CATATAN:
Jangan lupa dukungan dalam memberikan vote, itu berarti membuatku sadar, banyak yang menunggu cerita ini, maka sudah sepantasnya aku memanjakan kalian dengan memublikasikan setiap bab dengan waktu yang lebih cepat.
■□■□■□■□■
Perkataan Gaara membekas di benaknya sampai terbawa di pertemuannya dengan Hinata pada pekan yang ditunggu-tunggu olehnya.
"Naru, kamu kurang tidur ya?" dia memang kurang tidur, tidak bisa ditutupi, matanya pasti terlihat memerah sekarang. "Apa sebaiknya kita pulang saja? Atau, kita mencari tempat untuk istirahat? Ada hotel 500 yen di seberang sana, dekat dengan Klub Hostess."
"Aku memang kurang tidur, tapi ini sudah biasa."
"Kalau dipaksa nanti membuatmu tidak nyaman. Orang kurang tidur biasanya akan berdampak bagi mental mereka, kamu bakal mengalami serangan stres," Naruto merapikan rambutnya tiba-tiba. Ini bukan serangan stres lagi, dia sudah mengalami depresi tanpa sadar karena pekerjaannya, juga baru-baru ini kehidupan asmaranya. Ia melirik gadis di depannya. "Kita pesan 1 jam untuk istirahat, bagaimana? Kalau kamu nyaman dengan tempatnya, kamu bisa menambah jam untuk tidur lebih lama."
Apakah sebaiknya dia pergi ke hotel murah itu?
Naruto tampak ragu, bukan karena dia merasa malas untuk mengambil istirahat sejenak. Masalahnya, dia tidak pernah tidur di tempat semacam itu. Ada banyak keragu-ragukan yang sedang diperdebatkan di dalam benaknya. Ia tidak cukup merasa aman tinggal di ruangan sempit, hotel per jam dengan harga yang sangat tidak masuk akal membuatnya berkeringat dingin. Kalau dipikir-pikir, apa mungkin temannya pernah tinggal di tempat yang kurang layak semacam itu?
"Berapa kali kamu datang ke hotel 500 yen?"
Hinata memandangi Naruto heran. "Untuk apa aku harus pergi ke sana?"
"Kamu tidak pernah pergi ke sana?"
"Aku punya rumah," dia tertawa geli. "Memang paling nyaman tidur di rumah."
Gadis itu memang benar, lebih nyaman kalau tidur di rumah, tetapi pekan yang ditunggu akan berakhir dengan cepat. Ia mencermati wajah Hinata yang putih pucat. Tulang pipinya kadang memerah, itu tampak manis, membuatnya tergila-gila. Hidungnya yang mungil, tampak lucu, ingin sekali mengecup walau sekali saja. Tapi yang dilakukannya tanpa persetujuan pasti akan jadi masalah besar.
"Kenapa?"
"Kamu gadis yang cantik," Hinata merapikan penampilannya, dia terkesima mendengar pujian tersebut. "Apa kamu ingin membeli sesuatu? Ehm, seperti gaun? Aku pernah melewati toko busana, di sana ada manekin yang mengenakan gaun putih musim panas. Sejenak, aku terpaku pada manekin tersebut, aku dapat membayangkan kalau itu kamu—ya, aku berpikir kamu akan cocok mengenakannya."
Hinata tidak pernah memikirkan untuk mengenakan gaun. Pakaian sejenis gaun tidak terlalu bebas untuknya. Dia lebih suka rok panjang selutut, kaus yang nyaman, dan jaket rajutan yang dibuatnya sendiri. Tanpa sadar tangannya merapikan penampilannya yang mungkin terlihat kampungan bagi pria paling modis yang ditemuinya sekarang.
Setengah sadar, tatapan Hinata menilai penampilan Naruto, pria yang memiliki rambut pirang dipotong rapi, alisnya lebat menggambarkan ketegasan, bulu mata yang lentik, lalu kedua bola mata berwarna biru cantik—penampilan sempurna itu harusnya mendapatkan tempat di hati banyak gadis. Tapi mengapa pria itu bersikap kurang pergaulan seolah banyak yang bosan berada di sekelilingnya. Apa karena pria itu berlagak seperti Otaku yang memperlihatkan sisi membosankan?
Hampir tidak ada yang ingin berurusan atau memiliki hubungan dengan seorang Otaku, dunia yang amat berbeda dari kebanyakan orang di luar sana untuk menyukai sesuatu dengan sewajarnya.
"Bagaimana kalau kita makan siang di The Ritz?"
Hinata terperangah mendengarnya. "Bukankah itu hotel bintang 5?" dia bertanya kenapa pria itu menawari untuk pergi ke hotel, bukannya mencari tempat makan di sekitar Akihabara saja. "Apa pasti kamu lebih nyaman istirahat di sana daripada hotel 500 yen, 'kan?"
Naruto mengangguk. "Sebenarnya, aku mendapatkan voucher menginap gratis di The Ritz dari temanku selama semalam. Sayang sekali, aku tidak tahu dan tidak punya alasan untuk menginap di sana. Apa kamu mau menginap bersamaku?"
"Hanya tidur biasa?"
"Betul, hanya tidur biasa."
Senang sekali kalau punya pengalaman tinggal di tempat yang bagus seperti The Ritz, meskipun tidur di kamar yang biasa-biasa saja, pasti tempat itu jauh lebih bagus dari hotel 500 yen per jam.
Penampilan Naruto menggambarkan kalau pria itu tidak pernah berada di tempat kurang layak. Hinata tidak terlalu mahir menilai, tapi dari sikap dan penampilan, Naruto bukanlah dari kalangan yang bisa datang ke tempat-tempat yang tidak jelas.
Entah setan mana yang berhasil membuat Hinata setuju untuk datang ke The Ritz siang itu. Apa mungkin karena rasa kasihan?
Naruto tampak lelah, wajahnya terlihat jelas kalau dia butuh setidaknya kasur nyaman untuk merebahkan diri sesaat. Pria itu pasti memaksakan diri untuk pertemuan mereka pekan ini. Mana pun itu, Hinata tidak peduli lagi, keinginannya sekarang ingin menemani Naruto istirahat sebentar.
Sampai di dalam kamar, di salah satu unit yang The Ritz miliki, Hinata menemukan bahwa kamar itu bukanlah kamar ekonomis yang ada di benaknya selama ini.
Sebuah suite yang mahal dan semalam mungkin saja bisa membayar untuk apartemen kelas menengah selama sebulan. Bukan lagi apato kumal yang ruang tamu dan kamar menjadi satu bagian.
Hinata bahkan tak berani untuk melangkah masuk karena semua yang ditemuinya tidak membuatnya nyaman, dan sepertinya ini tidak nyata.
Bagaimana kalau dia juga harus ikut membayar tempat semahal ini? Tanpa sadar itu membuatnya menghela napas tidak percaya.
"Masuklah, kita bisa pesan makan siang."
Hinata melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Dia jadi tidak enak kalau terang-terangan tidak nyaman.
Orang beranggapan barangkali mereka mungkin saja berniat bercinta lantas membutuhkan tempat paling nyaman dan mewah untuk menghabiskan waktu kencan mereka di akhir pekan. Hotel adalah tempat yang cocok untuk bercumbu bersama pasangan, tetapi mereka bukanlah pasangan yang harus melakukan hal itu sekarang.
"Apa aku boleh tidur sebentar? Mungkin satu jam. Di sana ada interkom dan buku menu layanan kamar, kamu bisa memesan sesuatu untuk makan siangmu. Pesan apa saja yang kamu mau."
"Kenapa kita tidak akhiri saja pertemuan ini? Kamu bisa istirahat, dan mungkin lain kali kita bisa bermain bersama."
"Oh, itu," Naruto mengambil duduk di tepi ranjang. "Aku hampir tidak punya teman untuk pergi main—teman yang benar-benar membuatku nyaman. Pekan adalah waktu yang aku tunggu-tunggu. Aku senang bertemu denganmu, maka dari itu, aku tidak ingin hari ini berakhir begitu saja karena rasa lelahku. Apakah pergi ke hotel tidak membuatmu nyaman? Aku tahu, ini sedikit kurang pantas, tapi aku tidak punya niat buruk padamu."
Hinata tersenyum kecil, dia lalu mengangguk. "Aku mengerti. Istirahatlah, aku akan melihat buku menu untuk memesan makanan. Aku pastikan kamu tetap melihatku begitu membuka mata lagi setelah tidur siang."
Tidak lama dari itu Naruto segera melepaskan mantel dan sepatunya. Ia dengan cepat terlelap setelah membaringkan badannya, karena mengantuk dan sangat lelah luar biasa oleh pekerjaan sejak dua hari belakangan. Belum lagi, dia bertengkar dengan ayahnya semalam karena pria itu membawa pulang seorang wanita tak dikenal.
■□■□■□■□■
BERSAMBUNG
KAMU SEDANG MEMBACA
STRICTLY ✔
Fanfiction✿ Baca cepat di Karyakarsa Suatu hari, seorang pria dan wanita yang berhubungan tanpa status memilih untuk mengakhiri hubungan tersebut dan berjanji untuk tidak saling mengenal. Sedangkan salah dari mereka memutuskan untuk menikah. Namun, apakah pad...
