Suki+14

990 74 7
                                        

Hi my readers!

Thank you banget yang udah pada baca cerita aku dari awal dan sudah beri aku support sama ngeberi votingnya.

Happy reading 💕

***

  Naruto duduk termenung meratapi pria berambut putih panjang terbaring tak sadarkan diri di atas brankar. Alat-alat bantu seperti oksigen, infus, dan pendeteksi detak jantung serta nadi, menjadi harapan satu-satunya untuk membantunya tetap hidup. Tetesan bening sedari tadi keluar kini membekas di bawah pelupuk mata, sebab sudah terlalu lama dia menangis sampai mata dan hidungnya terlihat masih membengkak.

Semenit kian berganti, suara pintu perlahan di buka di balik punggung tak jauh dari pemuda itu. Naruto mengetahui Hinata masuk, tapi dia tidak berniat menanggapinya. Dia sudah terlalu terpukul, bahkan merespon pun dia tidak bisa.

Hinata datang membawa dua air mineral serta dua roti untuk mengisi perut. Sedari tadi mereka menunggu Jiraiya siuman sampai lupa mengisi tenaga, jadilah dia berniat pergi ke supermarket terdekat untuk membeli kebutuhan perut.

Hinata memberikan sebotol air mineral depan wajah Naruto. "Minumlah dan makan, kau harus mengisi tenaga mu." Tak ada respon, membuat Hinata menarik nafas panjang. Dia sungguh sedih, serta khawatir melihat keadaan Naruto yang terlihat kacau seperti ini. "Ku mohon, setidaknya hanya sedikit." Menyodornya, menekan kata.

Naruto menoleh sekilas keberadaan Hinata menunggunya mengambil botol itu dengan tatapan khawatir dan memohon. Dia bahkan tak terpikir untuk makan, apa lagi memikirkan keadaannya saja dia tidak. Jikalau Hinata tak mengingatkan dan tak menegaskan dirinya untuk makan, pastinya dia tak akan mengambilnya. Sebab yang paling dia utamakan, menunggu sampai pamannya bangun dari siuman dan entah itu akan berapa lama. Naruto menarik senyum tipis menanggapi, mengambil air mineral pemberian Hinata.

"Terimakasih."

Hinata kemudian berlanjut memberikan roti, lalu di ambil oleh Naruto. Gadis itu tersenyum lega melihat Naruto lahap memakan roti serta air meminum pemberiannya. Setidaknya dia tidak perlu khawatir berlebihan memikirkan keadaan Naruto nanti jika tidak makan. Dia hanya tidak ingin pemuda itu jatuh sakit, karena tidak makan.

Kisame seketika terbangun dari tidurnya di salah satu sofa malam ini dalam kamar rawat, ketika mendengar suara gelas kaca baru saja terjatuh ke lantai. Mata Kisame seketika melebar-terkejut, mendapati Itachi telah berada di lantai bersama serpihan gelas mengenai punggung tangannya yang berusaha menumpu tubuh dan kepalanya agar tak terbentur, bahkan tangan kiri terpasang selang infus ikut terlepas. Darah merembes mengotori lantai dari bekas jarum infus yang keluar, begitu pula tangan yang terluka terkena serpihan gelas kaca.

"Itachi!" teriak Kisame buru-buru memegang kedua bahu Itachi untuk segera membantunya berbaring kembali ke atas brankar. Wajah Itachi terlihat sangat pucat dari balik helai rambut menutupi wajah, tangan Itachi terangkat memegangi dada-menahan suatu rasa sakit sangat menyakitkan berada di sana. Kisame cepat menekan tombol darurat untuk memanggil perawat.

"Itachi bertahanlah sebentar, perawat akan segera datang!" Mengguncang pelan bahu Itachi mulai kehilangan kesadaran.

Kisame berdiri sambil bersandar di dinding koridor menatap kamar rawat Itachi berada dengan perasaan cemas bercampur aduk. Sudah sejam ia menunggu, namun dokter serta perawat berada di dalam belum kunjung keluar. Kakinya tak hentinya bergerak cemas, bahkan kini tanpa ia sadari mondar-mandir di lorong koridor yang sudah memang sunyi, sebab jam besuk sudah selesai beberapa jam yang lalu.

Suki [Sasusaku] √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang