terus marah pada semesta.

“Nomor 20 sudah Shan?” sang Dirgantara membuka suara. Shankara terpecah dari lamunannya.

“Ah, sudah. Mau lihat?” Arkatama mengangguk, kemudian melihat jawaban Shankara. Ia membandingkannya dengan jawabannya. Terkagum ketika Shankara mempunyai cara yang lebih simpel dalam menyelesaikan soal.

“Wah bisa begitu ya? Kamu jenius Shan,” puji Arkatama, yang dipuji hanya tersenyum malu mendengarnya. Adzan maghrib sudah berkumandang, kedua pemuda itu mengemasi bukunya.

“Besok mau ke perpustakaan umum?” tanya Arkatama.

“Boleh,” balas Shankara. Arkatama tersenyum kemudian mengusak rambut yang lebih muda.

“Maaf,” bisiknya di telinga kiri Shankara.

Shankara memutar matanya malas. Lagi, Arkatama melakukannya lagi. Ia membisikkan di telinga kiri Shankara yang tidak bisa mendengar. Kadang Shankara penasaran apa yang dibisikkan sang Dirgantara kepada telinga kirinya. Tetapi setiap ia bertanya yang lebih tua malah mengalihkan topik. Shankara mau bagaimana lagi bila Arkatama tidak ingin memberi tahunya, ia tak ingin memaksa.

°°°

Minggu ini adalah minggu ujian nasional. Kalau kata Shankara, minggu neraka. Tapi tak apa, Shankara sudah cukup yakin dengan belajarnya selama ini jadi ia akan menghadapinya dengan pantang menyerah. Begitu juga dengan Arkatama, dua sejoli ini tentunya tidak dapat dipisahkan.

Shankara keluar dari ruang kelas dengan senyum terpatri di wajahnya. Ia telah selesai menuntaskan semua ujian pada minggu ini, ya tadi adalah ujian terakhir. Arkatama menghampiri Shankara yang masih setia menyuguhkan senyuman di wajahnya.

“Senang sekali tampaknya,” goda Arkatama.

“Akhirnya selesai juga,” Shankara meregangkan tubuhnya.

“Saya yakin hasilnya pasti baik. Semua kerja keras kita pasti terbayar Arkatama,” yang tua terkekeh mendengarnya.

“Iya, pasti. Malam ini mau pergi ke festival di pusat kota? Kita bisa berbelanja jajanan di sana, juga banyak permainan yang seru,” ajak Arkatama. Mata Shankara berbinar mendengarnya.

“Ya, mau!” balas Shankara.

Mereka berdua sekarang sedang berada di pusat kota. Keduanya memegang banyak sekali plastik jajanan di tangannya. Shankara mendongak ke sana-sini sangat kagum dengan pemandangan yang ada di depan matanya saat ini.

Tentang Shankara || HajeongwooTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang