Happy reading💕
***
“Selamat sore dengan nona Sakura?" tanya seorang pria berseragam kurir depan rumah Sakura. Gadis itu belum lama tiba di rumah dengan seragam sekolah. Di baru pulang sekolah. Kurir itu menyunggingkan senyum.
"Iya?" sahut Sakura terheran. Padahal dia tak memesan barang apa pun di online? Kenapa seorang kurir pengantar barang berada depan rumahnya? Jadi tanda tanya, besar dalam kepalanya.
"Saya mengantarnya atas pengantar bernama?" kurir itu mengecek nama sang pengirimnya. "Bernama Sasori Akasuna." akhirnya memberikan sebuah paket berbentuk kotak kecil berukuran sedang. Kurir itu mengeluarkan pena dan kertas daftar para nama penerima dalam tasnya untuk di tanda tangani. Bukti selesai mengirim barang.
Selesai Sakura tanda tangani. Kurir itu sumringah. "Kalau begitu saya permisi nona. Terimakasih sudah bekerjasama." menunduk memberi hormat, Sakura pun membalas. Kurir itu pergi membawa mobil box berwarna putih. Tangan Sakura memutar kotak terbungkus plastik hitam. Penasaran isi barang apa yang dikirim dari Sasori.
Sakura mengambil gunting dalam laci meja belajar untuk memotong plastik membungkusi seluruh kotak. Duduk sambil mencari celah yang bagus untuk membuka. Tangan itu tak sabaran, namun tetap berhati-hati membuka kotak-agar tidak rusak. Dia tidak menahu, di dalam merupakan benda mudah pecah atau tidak? Jadi harus pelan. Sakura menarik plastik keluar, membuang nafas lega, akhirnya pengganggu menempeli kotak akhirnya memunculkan kotak sesungguhnya.
Suara notifikasi ponselnya menjadi perhatiannya. Tepat sekali, barang kiriman orang tersebut sedang dia buka. Dia hampir lupa dengan itu, saking penasaran dengan isinya.
Sasori: Bagaimana kiriman oleh-oleh dari ku? Kau suka?
Sakura menyungging senyum, walau jujur dia tidak memiliki perasaan dengan Sasori. Sakura menganggap orang itu sebagai teman, sama hal seperti Naruto. Dia tidak ingin, hanya karena perasaan tak terbalas, hubungan mereka jalani selama ini putus. Sakura belum membicarakannya dengan Sasori, dia butuh secara langsung untuk bicara, tidak baik berbicara melalui telepon, lebih baik berbicara secara langsung. Selesai nanti setelah Sakura jujur kepada Sasori atas perasaannya, dia juga harus bicara pada Temari yang tidak tahu apa-apa. Padahal temannya baik membantu mencari pacar untuknya.
Sakura: Sedang ku buka kak.
Sasori: Bilang pada ku nanti, bagaimana hadiahnya setelah kau buka. Apakah kau suka atau tidak.
Sakura: Iya kak tenang saja.
Sasori: Ada surat ku juga di dalam amplop, kau bacalah. Tapi tak usah beritahukan pada ku.
Spontan Sakura terkekeh pelan dan singkat. Apa sesuatu yang ditulis oleh Sasori sampai bilang tidak usah memberitahu kan padanya? Padahal dia tak terpikir sampai situ. Tangan lentik Sakura membuka hati-hati suatu barang berada di dalam yang tertutupi oleh confetti. Mata gadis itu melebar binar, memegangi sebuah kalung bunga Sakura dan tak lupa sebuah surat berada di sana ia keluarkan. Apa yang tertulis di selembar kertas putih itu sampai Sasori memperingatinya tak usah memberitahukan pada dia? Tulisan tertulis juga tidak panjang dan tidak singkat, hanya seperti surat kata kalimat pendek.
Aku mengobrol bersama nenek, ia bertanya kalung yang kubeli berbentuk bunga sakura ini untuk siapa? Dan aku menjawab kalau kalung ini untuk orang paling spesial dalam hidupku. Nenek ku sangat senang begitu tau dari mulut ku. Beliau berkata, jika ada waktu ia ingin bertemu denganmu langsung, padahal hanya melihat kalung itu saja, Nenekku ingin melihat rupa gadis yang ku anggap spesial itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suki [Sasusaku] √
FanfictionEND [Complete] Naruto menunjuk dada Sasuke kasar dengan menusuk tatapan tajam, terlihat jelas urat pada leher dan rahang mengeras. Memperlihatkan betapa muaknya dia pada laki-laki ini. "Kalau kau menyukainya, seharusnya dari awal kau tak menolaknya...
![Suki [Sasusaku] √](https://img.wattpad.com/cover/338670861-64-k723551.jpg)