Si Gadis Hujan

21 4 0
                                    

Deru nafasku memburu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Deru nafasku memburu. Langkah berat ku ayunkan memasuki kelas 11-1 yang masih sepi. Segera ku duduk dan mengeluarkan sebuah buku paket tebal. Aku terdiam memikirkan kalimat yang terucap dari bibir Kak Samudra beberapa menit lalu. Beberapa detik kemudian aku merasakan kepalaku berdenyut dam relung hatiku terasa sakit. Aku membutuhkan Maraka, pikirku dalam hati.

Tak lama kemudian rangkaian benang kusut di otak ku dibuyarkan oleh getaran benda pipih yang dilapisi cover silikon hitam persis seperti punya Kak Eric.

Kak Eric
U Okay? 06.09
Read

Kuhembuskam nafas berat dan hanya mengabaikan pesan dari Kak Eric. Niat belajar ku seketika lenyap, ntah kemana. Kini berganti menjadi tatapan nanar. Mengingat kejadian barusa. Kalimat Kak Samudra kembali terputar di otak ku.

'Kenapa hanya aku yg mempunyai nama belakang yang sama dengan Kak Samudra? Kenapa Rajendra? Kenapa Kak Eric dan Kak Yanuar tidak memiliki nama itu?' pikirku.

Kak Eric
Ra 06.10
Kamu tenang ya 06.10
Ku pastikan Samudra tidak akan menganggumu lebih jauh 06.11
Maaf aku tidak tau akan hal ini 06.11
Read

Sekali lagi kuhembuskan nafas berat. Sesak. Rasanya sesak sekali hingga tanpa sadar tangan ku memukul kepalaku. Berharap agar untaian kata-kata dikepalaku segera terhenti. Hingga sebuah tangan menghentikan ku yang seketika membuatku mendongak. Ku tatap nanar sosok berambut pirang yang menatapku dengan tatapan khawatir, Kak Eric.

"Pergi," ucap ku dengan suara bergetar. Namun, sepersekian detik kemudian kurasakan sebuah usapan dipuncak kepalaku.

"Cuci muka, sebelum yang lain datang," ucapnya singkat sambil memberikan hoodie hitam yang biasanya ia pakai. Sedangkan aku hanya diam kemudian memakai hoodie yang kebesaran tersebut dan menggunakan penutup kepalanya untuk menutupi wajahku yang nampak kacau. Setidaknya orang lain tidak boleh tahu, pikirku.

***

Hujan. Rintik kesedeihan kembali menghujam. Ditengah guyuran hujan aku melangkahkan kaki ku menyusuri trotoar Jalan Ahmad Dahlan yang nampak sepi. Mendung dan hujan yang memanyungi kota yang masih kental akan budaya dan keratonnya ini  membuat tidak ada seorang pun yang mau berkeliaran diluar rumah. Namun, itu tidak berlaku padaku. 

'Untung saja tas ku kedap air,' gumam ku dalam hati. Kaki ku terus melangkah hingga tiba disebuah taman kecil dan di sini lah, di bawah hujan aku duduk di ayunan kayu yang bergelantung manja dibawah penyangga besi yang sudah mulai berkarat. Diam dan membiarkan air hujan membasahi tubuhku dan berharap isi otakku ikut menghilang bersama dengan air hujan.

Untaian kalimat yang keluar dari mulut Kak Samudra kembali terputar diotak ku. Rajendra, sebuah nama yang terus berputar dan membuat ku seperti jauh. 'Kenapa hanya aku yang memiliki nama Rajendra?' lagi-lagi kalimat itu membuatku terisak. Badanku bergerar, menggigil. Rupanya tubuhku mulai mengirimkan sinyal bahwa aku harus segera menghangatkan diri. Namun, aku hanya diam ditengah guyuran hujan yang semakin deras. 

Hingga sepasang kaki berdiri di depan ku dan guyuran hujan tiba-tiba berhenti. Seketika aku mendongak dan netra maduku bertabrakan dengan manik mata hitam. Kutatap lamat-lamat pemuda yang memiliki garis wajah lembut dengan kulit tan khas dengan surai madu yang nampak tidak asing. 

'Ah, dia yang waktu itu di kedai,' ucap ku dalam hati.

"Berada di tempat terbuka ketika hujan seperti ini tidak baik untuk kesehatanmu," suara lembut itu kembali mengalun tanpa permisi di sela-sela suara air hujan yang menghantam baskara. 

"Tubuhmu mulai menggigil. Ikutlah dengan ku, di sana ada sebuah kedai yang menjual sari jahe," ujarnya kemudian tanpa permisi menarik tanganku untuk mengikutinya berjalan menuju kedai yang dimaksud tadi. 

Menyadari tatapan kosong ku yang bahkan hanya diam dan menurut hingga kini, kami. Ya, aku dan pemuda hujan ini berada di salah satu bilik kedai yang menjual berbagai minuman yang cocok untuk musim penghujan seperti ini. Suasana diantara kami benar-benar hening. 

"Setidaknya lepas dulu jas almamater mu yang basah itu," ucapnya dan yang ku sadari remaja laki-laki itu kini menggunakan pakaian yang lebih casual dibanding sore itu. Hoodie abu dengan belakang yang terkena hujan sudah ditanggalkan, meninggalkan kaos putih tipis yang membalut tubuhnya dengan training abu tua yang sangat cocok dengan surai cokelat madu miliknya.

"Kamu suka hujan?" tanyanya setelah aku melepas jas almamater merah ku dan hanya menyisakan kemeja putih setengah basah dengan ujung lengan bewarna merah yang menunjukkan bahwa identitas jurusan yang ku ambil.

"Tidak, tetapi aku juga tidak membencinya," jawabku seadanya.

"Dua kali aku melihatmu basah karena hujan dan kali ini lebih parah. Oiya, aku Haidar Chandra Yudhistira, kamu bisa memanggilku Haechan," ucapnya sambil memamerkan senyum manis khas miliknya. Senyum yang kala itu kulihat. Kini aku melihatnya lagi dengan lebih jelas.

"H-hai, a-aku..," ucapanku terpotong.

"Keyra Kanaya? Si gadis hujan. Aku masih mengingat namamu hahah," ucapnya dengan tawa manis di akhir kalimat. Sungguh hangat, pikirku. 

Perbincangan singkat kami diakhiri dengan nada dering yang berasal dari dalam tas milikku yang bersamaan dengan minuman susu jahe hangat yang dipesan oleh Haechan.

Perbincangan singkat kami diakhiri dengan nada dering yang berasal dari dalam tas milikku yang bersamaan dengan minuman susu jahe hangat yang dipesan oleh Haechan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Si gadis hujan

26th July 2023

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

26th July 2023

Tentang Rasa || Kim SunwooTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang