Happy reading 💕
***
Sasori membuang nafas untuk sekian kalinya mendengar penjelasan Sakura, bahkan ia hanya bisa diam tanpa menyela, walau hatinya seketika terasa ditindih sesuatu yang berat. Mata Sasori sesekali melihat pribadi berdiri tak jauh memandang mereka berdua dengan tatapan serius. Seakan antisipasi kalau saja dia melakukan sesuatu bisa menyakiti Sakura.
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?!" Rasa kecewa itulah Sasori rasakan sekarang. Rasanya ingin marah, tapi dia tidak berhak pada seorang gadis kini menatap balik matanya dengan sendu. Menunjukkan betapa sangat bersalah dan meminta maaf padanya.
"Maaf kak." Menunduk lesu. Sakura tidak sanggup menatap Sasori, saking bersalahnya.
Sasori memijat pangkal hidungnya, dia bahkan tidak tahu lagi harus berkata apa lagi pada Sakura. Padahal dia sudah terlanjur menyukai gadis itu. Namun kenyataan keluar semua dari belah bibir Sakura, membuatnya tak bisa berpikir apa-apa, selain menerima fakta yang ada. Dari saksi berdiri di kejauhan menahan untuk tak ikut campur dalam dua argumen mereka.
"Aku sebenarnya ingin mengatakannya dari semenjak kak Sasori mengajak ku ke Suna dan aku menolak ikut pergi denganmu. Sebenarnya ada ingin aku katakan, tapi terlalu berat bagi ku untuk bersuara." menarik nafas. "Jadi aku pikir lebih baik menunggu selesai musim panas ini, lalu berbicara dengan kak Sasori." Sakura menggeleng lemah. "Tapi ternyata malah bertemu di hari tak tepat seperti ini." jedanya. "Karena sudah terlanjur, lebih baik aku mengatakannya, aku juga tidak bisa terus diam, rasanya hati ku tidak akan tenang!"
"Maaf kak!"
Sasori melirik pemuda berseragam basket itu terus menatap kemari. Pemuda itu tidak ingin mengalihkan perhatiannya ke arah lain, saking tak mau terjadi sesuatu pada Sakura. "Apa kau sangat mencintainya Sakura?"
Seketika kepala Sakura terangkat mantap Sasori yang melihat perawakan Sasuke. Mata gadis itu sedikit berkaca. "I-iya."
Sasori mengulas senyum, lembut mengusap kepala Sakura. Gadis berambut merah muda itu berkedip bingung tiba-tiba Sasori memperlakukan nya begini. Bukannya laki-laki itu harus marah? Mengingat dia sudah bersalah besar padanya.
"Aku akan mengakuinya kalau aku suka pada mu Sakura." Menyelipkan helai rambut kecil menempeli pipi gembil gadis itu hati-hati. "Tapi, aku tidak akan bisa suka pada gadis yang menyukai orang lain."
"M-aksud kakak?"
Apa gadis itu sebegitu polos? Apa dia perlu mengulangi katanya barusan? Tapi bila lihat ekspresinya, gadis itu agaknya sedikit terkejut dengan pernyataannya. Jadi Sasori akan mengulang katanya, namun lebih pendek.
"Aku tidak suka gadis menyukai laki-laki lain." menarik nafas. "Jadi kalau kau menyukainya aku bisa apa?"
Sakura menaik alis serempak tak menyangka, jika Sasori sudah menyerah padanya begitu saja. Saking tidak menyangkanya Sakura masih terpaku dalam pikirannya.
"Mau sampai kapan kau begitu?" Menarik pipi Sakura gemas, agar gadis itu sadar dari lamunan dalam pikirannya.
"Aw! Kak!" Kaget Sakura memegangi pipinya yang dicubit.
"Pergilah sana, pacarmu itu sedari tadi menatapku terus, seakan ingin memangsaku."
"Kak! Hanya begitu saja?!"
"Lalu harus bagaimana?" tanya Sasori menyilang tangan depan dada.
"Kak tak marah pada ku gitu?!"
Sasori memijat pangkal hidungnya. Bisa-bisanya Sakura tak paham dengan semua sudah dia katakan. Padahal maksudnya sudah sangat terdengar jelas, dan dia masih menunggunya marah dulu? Sasori menyentuh kedua pundak Sakura, bermaksud agar gadis itu menghadapnya. Sakura sedikit terkejut mengangkat tangan terkepal depan dada. "Haruskah? Aku tidak bisa marah padamu. Jadi pergilah sana." Membalikan tubuh Sakura lalu mendorong gadis itu pergi pada laki-laki sedari tadi menunggu gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suki [Sasusaku] √
FanfictionEND [Complete] Naruto menunjuk dada Sasuke kasar dengan menusuk tatapan tajam, terlihat jelas urat pada leher dan rahang mengeras. Memperlihatkan betapa muaknya dia pada laki-laki ini. "Kalau kau menyukainya, seharusnya dari awal kau tak menolaknya...
![Suki [Sasusaku] √](https://img.wattpad.com/cover/338670861-64-k723551.jpg)