23. New Chap

1.5K 207 44
                                    

.

Siwon berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Ia tidak patah semangat kala Yoona menghajarnya dengan kata-kata tajam yang tertancap langsung ke dadanya. Yoona melarangnya bertemu Taehyung dan ya ia sama sekali tidak memaksa, satu-satunya sarana ia dan putra bungsunya berbincang adalah melalui telepon genggam mereka masing-masing.

Ia selalu menanyakan bagaimana kabar anak bungsunya, bagaimana perkembangan Taehyung setiap pulang terapi dan masih banyak lagi.

Yoona juga melarangnya mengantar Taehyung untuk terapi, pria itu juga menyetujui Hal tersebut. Tapi, Yoona tidak akan tau kan kalau dia pergi diam-diam?

Jadilah ia pergi ke rumah sakit diam-diam tanpa sepengetahuan Yoona untuk melihat putra bungsunya melakukan terapi. Ia hanya berdiri di ujung lorong, sesekali bertatapan langsung dengan manik hazel milik Taehyung dan sontak memberi gestur telunjuk didepan bibir, takut anak itu berteriak 'Appa' dan ketahuanlah semua misi diam-diam yang ia lakukan.

Taehyung pun sudah tau betul, setiap terapi ayahnya pasti ada disana, melihatnya dari jauh. Ia sangat menyayangi pria itu, tapi sayangnya ibunya masih belum bisa membuka hati untuk Siwon. Kira-kira sudah satu bulan ayahnya menjadi penguntit, ia baru tau jika ayahnya tipikal orang yang penyabar.

Bayangkan saja, dia tidak pernah memaksa masuk kedalam rumah. Ia akan mengetuk pintu, padahal ayahnya sudah tau Yoona ibunya tidak akan mengijinkannya masuk. Ayahnya akan langsung pulang tanpa memaksa ingin masuk, katanya; "Ibumu pasti akan luluh, appa tidak mau menambah amarahnya dan kita akan semakin lama bertemu."

Taehyung hanya bisa tersenyum. Kini setelah selesai dari ruang terapi, ia mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu untuk ayahnya. Beberapa menit kemudian Yoona datang, mendorong kursi rodanya keluar setelah memberikan kecupan ringan di surai si bungsu.

"Eomma." Taehyung menoleh menatap sang ibu.

"Ne?"

"Tae mau ke toilet, mau cuci tangan." Yoona mengangguk, mendorong kursi roda ke arah kamar mandi. Keduanya berpisah di depan toilet, sisanya Taehyung mendorong kursi rodanya masuk ke dalam.

"Appa!"

Pria tinggi didepan sana menoleh. Ia tersenyum begitu lebar lalu menghampiri anak bungsunya.

"Anak appa, appa sangat merindukanmu nak." Siwon memeluk anak itu erat, mengecup surai madunya lembut.

"Tae juga sangat merindukan appa."

Siwon mengusap surai itu lembut lalu berlutut dihadapan anak bungsunya.

"Bagaimana kabarmu heum?" Taehyung tersenyum kecil lalu menjawab;

"Aku baik, appa."

"Hari ini appa mau ke rumah, ya semoga ibumu mengijinkan ya." Tukas Siwon. Taehyung mengernyitkan dahinya.

"Appa sudah mencoba berkali-kali, kenapa Eomma belum juga mengijinkan appa untuk kembali bersama kami." Ujar Taehyung gusar. Siwon tersenyuk kecil, ia mengusap punggung tangan anaknya.

"Appa akan terus menunggu hingga ibumu bisa luluh. Appa berpikir ini adalah karma akibat kelakuan appa pada anak appa sejak dulu. Appa tidak ingin ibumu semakin jauh dan tidak percaya pada appa, jadi biarkan appa mencoba semampu appa untuk kembali pada kalian." Raut wajah Taehyung menjadi sendu.

"Aku—"

"Taehyung-ah, kau butuh bantuan nak? Kenapa lama sekali?"

Keduanya menoleh ke arah pintu toilet, suara wanita yang sangat mereka kenali menyapa telinga. Taehyung menghela nafasnya, ia menatap Siwon.

Less Sugar [Kim Taehyung]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang