Suki+11

1.1K 95 3
                                        

Posting lebih cepat untuk siang ini.

Happy reading 💕

***

   Hinata mengerucut bibir merasa bersalah melihat lutut kakinya berdarah akibat dia sendiri salah melangkah. Naruto kini sedang membantu gadis itu membersihkan lukanya bersama Tenten. Kakashi dan Yamato berada paling depan beserta guru-guru dan murid-murid lain, mereka terpaksa harus berhenti berjalan dulu, karena salah satu siswi terluka. Itulah kenapa Hinata merasa bersalah, padahal ini liburan bersenang-senang, malah dirinya membuat rombongan berhenti jalan. 

Tenten menarik senyum ketika selesai menempel perban di luka Hinata, berbeda dengan Naruto yang menatap khawatir pada Hinata. 

"Sudah lebih baik?!" tanya Naruto menatap iris abu Hinata. 

Hinata mengangguk singkat, kenapa dia tiba-tiba merasa berdebar di dadanya ketika di tanyakan keadaannya oleh Naruto? Dia merasa pemuda itu memperdulikannya. "I-iya." jawab Hinata gugup. 

Tenten melihat Naruto, yang kini membantu Hinata berdiri dengan merangkul tangan Hinata ke pundaknya untuk menuntun gadis itu berjalan. Seketika itu Tenten mengembang senyum. Apakah ini sebuah awal yang bagus? Dia sekedar merasakan 1% Naruto sudah mulai memberi perhatian untuk Hinata. 

Naruto belum kunjung pergi ke barisan, begitu melihat Tenten menunduk merapikan kotak P3K sendiri. Jadi dia merasa tak enak hati. "Eeh!... Tenten maaf ya, tak membantu mu merapikannya."

Tenten mengakat tangan ke udara, kalau dia sama sekali tidak keberatan. "Tenang saja." 

"Tolong ya." 

Angguk Tenten mengatur bekas obat, kasa, dan perban yang semulanya dipakai. Neji melihat kesibukan gadis berambut sanggul dua itu pun mendekat. "Mau ku bantu?" 

Tenten menegada kepala menatap Neji sekilas. "Tidak perlu, lagi pula sudah mau beres." Itu bukan kalimat cuekan, tapi memang barang-barang dia atur sudah tersusun rapi dan tinggal di tutup kotaknya. Tenten berdiri memberikan kotak P3K itu kepada Neji, menimbulkan raut bingung pemuda itu ketika menerimanya. "Tolong kasih ini ke ketos." jedanya. "Katanya mau bantu kan?" 

"O-ho iya!" 

Tenten mengerut dahi bingung serta heran. Ada apa dengan laki-laki ini? Kenapa responnya terlihat aneh sekali? "Kenapa tuan Hyuga?" 

Neji menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Tiba-tiba dia merasa canggung sendiri. "Ah?... Tidak apa." 

"Kalau kau tidak mau bantu tak usah kalau begitu." ucap Tenten mulai mengambil ulang kotak dia berikan kepada Neji, namun secepatnya Neji menjauhkan benda itu. "Tidak perlu akan ku berikan pada ketos." 

"Ya sudah." mengakat tangan ke udara tanda dia mempercayakan sepenuhnya kota P3K itu pada Neji. Dia pun melewati Neji, meninggalkan pemuda berambut gondrong itu dalam keterdiaman. 

  Sai menutup bukunya ketika selesai mengabadikan menggambar hewan-hewan di kebun binatang ini dengan seksama di sketchbook hariannya. 

"Kau gambar apa?" tanya Ino depan wajah Sai. Seketika laki-laki itu terkejut sendiri menjauhkan wajahnya dari hadapan gadis pirang blonde tersebut. 

"Astaga!" mengusap dadanya naik turun. Sungguh, saking fokusnya menggambar dia bahkan lupa bukan hanya dirinyalah berada di tempat ini. 

Ino terkekeh menutup mulutnya. "Maaf, aku mengejutkanmu ya." duduk di samping Sai. Pemuda itu menggeser memberi jarak lumayan jauh. Ino mengerucut bibir, jelas sekali pemuda pucat itu menjauhinya. "Kalau kau jauh-jauh begitu, suatu hari nanti kau bakal dekat-dekat dengan ku terus." 

Suki [Sasusaku] √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang