CATATAN:
Halo semuanya! Untuk yang ingin membaca bab lebih cepat dan sampai selesai, kalian bisa kunjungi Karyakarsa-ku. Untuk fanfic di Wattpad, pembaruan kemungkinan hanya akan dilakukan sekali sebulan atau bahkan bisa lebih lama, karena saya perlu fokus menyelesaikan fanfic di Karyakarsa terlebih dahulu. Jadi, bagi yang mengikuti di Wattpad, mohon kesabarannya ya! Terima kasih!
■□■□■□■□■
Keempat temannya sedang membicarakan tanpa henti pasangan mereka, membuat Hinata lebih senang memandangi langit saat menatap ke luar jendela, merasa terhibur sekali melihat tirai putih di kelasnya terbang karena angin.
Tidak disangka-sangka kurang beberapa minggu lagi mereka menghadapi kelulusan. Banyak teman-temannya mulai sibuk belajar untuk masuk perguruan tinggi. Sementara Hinata, dia bahkan tidak tahu harus ke mana. Dia tidak terlalu baik menata masa depannya. Nilainya pun turun karena dia terlalu banyak bermain dengan Naruto. Berada di dekat pria itu malah membuatnya mendapatkan kemunduran.
"Hinata, apa sepulang sekolah kamu ikut kami pergi ke karaoke?"
"Tidak mungkin, dia pasti sibuk dengan pacarnya yang tidak pernah diperkenalkan itu."
"Aku tidak punya pacar," kata Hinata, memberitahu mereka kenyataan yang ada. Hubungannya dengan Naruto sebatas bahwa dia menikmati semua itu tanpa status hubungan. Naruto terlalu baik untuk didapatkan. Pria itu harusnya mendapatkan wanita yang pantas daripada dia yang masih SMA, belum lagi dia tidak ingin mempertaruhkan masa depannya yang berharga hanya bermain-main dengan pria itu. "Hari ini saudaraku datang, aku harus bertemu dengannya, kemungkinan besar aku akan ikut dia tinggal di luar kota."
"Apa?" semua temannya terkejut, serentak berseru. "Kamu akan pindah dari Tokyo? Bukankah kamu bakal pergi ke perguruan tinggi?"
"Memang benar, tapi aku akan ikut ujian masuk perguruan tinggi tahun depan. Saat ini, aku hanya ingin menghibur diriku sendiri. Lagi pula aku tidak tahu mau masuk jurusan apa. Aku sudah membicarakannya dengan wali kelas saat konseling terakhir seminggu lalu."
Semenjak Hinata cedera dan tidak bisa lagi ikut senam akrobatik, teman-temannya menjadi sangat sedih.
Hinata adalah gadis pendiam yang tidak mudah menceritakan masalahnya dan kesedihannya kepada orang lain. Banyak dari mereka yang lebih suka menghindari gadis itu karena awalnya Hinata dianggap sebagai anak yang sombong. Namun sebenarnya Hinata adalah gadis yang selalu berterus-terang. Gadis yang tidak suka basa-basi. Dia seorang Otaku, pantas bila anak perempuan lain di sekolah mereka tidak terlalu bisa mengimbangi membicarakan sesuatu dengan Hinata. Akan tetapi ada beberapa yang nyaman bersama gadis itu karena kebaikannya, seperti keempat gadis yang ada di depan Hinata.
"Maafkan aku, teman-teman."
Penyesalan dari Hinata membuat mereka lagi-lagi harus merengut sedih, dan menelan kenyataan bahwa tidak bisa bermain dengan gadis itu lagi.
Sepulang sekolah, sepupunya sudah ada di depan sekolahnya, menunggu kepulangan sejak sejam yang lalu. "Hinata!" pria berambut putih itu membentangkan tangannya. Hinata pergi memeluk sepupunya yang dirindukannya. "Ya ampun, aku kangen. Kamu sudah besar saja ya."
"Apakah kali ini Tante ikut datang kemari?"
"Iya, dia ada di rumah, tapi sebaiknya kita pergi makan malam saja. Bagaimana?"
"Pasti terjadi sesuatu di rumah ya?"
Toneri Otsutsuki, sepupunya, langsung berwajah muram. "Kita pergi mencari sesuatu untuk dimakan saja ya. Aku lapar, tahu. Aku sudah lama tidak datang ke Tokyo. Di sini banyak tenant, tidak seperti di desa tempat tinggalku."
"Tidak. Aku ingin pulang," Toneri masih merengut, dia tidak ingin Hinata tahu kekacauan apa yang terjadi di rumah, maka dari itu dia menjemput gadis itu, dan berharap mereka bisa pergi ke mana pun, lalu pulang setelah kekacauan itu berakhir. "Aku mohon."
"Baiklah, ayo kita pulang, ibuku pasti senang melihatmu tampak sehat."
Di tengah perjalanan itu, Toneri yang lebih banyak menceritakan kesehariannya di kota tempat tinggalnya, seakan-akan mencoba menghibur atau mengalihkan pikiran adik sepupunya itu. Toneri maupun Hinata tahu bagaimana sikap para Tante yang membicarakan uang tunjangan kematian orangtua Hinata. Selama ini uang itu dihabiskan untuk meneruskan usaha turun-temurun, sedangkan ibu Toneri, Kaguya Otsutsuki mencoba yang terbaik untuk kembali membawa Hinata bersamanya daripada tetap tinggal di Tokyo, dan gadis itu amat menderita.
Sesampainya di toko permen tradisional keluarganya—yang hampir bangkrut dan diselamatkan oleh uang tunjangan pendidikannya. Di dalam sana, sudah tampak setengah hancur. Hinata melihat ibu Toneri, Kaguya, sedang mengatur napas dengan rambut berantakan, sedangkan Tante yang merawat Hinata tersungkur dengan menangis.
"Sialan! Kamu menghancurkan masa depan keponakanku! Aku akan tuntut kalian semua ke pengadilan. Aku bahkan tidak punya muka di depan Hiashi begitu aku mati dan bertemu dengannya di akhirat. Aku bersumpah atas nama adikku, aku akan menuntut kalian, bajingan gila!"
Hinata menunduk, air matanya berjatuhan. Tidak lama dari itu dia pergi memeluk Kaguya dari belakang. "Tante, jangan marah. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," katanya dengan suara yang hampir menghilang karena kesedihan. "Tenang. Aku sudah baik-baik saja."
Kaguya melepaskan tangan Hinata dari pinggangnya. Dia pergi ke kamar gadis itu yang bahkan terlihat tidak layak karena seluruh barang-barang di sana sangat tua dan aus. Kaguya segera mengambil koper yang paling besar. Dengan air mata yang mengalir dia membereskan semua pakaian keponakannya dan barang-barang yang terlihat berharga.
"Bawa semua barang yang kamu rasa masih layak. Kalau tidak dibawa juga tidak apa-apa. Tante bakal membelikan barang yang lebih bagus dari semua barang sialan di kamar ini," Kaguya menangis tersedu-sedu.
Di pengadilan dia kalah untuk merawat Hinata karena saat itu suaminya bangkrut. Semua orang menuduhnya, kalau sampai Hinata jatuh ke tangannya, uang tunjangan dan uang kematian itu bakal disalahgunakan oleh keluarga mereka. Tetapi apa sekarang? Semua orang yang berjanji akan merawat Hinata yang malang karena kehilangan orangtuanya justru berakhir mengenaskan.
"Tante tidak bisa membawamu. Maafkan Tante, karena Tante terlambat datang," dia kemudian menarik Hinata untuk duduk di hadapannya. "Mulai sekarang kamu ikut bersamaku. Kamu tidak harus hidup dengan mereka. Bahkan ketika kamu cedera dan tidak bisa menjadi atlet, Tante tidak bisa melakukan apa-apa. Tante sungguh menyesal."
Hinata tidak bisa mengeluarkan semua kalimat yang ingin dikeluarkannya. Sudah sejak lama dia mengutuk tempat ini. Kerabat dari pihak ayahnya yang lain mencoba menguasai tempat ini—ayahnya adalah anak laki-laki pertama yang mendapatkan usaha turun-temurun toko ini, semuanya tampak berhasil dengan inovasi sehingga tidak ketinggalan. Namun semenjak kematian orangtuanya itu, toko permennya mendapatkan kemunduran. Hampir bangkrut dan mau tidak mau Hinata mengeluarkan semua tunjangan itu karena desakan para tante lainnya.
Sebagai seorang anak yang memiliki cita-cita setinggi langit seperti semua anak-anak di luar sana, Hinata malah putus asa dan memilih untuk tidak mengedepankan apa yang paling dicintai sebagai cita-citanya. Jika saja dia tidak memikirkan soal biaya cedera yang dialaminya, dia mungkin masih bisa menjadi seorang atlet karena terapi.
"Kamu tidak perlu memikirkan biaya apa pun—biarkan orang serakah seperti mereka mengambilnya tanpa sisa. Biarkan mereka dikutuk oleh kedua orangtuamu dan leluhur Hyuuga karena sudah membuatmu, cucu kesayangannya menjadi seperti ini. Tante bersumpah bakal membuat mereka membayar semua kesalahan itu di masa depan."
Hinata memeluk Kaguya, kemudian berseru kepada wanita itu. "Terima kasih, karena Tante datang ke sini untuk menjemputku. Aku akan ikut bersamamu dan melupakan Tokyo yang membuatku menderita."
■□■□■□■□■
BERSAMBUNG
KAMU SEDANG MEMBACA
STRICTLY ✔
Fanfiction✿ Baca cepat di Karyakarsa Suatu hari, seorang pria dan wanita yang berhubungan tanpa status memilih untuk mengakhiri hubungan tersebut dan berjanji untuk tidak saling mengenal. Sedangkan salah dari mereka memutuskan untuk menikah. Namun, apakah pad...
