Suki+13

1K 74 2
                                        

Happy reading 💕

***

  Tahun telah berganti ke tahun ke 2 yang di mana semua murid Konoha high school anak kelas 3 kini mendapat kelulusan mereka. Senyum keceriaan, tawa, dan rasa bangga telah menyelesaikan pendidikan selama 3 tahun selama ini tidaklah sia-sia, semua rasa lelah itu sudah terbayar lunas. Mereka tinggal menempuh ke jenjang pembelajaran lebih serius di universitas pilihan masing-masing untuk mendapat sarjana.

Semua murid kini di akhir kelulusan mereka tak lupa mengabadikan foto, termasuk Sakura serta sahabatnya. Melepas rindu dari mengambil gambar melalui kamera Gaara, pemuda itu selalu saja jika ada acara atau liburan tak lepas membawa kameranya kemana-mana. Tidak heran selalu dibawa, katanya dia ingin menjadi seorang fotografer suatu hari nanti. Selesai Sakura dan sahabatnya berfoto di lanjutkan dengan Sasuke serta sahabatnya yang lain, kemudian berakhir foto random.

"Itachi!"

Kejut Kisame berlari cepat mendekati Itachi. Pemuda itu memegang ujung meja kerjanya sambil berlutut lemah di atas lantai marmer, tangan satunya lagi menutup mulut, menahan batuk-batuknya tidak kunjung berhenti. Terlihat darah keluar merembes dari selah-selah jari, membuat jantung Kisame berdebar tak karuan melihat kondisinya. "Kita pergi kerumah sakit sekarang!" Kisame memegang bahu Itachi panik, lalu mendukung pemuda itu keluar menuju lahan parkir mencari mobilnya. Itachi terlunglai pasrah di atas dukungan.

Kisame terburu-buru berlari ke penghujung koridor rumah sakit, sampai berteriak-teriak memanggil dokter tak tentu arah di mana, letak, dan tempat dokter berada. Kisame terlalu kalut dengan keadaan, hingga sulit untuk berpikir jernih. Keadaan Itachi sekarang tidak sadarkan diri, menambah rasa guncangan ketakutan tiba-tiba datang dalam dirinya.

"Dokter!"

Kisame membentur pelan dagu Itachi dengan bahunya. Dia sangat takut, jika laki-laki itu tak kunjung membuka mata, pikiran negatif berkelana menyerang pikiran kacaunya. Dia tak ingin pikiran selama ini dia hindari terjadi, dia sangat tidak ingin mengingatnya, tidak akan. Hatinya belum siap!

"Itachi! Bangun!"

"Permisi tuan!"

Seperti ada harapan yang datang untuk Kisame begitu mendengar suara seorang perawat memanggilnya.

"Tolong teman saya sangat butuh perawatan sekarang!"

"Ayo tuan!" Perawat itu menuntun jalan Kisame dengan berjalan lebih dulu paling depan, ke salah satu ruangan UGD yang sudah dipersiapkan brankar di samping dua belah pintu. Kisame mengikuti instruksi perawat menidurkan Itachi di atas brankar, lalu perawat lain datang membantu mendorong brankar beroda tersebut masuk kedalam ruangan UGD. Kisame bernafas lega melihat lampu UGD berubah hijau begitu Itachi dibawa masuk, walau perasaannya masih pasang surut dengan kondisi Itachi.

Kisame mendarat bokongnya di salah satu kursi tunggu di ruang koridor, menunduk meratapi lantai putih rumah sakit. Sudah sekian menit menunggu bahkan sebentar lagi berubah sejam, akhirnya suara pintu ruangan UGD di buka, Kisame langsung beranjak dari kursi mendengar suara pintu dibuka, melihat seorang dokter mendekati dirinya.

"Kerabatnya?"

Kisame ditanya pun cepat mengangguk kepala, dia sudah tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan Itachi.

Dokter itu mengembang senyum. "Kerabat anda baik-baik saja, untung anda membawanya cepat ke rumah sakit."

Kisame langsung bernafas lega mendengar kabar baiknya.

"Tapi kerabat anda harus rawat inap di rumah sakit." Menarik nafas dalam. "Badannya lemah, jadi tidak kemungkinan memakai kursi roda."

  Keesokan hari langit tampak cerah dengan matahari menyengat mata—menyilaukan pandangan, sebab cahaya masuk dari kaca jendela yang tak tertutupi tirai, tangan itu terangkat menghalau silaunya. Itachi, pemuda itu sedang duduk diam melihat pemandangan luar taman rumah sakit. Tak ada ekspresi cerah dari raut wajahnya, setelah belum lama ini siuman dari tidurnya.

Suki [Sasusaku] √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang